
Pagi-pagi sekali Bella dan tante Namira sudah berkutat di dapur bersama para pelayan. Awalnya Bella hanya ingin menyiapkan sarapan untuk sang ayah secara langsung, namun tidak menyangka jika tante Namira pun datang ke dapur juga.
"Ternyata kamu pandai memasak ya," ucap tante Namira, penuh pujian pada sang anak. Ya, gini Namira pun sudah menganggap Bella seperti anaknya sendiri.
Tidak mendapatkan Bella jadi menantu, dia malah mendapatkan Bella sebagai anak, hal yang lebih membahagiakan untuknya. Seolah keluarga Saverun kini benar-benar telah lengkap.
"Nanti saat tante dan yang lainnya pulang ke Singapura kamu ikut ya? kita bersama-sama mengunjungi makam ibumu," ucap tante Namira, ia bicara dengan lembut seraya menghentikan pergerakan tangannya yang sedang memotong beberapa sayuran.
"Iya Tante," balas Bella singkat.
Keduanya lalu kembali memasak hingga semua hidangan tersaji di atas meja makan.
Suasana hangat kembali mereka rasa saat sarapan pagi ini. Bella tidak hanya melayani sang suami, namun ia juga melayani ayahnya dengan baik. Seolah ingin melakukan yang terbaik untuk menebus semua waktu yang pernah hilang diantara dia dan ayahnya.
Selesai sarapan, Azam pamit pada semua orang untuk mengajak Bella pergi ke rumah sakit. Semua orang terkejut mengira jika Bella saat ini sedang sakit, namun Azam dengan cepat menjelaskan jika mereka ingin memeriksakan kandungan Bella.
Sudah ada janin yang tumbuh atau belum.
Selesai mendengarkan penjelasan Azam, semua orang pun tersenyum, lantas berdoa agar Azam dan Bella segara dikarunia keturunan.
Dan disinilah kini Azam dan Bella berada, sudah di dalam mobil yang sedang melaju menuju rumah sakit.
Azam menghidupkan pemutar lagi di mobilnya, mengiringi perjalanan mereka. Bahkan sesekali Bella pun ikut bernyanyi pula.
"Abang," panggil Bella ketika ia ingat sesuatu, tentang rencananya untuk mengunjungi makan sang ibu.
"Apa sayang?" tanya Azam, ia menoleh kearah sang istri setelah menghentikan mobilnya di lampu merah.
Awalnya Bella memang ingin mengucapkan tentang niatnya mengunjungi makan sang ibu, namun ia urungkan saat melihat kedua netra sang suami.
Sedari kemarin, suaminya ini sudah repot selalu mengurus dia dan keluarga barunya. Bahkan hari ini Azam sampai libur bekerja, padahal kini Azam hanyalah karyawan biasa yang diwajibkan masuk kerja jika tidak ada keperluan penting.
"Cium," pinta Bella dengan genit, menyadari itu Bella memutuskan untuk menunda, ia bisa mengatakannya besok atau lusa. Tapi hari ini dia hanya akan membicarakan tentang mereka, juga tentang buah cinta mereka.
"Jangan memancingku," jawab Azam, dengan bibir yang mulai tersenyum lebar. Bella selalu saja bertingkah diluar nalarnya, tidak ada angin dan tidak ada hujan tiba-tiba istrinya itu minta dicium saat ditengah jalan seperti ini.
Melihat suaminya tidak ada pergerakan, Bella pun mengambil alih kendali, mendekatkan tubuhnya pada Azam dan menjatuhkan dirinya di dada bidang sang suami. Melumaat lembut bibir Azam hingga lambat laun Azam membalasnya dengan kasar. Dengan nakalnya pun Bella mengarahkan tangan suaminya untuk menelusup masuk ke dalam baju yang ia kenakan. Di dalam ciuman itu Azam tersenyum, lalu meremaas secara bergantian agar adil.
"Ya ampun, serasa digerebek," ucap Bella tanpa sadar, hingga membuat tawa Azam semakin pecah.
Tak berselang lama kemudian, mereka sampai di rumah sakit. Rumah sakit milik keluarga Malik. Azam dan Bella yang sudah membuat janji temu pun tidak perlu antri untuk menemui dokter kandungan di rumah sakit ini.
Di sana Bella melakukan serangkaian pemeriksaan, sampai akhirnya dokter menyatakan jika Bella benar-benar hamil, dengan usia kehamilan 4 minggu.
Azam dan Bella lagi-lagi mengucap syukur. Dan dokter kandungan itupun mengatakan untuk setiap bulan Bella rutin memeriksakan diri. Azam adalah anak kembar, ada kemungkinan pula Bella akan hamil anak kembar.
Nanti saat pemeriksaan kedua akan kembali dilakukan USG, untuk melihat ada berapa kantung bayi di sana.
Bella makin berdebar, terus ia mengelus perutnya sendiri yang masih rata. Rasanya masih belum percaya jika di dalam perutnya ada kehidupan, bahkan kemungkinan kehidupan itu ada dua.
AA!! Bella rasanya ingin sekali berteriak, saking bahagianya. Juga Azam yang merasakan kebahagiaan yang sama. Azam bahkan langsung memeluk sang istri dan mengecup pucuk kepalanya dengan sayang.
Selesai pemeriksaan, mereka pun memutuskan untuk langsung pulang. Rasanya semakin bahagia ketimbang saat mereka berangkat tadi.
"Aku tidak sabar memberi tahu papa Agra dan mama Sarah," ucap Bella dan Azam pun sama dia sudah tidak sabar memberi tahu ayah Adam dan ibu Haura, karena ini adalah cucu pertama di keluarga Malik, setelah nenek Zahra nenek ada.
"Abang, kita langsung ke rumah mama Sarah ya? eh tidak, kita kan melewati rumah ibu Haura, kita ke rumah ibu Haura dulu," putus Bella setelah sibuk sendiri dengan pikirannya dan Azam menganggukkan kepalanya setuju.
Bella memang nampak tak dewasa, namun pikirannya jauh lebih dewasa dari yang Azam kira. Setiap hari selalu ada hal yang membuat Azam semakin mencintai istrinya itu. Cinta yang semakin lama semakin dalam.
"Cium," pinta Azam saat mereka berhenti di lampu merah.
Bella pun langsung mencondongkan tubuhnya pada sang suami dan keduanya mulai berpaut.
Sesaat mereka merasa jika dunia ini hanya milik mereka berdua. Sampai akhirnya bunyi klakson kembali membuat mereka sadar, bahwa di dunia ini mereka tidak hanya hidup berdua.
Tin!
Tin!!
TIN!!!