Bringing Back, My Wife

Bringing Back, My Wife
BBMW BAB 53 - Mempersulit



Ali terkekeh tanpa suara hingga memegangi perutnya yang sakit. Jawaban Agatha benar-benar diluar nalar. Menjelang perpisahan, Agatha masih saja membicarakan tentang jas itu.


Ali juga tahu tentang abang  Edward dan Agatha, juga jas yang selalu jadi penghubung mereka. Dia pun sudah bisa menebak jika sebenarnya abang Ed memiliki rasa pada kakak sepupunya ini.


Dan selalu memanfaatkan jas itu sebagai perantara.


"Bukan Jas, tapi kamu," ucap Ali yang lagi-lagi tanpa suara. Setelah tawanya mereda ia kembali memberi pengertian pada sang kakak sepupu.


"Aku?" tanya Agatha, seperti Ali yang bicara tanpa suara. Keduanya tidak ingin abang Edward sampai mendengar pembicaraan mereka.


Dan Ali pun menganggukan kepalanya.


"Apa abang ingin menemuiku sebelum pulang?" tanya Agata pada abang Edward. Ali mengulum senyumnya sementara Edward makin menggeram frustasi.


Ditanya seperti ini ia pun juga bingung harus menjawab apa, harusnya Agatha mengatakan untuk menemuinya di Bandara.


Sebelum menjawab, Edward menarik dan membuangnya pelan. Berbicara dengan Agatha ternyata tidak semudah yang dia kira.


"Tidak, apa rencanamu besok?" tanya Edward dan Ali masih setia menguping.


"Sama seperti kemarin, kuliah dari jam 2 sampai jam jam 6 sore."


"Kamu memang sengaja mengambil kelas sore?"


"Iya, biasanya saat pagi abang Labih titip Sora ke rumah ini, jadi aku bisa menjaga Sora dulu."


"Abang Labih? Sora?"


"Iya."


"Siapa mereka?"


"Abang Labih abangku dan Sora anaknya."


"Abangmu dari mana? abangmu bukannya cuma Azam? dan dimana istrinya, kenapa dia menitipkan anaknya padamu."


"Bukan Abang kandung, tapi ibu Haura sudah menganggap abang Labih seperti anaknya sendiri. Dan Abang Labih itu duda, istrinya sudah meninggal."


"DUDA?!" tanya Edward dengan meninggikan suaranya. Agatha  bahkan sampai terkejut dan menjauhkan ponselnya dari telinga.


Ali yang mendengar itu kembali terkekeh, dia sedikit menjauh agar kekehannya tidak sampai didengar oleh abang Edward.


"Iya duda," jawab Agatha polos dan di ujung sana Edward langsung memijat tengkuknya yang terasa berdenyut. Belum apa-apa gadis lugunya sudah didekati oleh seorang duda.


Duda-duda di luaran sana pasti akan sangat agresif, atau bahkan mungkin akan lebih banyak melakukan kontak fisik pada wanita incarannya.


Membayangkan itu saja kepala Edward rasanya sudah mendidih, membayangkan Agatha wanita cupunya yang diperdaya oleh seorang duda.


Ini tidak bisa dibiarkan, batin Edward. Saat ini ia memang belum tahu pasti apa siapa yang ada di dalam hatinya. Masihkah Bella atau  sudah berpaling pada Agatha.


Namun Edward sudah mengambil sebuah keputusan, bahwa dia akan melupakan Bella dan mulai memantapkan hatinya pada Agatha, menjaga gadis lugu itu hingga suatu saat nanti dia akan mempersuntingnya.


"Besok pagi sebelum pergi aku akan ke rumahmu," putus Edward dan tanpa menunggu jawaban Agatha ia langsung memutus panggilan itu.


Membuat Agatha bingung bukan main.


Ke rumah? mau apa? tanya Agatha membatin.


"Apa kata abang Ed? kenapa teleponnya sudah mati?" tanya Ali yang tidak sempat mendengar ucapan terakhir abang Edward.


"Katanya abang Edward besok sebelum pergi dia mau kesini? mau apa ya? apa mau ambil Jas? aduh, aku minta bibik untuk mencucinya sekarang," jawab Agatha buru-buru, ia bahkan langsung bangkit dari duduknya dan berlari turun ke lantai satu, mencari pelayan  khusus bagian laundry untuk segera mencuci Jasnya yang kotor.


Ali yang melihat itu semua hanya mampu terkekeh.


"Punya kakak sepupu polos banget," ucap Ali diantara kekehannya. Ia pun lalu membereskan buku-buku mereka dan menumpuknya menjadi 2 bagian.


Tok tok tok!


Edward mengetuk kamar Azam dan Bella dengan tidak sabaran.


Azam dan Bella yang baru saja merebahkan tubuhnya diatas ranjang pun saling pandang lalu sama-sama mengedikkan bahu tanda tidak tahu siapa itu yang datang.


Azam pun lantas bangkit dan berniat membuka pintu, kini Bella pun sudah menggunakan baju tidur tipisnya.


Azam membuka pintu dan melihat Edward di depan pintunya, membuat dia mengernyit heran.


"Ada apa?" tanya Azam.


Bukannya langsung menjawab, Edward malah menarik Azam untuk segera keluar dari kamar itu. Membuat Azam benar-benar bingung dibuatnya.


"Ayo ikut aku!" ajak Edward yang ingin bicara antara pria dan pria. 


"Tidak mau!" bantah Azam pula, bukan apa-apa, dia tidak ingin meninggalkan istrinya tanpa kata. Dengan gerakan cepat Azam segera menepis satu tangan Edward yang mencengkram lengannya.


"Aku akan pamit pada istriku dulu."


Edward yang mendengar itu pun menghela nafas, lalu membiarkan Azam untuk pergi berpamitan kepada Bella. Sementara dia menunggu dengan melipat kedua tangannya di depan dada.


Azzam kembali ke dalam kamar dan menemui sang istri yang sudah berbaring di atas ranjang.


"Siapa?" tanya Bella.


"Edward sayang, dia ingin bicara denganku. Aku pergi dulu ya, kamu tidurlah dulu jika sudah lelah," jawab Azam, ia duduk di sisi ranjang dan membelai lembut wajah sang istri. 


Dan Bella pun menganggukkan kepalanya pelan. Azam lantas sedikit menunduk dan mencium bibir sang istri sekilas, juga melumaatnya sedikit. 


Hingga Bella terkekeh dan mendorong pelan dada suaminya itu.


"Edward sudah menunggu Abang."


Dan dengan tersenyum, Azam pun meninggalkan Bella dan menemui Edward.


Disinilah Kini Azzam dan Edward berada, duduk di balkon lantai 2. 


"Apa yang ingin kamu bicarkan?" tanya Azam, ia pun menoleh dan menatap pria yang nampak gusar di sebelahnya ini. 


Sadar jika Agatha adalah adik Azam, maka sebelum mendekati adiknya dia harus mendekati Abangnya. 


Tidak ingin ada yang ingin ditutup-tutupi antara dia dan Azam akhirnya Edward menceritakan semua yang ia rasa di dalam hati.


Tentang kegundahannya tentang Bella dan Agatha yang seolah bisa mengobati semua luka itu. 


Berulang kali Edward juga mengatakan jika sedikitpun dia tidak memiliki niat untuk mempermainkan Agatha. dia hanya tidak ingin menyesal jika suatu saat nanti dia harus kehilangan Agatha.


Bahkan tentang labih dan Sora pun diceritakannya kepada Azzam. 


Melihat kesungguhan dan kejujuran Edward membuat Azzam mengulum senyum. Jujur saja hatinya sedikit tersentuh pada pria yang berniat mendekati adiknya ini. 


"Adikku masih kecil, dia harus kuliah dulu," jawab Azam setelah Edward selesai bercerita.


"Aku tahu, karena itulah selama aku tidak ada disini, tolong jaga dia, jangan biarkan ada pria manapun yang mendekati Agatha," balas Edward sungguh-sungguh. Itulah yang ia cemaskan, selama ia di Singapura akan ada pria yang menggoda wanita nya. 


Dan mendengar itu Azam pun tergelak.


"Aku mana bisa melarang Agatha untuk berhubungan dengan siapapun, dia berhak memiliki banyak teman," jawab Azam dan berhasil membuat Edward menggeram kesal. Sudah ia duga, Azam tidak akan membuatnya jadi mudah.


Azam pasti akan mempersulit dirinya.


Dasar pria brengsek. Batin Edward.