Bringing Back, My Wife

Bringing Back, My Wife
BBMW BAB 89 - Terbiasa Dengan Sentuhan



Setelah tawa mereka semua reda akhirnya mereka kembali masuk kedalam mobil masing-masing.


Hari mulai malam, keadaan di dalam mobil pun jadi semakin remang, karena cahaya yang masuk hanya berasal dari depan.


Kesempatan itu dimanfaatkan baik oleh Edward untuk mendekati sang kekasih.


"Bersandarlah kepadaku," ucap Edward, setelah cukup lama mobil mereka mulai melaju, lagu di dalam mobil pun sudah kembali diputar seperti tadi.


Agatha yang mendapat tawaran itu pun langsung menurut tanpa curiga sedikitpun, dia langsung menyandarkan kepalanya di bahu sang kekasih. Edward Lantas menakutkan genggaman mereka berdua.


Dan Agatha benar-benar merasa nyaman diperlakukan seperti itu, dengan perlahan dia pun mulai menutup matanya.


"Besok kamu ada kuliah?"


"Iya," jawab Agatha singkat, menjawab dengan matanya yang sudah tertutup dan semakin menyandarkan kepalanya di bahu abang Edward mencari kenyamanan.


"Lalu kapan kita akan pergi bersama?"


"Oh iya ya, kita mau pergi ya? aku lupa ternyata memang ada jam masuk, kata Abang ingin aku cepat lulus, jadi biarkan aku kuliah saja." saat mengucapkan itu Agatha mengangkat wajahnya menatap sang suami di antara cahaya yang minim.


"Kamu Jahat, sesekalinya aku datang ke Indonesia kamu tidak memiliki waktu untukku."


Agatha terdiam dengan tatapan keduanya yang masih menyatu, Agtaha jadi merasa bersalah.


"Aku kuliahnya pagi kok, sore kita bisa pergi."


"Sore aku pulang ke Singapura."


"Berarti Abang yang tidak mau bertemu denganku," sahut Agatha lagi, hingga membuat Edward menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Bagaimana bisa dia mencintai seorang gadis yang sulit sekali untuk diajaknya bicara.


Jika disini Edward sering sekali mengeluh kesal atas sikap kekasihnya itu. Tapi saat di Singapura sana, dia sungguh merindukan kan sikap menyebalkan Agatha ini, Ah bingung.


"Pak suara lagunya dikeraskan lagi," pinta Edward pada sang supir. Dan pak supir itu pun menurutinya dengan patuh.


"Kenapa dibesarin, kan kita kalo ngomong jadi harus bisik-bisik biar denger," sanggah Agatha pada permintaan kekasihnya itu, berbicara dengan sedikit mendekatkan mulutnya di telinga Edward.


"Aku ingin memberikanmu hukuman," balas Edward pula, membuat Agatha mengeryit bingung.


"Hukuman apa?"


"Hukuman karena kamu tidak peka apa inginku."


Setelah mengatakan itu Edward dengan segera menahan tengkuk Agatha, lalu menjatuhkan sebuah ciuman dalam diatas bibir ranum kekasihnya ini, Agatha menjerit pelan namun sang sopir tak mampu lagi mendengarkan karena suara lagu yang sudah semakin besar.


Awalnya Agatha memang meronta namun lambat-laun Edward yang menciumnya secara perlahan membuat dia jadi tenang.


Seketika tubuh Agatha bergetar, bahkan rasanya ada sesuatu yang ingin meledak di inti tubuhnya.


Agatha mendorong dada Edward pelan dan Edward pun paham jika itu adalah isyarat untuk menghentikan ciuman ini.


Dengan perlahan Edward melepaskan bibir ranum itu, jika di sini suasananya sepi pasti akan terdengar suara decapan.


"Kenapa? kamu kebelet pipis?"


Agatha mengangguk.


Dan Edward terkekeh, lalu menarik tubuh Sang Kekasih Untuk didekapnya erat. Berulang kali Edward pun menciumi pucuk kepala Agatha dengan sayang.


"Aku mencintaimu, Agtaha, sangat," ucap Edward, Betapa beruntungnya dia memiliki kekasih sepolos Agatha. seperti sebuah permata suci yang harus dijaga agar tidak pecah.


"Kita harus sering berciuman, agar kamu tidak jadi wanita yang suka ngompol lagi," ucap Edward dengan mengulum senyumnya. Dia sungguh tidak menyangka pada dirinya sendiri, jika dia sampai membodoh-bodohi Agatha seperti ini agar mereka tetap selalu memiliki hubungan yang intim. Seolah dia sudah menjadi pria brengsek seperti Azam.


"Benarkah?" tanya Agatha dengan raut wajahnya yang nampak terkejut.


Dan Edward menganggukkan kepalanya dengan yakin, " Iya, harus terbiasa dengan sentuhanku."


Sepanjang perjalanan di malam itu berulangkali Agatha dan Edward saling bertukar saliva.


Bahkan Agatha Sudah berani membalas, menggerakkan bibirnya dengan kaku.


Nyaris tengah malam mereka semua akhirnya sampai di Jakarta. Saat ini mobil iring-iringan mereka sudah mulai memasuki kompleks Perumahan mansion Ayah Adam.


"Nanti langsung tidur ya, besok kita tidak bertemu dulu, aku juga banyak perkerjaan," ucap Arnold pada sang kekasih.


Alesha pun menganggukkan kepalanya dengan patuh.


"Tapi jika kamu ingin menemuiku, aku akan selalu ada di kafe sampai sore hari."


"Iya Bang."


"Panggil sayang."


Alesha langsung mengulum senyumnya, kata sayang masih terasa aneh di lidahnya.


"Berikan aku ciuman selamat malam dan ditambah ciuman besok tidak bisa bertemu. Harus kamu yang selalu menciumku, agar aku tidak merasa bersalah kepada Papa Agra dan mama Sarah."


Lagi-lagi Agatha mengulum senyumnya menahan diri agar tidak tertawa saat mendengarkan ucapan kekasihnya itu.


Takut tapi mau.


Tanpa mengulur waktu, Alesha langsung menangkup wajah sang kekasih dengan kedua tangannya, lalu mendekatkan wajah dan menyatukan bibir mereka.


Dan didalam ciuman itu Arnold mengukirkan senyumnya.


Malam itu juga Arnold dan Edward pulang ke rumah mereka masing-masing. Arnold ke rumahnya sementara Edward pulang ke rumah Azzam. Di rumah Azzam ada Ayah David yang menunggu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di Tangerang.


Jam 10 malam acara di rumah Fhia baru usai. Fia dan Ben langsung menuju kamar pengantin mereka untuk mengistirahatkan tubuh keduanya yang lelah. Seharian ini mereka banyak berdiri untuk menerima ucapan selamat dari para tamu undangan.


"Ya Allah, aku lelah sekali," keluh Fhia saat tubuhnya dan tubuh sang suami sudah jatuh diatas ranjang.


"Di sini memangnya kalau menikah sampai sehari semalam seperti ini ya?"


"Iya," jawab iya dengan terkekeh.


"Tolong bantu aku melepaskan baju ini," pinta Fhia, dia mulai duduk dan melihat sang suami yang masih setia berbaring.


"Setelah bajunya dicopot mau apa?" tanya Ben dengan senyum menggoda, bukannya langsung bangkit dia malah membenahi posisi tidurnya, jadi tidur miring dengan 1 tangan menyangga kepala. lengkap dengan tatapan mesumnya.


Dan Fhia yang merasa kesal pun langsung melempar wajah suaminya itu menggunakan bantal terdekat.


Keduanya terkekeh , akhirnya Ben pun bangkit dari tidurnya untuk membantu sang istri melepaskan baju adat ini.


Melepaskan satu persatu kancing baju yang ada di punggung istrinya. sementara via pun mulai melepas banyak pernak-pernik di atas kepalanya.


"Repot ya?" tanya Ben dan Fhia mengangguk.


Sampai akhirnya semua kancing baju itu pun terlepas, punggung Fhia nampak jelas putih dan begitu mulus.


"Sudah, mau dilepaskan sekalian tidak?" tawar Ben pula, setelah menelan ludahnya dengan kasar.


"Tidak usah, aku akan melepasnya di kamar mandi, sekalian ganti baju dan mencuci muka."


Ben mengangguk lalu dia duduk di tepi ranjang, memperhatikan istrinya yang sibuk sendiri, mengambil baju ganti di dalam lemari lalu masuk ke dalam kamar mandi.


"Huh, malam ini akan jadi malam yang panjang," gumam Ben, setelah membuang nafasnya kasar.


...💕...


Jangan lupa like dan komen ya 💕