Bringing Back, My Wife

Bringing Back, My Wife
BBMW BAB 80 - Mencoba Percaya



Jangan lupa like dan komen ya ❤


Happy reading


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Setelah pertemuan dua keluarga antara keluarga Arnold dan keluarga Alesha selesai.


Mereka sepakat untuk menggelar acara pertunangan kecil-kecilan.


Hanya di hadiri oleh keluarga dan sahabat dekat, ataupun kolega yang memiliki hubungan baik.


Mungkin sekitar 500 orang yang akan menghadiri pertunangan Arnold dan Alesha nanti.


Mama Sarah dan mama Angel lah yang akan mengurus semuanya, Arnold dan Alesha hanya terima beres. Jika semuanya lancar maka pertunangan itu akan digelar dua minggu lagi. Seminggu setelah pernikahan Ben dan Via.


Menjelang waktu salat Ashar tiba keluarga Arnold pamit untuk pulang.


Tapi Arnold memutuskan untuk tetap tinggal, dia akan melaksanakan salat ashar di rumah ini, lalu setelahnya mengajak Alesha untuk mendatangi toko perhiasan langganan keluarga mereka dan mencari cincin pertunangan.


"Kamu sepertinya sudah tidak sabar lagi ya?" Sindir Papa Agra saat mereka sudah berada di ruang khusus untuk salat di rumah ini, bertanya kepada pria yang dari tadi terus tersenyum.


Dan Arnold hanya menjawabnya dengan senyum yang semakin lebar.


Di sana Arnold salat berjamaah Bersama Papa Agra dan mama Sarah, sementara alesha memutuskan untuk salat di kamarnya dan segera bersiap untuk pergi.


Selesai salat berjamaah, mereka masih duduk di sana, ada beberapa hal yang harus Papa Agra sampaikan kepada Arnold. sedangkan Mama Sarah hanya diam memperhatikan keduanya dan ikut mendengarkan.


"Papa sangat mempercayaimu Ar, papa percaya bahwa kamu bisa menjaga Alesha dengan baik," ucap papa Agra.


Dan mendengar itu hati Arnold seperti tersentil, beberapa kali dia ingin selalu menciumi Alesha, bahkan menyentuh tubuh gadis itu tanpa mengingat kehormatannya.


Yang dia pikirkan hanyalah gelora asmara nya saja di hati, juga hasrat yang semakin membuncah tiap kali melihat Alesha.


Arnold menunduk sejenak lalu kembali mengangkat wajahnya dan membalas tatapan Papa Agra.


"Insya Allah Pa, aku akan menjaga lisan dengan baik melindungi kehormatannya sampai kami menikah nanti."


Papa Agra dan mama Sarah tersenyum mereka merasa lega saat mendengar ucapan Arnold itu.


Sampai akhirnya perbincangan mereka usai. Arnold dan Alesha segera pergi untuk menuju toko perhiasan.


"Alesha, apa kamu tidak bahagia kita akan segera bertunangan? dari tadi aku lihat kamu cemberut terus," ucap Arnold.


Kini mobil mereka udah mulai keluar dari halaman rumah Papa Agra, tak jauh lagi mereka akan segera memasuki jalan raya.


Alesha tidak menjawab, dia malah membuang nafasnya pelan.


Halaan nafas yang akhirnya membuat Arnold menghentikan mobil mereka di persimpangan jalan.


"Kenapa?" tanya Arnold, kini raut wajahnya berubah jadi serius, dia bahkan langsung menatap lekat ke arah Alesha.


Dan mau tidak mau Alesha pun membalas tatapan itu dengan matanya yang nampak sayu dan tak seceria biasanya.


"Aku takut Bang."


"Takut kenapa?"


"Rasanya aku belum sanggup untuk sampai di tahap ini secepat ini."


"Kenapa?"


"Ya nggak tau, pokoknya aku takut."


"Apa yang membuatmu ragu?"


"Nggak tau," jawab Alesha pasrah, bicara dengan suaranya yang lirih.


Dia sebenarnya ingin menjawab, jika dia takut kehilangan masa mudanya. Jika hanya menjalin kasih itu bukan masalah bagi Alesha, tetapi di saat dia masih kuliah dan menjalani pertunangan dengan jangka waktu pernikahan yang masih lama rasanya itu terasa berlebihan bagi Alesha.


"Jangan membuatku mencium mu, aku sudah berjanji pada papa Agra untuk menjaga mu," ucap Arnold.


Hatinya pun merasa tidak tenang saat melihat wajah Alesa yang murung seperti itu, merasa jika pertunangan ini hanya dia sendiri yang menginginkannya sementara Alesha tidak.


"Apa kamu ingin kita membatalkan pertunangan ini? Sebelum terlambat aku akan mengatakan kepada kedua orang tua kita lagi," jelas Arnold. Dia memang ingin segera mengikat Alesha untuk menjadi miliknya, tapi andaikan gadis ini merasa terpaksa dia tidak akan tega untuk melakukannya.


"Bu-bukan begitu Bang, aku mau kita bertunangan. Tapi aku takut, rasanya ini terlalu cepat."


"Lalu bagaimana mau mu? aku tidak ingin ada yang merasa terpaksa diantara kita."


Alesha terdiam, ditanya seperti itu dia jadi tidak bisa berkata-kata, tiba-tiba pikirannya kacau.


Dia memang takut jika masa mudanya akan hilang dengan adanya pertunangan ini, harus siap diatur oleh Arnold dan menuruti semua keinginan tunangannya.


Rapi ada rasa takut yang lebih membuatnya menggila, yaitu akan Kehilangan orang yang dicintainya andai dia menolak ataupun mengundurkan pertunangan ini.


Tidak, Alesha tidak akan siap akan hal itu.


"Maafkan aku Bang, aku mau pertunangan kita tetap di lanjutkan."


Arnold terdiam, masih belum percaya dengan apa yang diucapkan Alesha itu. dia masih merasa jika Alesha terpaksa.


"Aku tidak akan memaksamu, apalagi menggunakan kedua orang tua kita untuk membuat pertunangan ini ada. Jadi Katakan sekarang, aku bisa membatalkan nya dengan mudah."


"Tidak tidak, aku tidak mau pertunangan ini batal."


Alesha jadi takut sendiri, bahkan kini rasanya Dia sudah ingin menangis. Alesha pun menggoyang-goyangkan bahu Arnold, merengek, ingin sang kekasih tahu jika dia benar-benar tidak ingin pertunangan ini batal.


"Jangan mempermainkanku."


"Tidak!" potong Alesha cepat.


"Benerkah?"


"Iya?"


"Bagaimana agar aku bisa percaya?"


Dan saat itu juga Alesha langsung melompat ke atas tubuh Arnold, menjatuhkan tubuhnya diatas pangkuan sang kekasih dan memberikan sebuah ciuman dalam di atas bibir Arnold.


Kedua netra Arnold membola dia sungguh tidak menyangka jika ini yang akan dilakukan oleh Alesha. Dia pikir Alesha akan kembali memberikan sebuah jawaban dengan kata-kata bukan tindakan seperti ini.


Padahal sungguh Arnold sudah tidak ingin melakukan sentuhan fisik kepada Alesha. Sekuat tenaga hasratnya akan dia tahan untuk menepati ucapannya dengan papa Agra dan mama Sarah beberapa saat lalu .


Tapi kini jangan salahkan dia, karena saat ini Alesha sendirilah yang memulai lebih dulu.


Alnold membuka mulutnya dan mulai membalas ciuman itu. Tangannya pun tak tinggal diam, mulai mengelus punggung Alesha dengan sayang. Membuat Alesha sampai meremang, hingga tanpa sadar memperdalam ciuman keduanya.


Suara decapan tercipta dengan jangka waktu yang cukup lama. Sampai dirasa hasrat itu semakin menggila Arnold dengan cepat menyelesaikan aksinya.


Memutus pagutan keduanya nya dan mengambil jarak aman.


"Kamu yang menciumku duluan, jangan marah," ucap Arnold setelah ciuman mereka terlepas.


"Tapi kenapa Abang membuka kancing baju ku?" tanya Alesha, bibirnya mencebik namun dengan kedua pipi yang merona.


"Naluri," balas Arnold singkat. Keduanya terkekeh dan Arnold dengan segera kembali mengancingkan baju itu.


3 kancing teratas baju Alesha yang ia lepas hingga memperlihatakan sebuah belahan.


"Percayalah padaku, walau aku menyentuh mu seperti ini. Aku tidak alan melakukannya sebelum kita menikah."


"Mencoba percaya," balas Alesha.


Dan keduanya kembali terkekeh bersama.