
Singapura, jam 10 malam.
Selisih waktu Indonesia dan Singapore tidaklah terpaut jauh, yaitu hanya terpaut 1 jam saja, Singapore lebih cepat.
Edward mengeram kesal saat panggilannya yang ketiga tidak mendapatkan jawaban dari Agatha. Gadis kecil yang sudah ia anggap sebagai calon istri.
Agatha yang masih belum peka, terus saja mengacuhkan dirinya seperti ini membuat dia pusing sendiri. Lalu membenci jarak yang terbentang jauh di antara mereka.
"C'mon Agatha angkat!" gerutu Edward, kini ia kembali menghubungi Agatha untuk yang keempat kali. Panggilan itu tersambung, terdengar jelas bunyi tut tut tut yang teratur.
Hanya saja hingga bunyi itu menghilang Agatha belum juga menjawabnya.
"Oh my god! di Indonesia masih jam 9 apa iya dia sudah tidur?" gerutu Edward, panggilannya yang keempat juga tidak dijawab.
Padahal sore tadi mereka sudah saling bertukar kabar melalui pesan singkat. Edward juga mengatakan jika malam ini sebelum mereka tidur mereka akan saling berteleponan.
Tapi apa yang terjadi kini Agatha malah melupakan kesepakatan mereka, mengabaikan Edward yang menunggu dengan tidak tenang.
"Aku coba telepon Azam saja lah," putus Edward.
Edward tahu jika saat ini hingga besok Agatha akan menginap di rumah Azzam. Edward juga tahu tentang Agatha dan Alesha yang kini magang di cafe Arnold, bahkan berita heboh sore tadi pun sudah ia baca juga di salah satu artikel.
Edward hanya tidak menyangka jika Agatha bisa menghebohkan dunia seperti ini. Membuat semua mata tertuju ke arahnya dan semakin membuat Edward tidak tenang meninggalkan calon istrinya itu di sana.
Andai bisa dia ingin sekali mengurung Agatha hingga Agatha lulus kuliah.
Panggilan Edward kepada Azam terhubung, cukup lama menunggu dan akhirnya panggilan itu dijawab.
"Hem, ada apa?" tanya Azam ketus. membuat Edward di ujung sana yang mendengarnya mendengus kesal.
"Dimana Agatha? Kenapa dia tidak menjawab panggilanku?" tanya Edward bertubi langsung tanpa banyak basa-basi, memang karena Agatha lah ia menghubingi Azam.
Dan kini giliran Azam yang mendengus kesal. Bukannya menjawab pertanyaan Edward, Azzam malah mengajukan pertanyaan pula.
"Sebenarnya apa yang kamu inginkan dari Agatha? Jangan mempermainkan adikku! Siapa yang bisa tahu ketika di sana kamu tidak memiliki kekasih?" balas Azam.
Mendengar itu Edwar sadar satu hal, bahwa Azzam belum merestui dirinya dan Agatha.
"Jangan samakan aku dengan mu, tidak semua pria itu brengsek seperti dirimu," ketus Edward pula, sudah pusing ia memikirkan panggilannya yang tidak dijawab oleh Agatha dan sekarang Azam malah menuduhnya yang bukan-bukan.
Padahal dia sudah bertekad tulus untuk menjadikan Agatha satu-satunya.
"Apa buktinya?" tanya Azam, yang masih kukuh menganggap Edward hanya mempermainkan sang adik. Terlebih Agatha adalah gadis yang polos, dibohongi pun dia pasti akan tetap percaya.
"Bukti apa yang kamu minta? aku tidak bisa memberikan bukti apapun. Dimana Agatha? bicara denganmu tambah emosi saja," keluh Edward.
"Lagi pula aku sudah mengungkapkan kesungguhan ku ini kepada Om Adam, apa kamu pikir aku berani berkata dusta kepada om Adam? tentu saja tidak. Aku lebih takut dengan beliau daripada denganmu," seloroh Edward pula.
Siapa yang berani melawan Adam Malik, bahkan hanya mendengar namanya saja orang sudah merasa takut dan begitu segan.
"Kalau aku hanya mempermainkan Agatha, aku tidak akan menemui Ayah dan ibu kalian."
Azzam terdiam mendadak ia menyetujui ungkapan Edward itu. sebelum menemui Ayah Adam dan ibu Aura pasti Edward sudah memikirkan masalah ini matang-matang. tentang kesungguhannya untuk menjalin hubungan dengan Agatha.
"Hih, malah diam, dimana Agatha?" ketus Edward lagi, karena Azam malah mendiamkannya.
Dan Azam yang sudah geram dengan suara berisik Edward langsung mengatakan kepada pria tidak sabaran ini untuk menunggu. Dia akan ke kamar Agatha dan mengatakan tentang telepon Edward.
dan mendengar itu Edward langsung bernafas lega.
"Terima kasih Bang," ucap Edward, terdengar begitu menjijikkan di telinga Azam. Tanpa ada kata-kata lagi Azam langsung memutuskan panggilan itu secara sepihak.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Dengan langkah agak malas, Azam keluar dari dalam kamarnya, lalu turun ke lantai 1 dan mengetuk pintu kamar Agatha dan Alesha.
Tak berselang lama kemudian Pintu itu terbuka dan yang membukanya adalah Alesha.
"Abang, kenapa kesini? kan mbak Bella udah bilang mau tidur disini," cerocos Alesha.
Azam yang sedari tadi sudah pusing dengan banyak kata-kata pun mengusap wajah sang adik ipar dengan kasar. Hingga Alesha mengeluh kesal.
Azam masuk dan berdiri tepat di depan ranjang, lalu melenggangkan kedua tangannya di pinggang. Sementara Alesha sudah duduk di sofa pinggir ranjang.
Azam melihat Agatha dan Bella yang kini sudah duduk di atas tempat tidur.
"Sayang ayo kita kembali ke kamar tidak usah tidur di sini," ucap Azam pada Bella.
"Dan kamu Agatha, Edward tadi menelponmu, angkatlah," ucap Azam pada sang adik.
Selesai Azzam mengatakan itu, semua orang kini menuruti perkataannya. Bella turun dari atas ranjang dan mulai menghampiri sang suami, pun Agatha yang buru-buru turun dan mengambil ponselnya di dalam tas.
Setelah Azam dan Bella keluar dari dalam kamar ini, Agatha langsung menjawab panggilan Edward. Ponselnya benar-benar terus bergetar sedari tadi
Agatha duduk di sisi Alesha dan Alesha pun dengan sigap langsung menguping seperti tingkah Ali tempo hari.
"Ya Allah Agatha, kamu kemana saja? kenapa teleponku tidak diangkat-angkat? kamu lupa kita tadi sudah buat janji, sebelum tidur kita teleponan dulu."
Agatha sedikit menjauhkan ponselnya dari telinga tak kuasa mendengar suara Edward yang mulai meninggi.
"Maaf Bang, aku lupa," cicit Agatha, takut-takut. Sadar jika dia telah salah karena melupakan janji itu. Pun Alesha yang mencubit lengannya pelan, hukuman karena sudah lupa dengan janji. Agatha mencebik, lalu kembali fokus ke teleponnya.
"Tadi ada mbak Bella, kami asik cerita, jadi aku tidak dengar kalau ponselnya bergetar."
"Ponselmu dimana?"
"Di tas."
"Tidak ada nadanya?"
"Enggak, cuma getar."
"Sekarang atur nada yang paling keras."
"Mana boleh begitu, kalau magang kan nggak boleh berisik, nanti abang Arnold marah, kan repot kalau ganti-ganti terus."
Arght!! di ujung sana Edward mengeram kesal. Andai Agatha di hadapannya, sudah ia terkam gadis yang selalu menjawab ucapannya ini. Menjawab tanpa ada rasa dosa.
Sementara Alesha masih setia menguping, sambil menahan tawa. Menutup mulutnya rapat-rapat agar tidak ketahuan kekasih sang sepupu.
"Apa ada yang Bella katakan tentang kita?"
"Ada."
"Apa?"
"Aku jangan terlalu banyak berharap, tidak ada yang tahu bagaimana kedepannya nanti, bisa jadi kita tidak berjodoh," jawab Agatha dan Alesha mengangguk-anggukan kepalanya. Alesha juga ingin mendengar apa jawaban abang Ed tentang ini.
"Kita semua memang tidak ada yang tahu bagaimana kedepannya nanti, tapi kalau kita berusaha bersama-sama untuk tetap setia, aku yakin kita bisa sampai menikah."