Bringing Back, My Wife

Bringing Back, My Wife
BBMW BAB 81 - Sentuhan Intiim



Jangan lupa Like dan komen ya 😈


Happy reading 💕


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Untuk pernikahan Ben dan Fhia, Sebenarnya dia tidak terlalu banyak mengundang teman dari Jakarta.


Karena acara pernikahan itu diadakan di rumah Fhia maka kebanyakan para tamu undangan adalah teman-teman kedua orang tua Fhia disana dan teman-teman Fhia dari semasa sekolah.


Tapi Edward yang juga mendengar kabar pernikahan Ben dan Fhia pun memutuskan untuk datang juga, apalagi saat tahu keluarga Malik semuanya akan bertandang ke sana.


Dia tidak ingin hilang kesempatan berkumpul bersama seluruh anggota keluarga calon istrinya.


2 hari sebelum pernikahan Ben dan via dilaksanakan, Edward sudah sampai di Indonesia, rencananya mereka semua akan bersama-sama ke Tangerang sehari sebelum hari pernikahan Ben dan Fhia.


di Indonesia Edward menginap di rumah Azzam dan Bella. Sebenarnya bisa saja dia menginap di hotel, tapi karena ingin merebut hati calon  sang kakak ipar maka terpaksa dia menginap di sini.


"Memangnya Ben mengundang mu?" tanya Azam pada Edward saat mereka semua sedang makan malam. Di meja makan ini ada Bella  dan juga ada Ayah David.


"Ben memang tidak mengundangku secara langsung, tapi yang mengajakku pergi adalah Ayah Adam," Jawab Edward  dengan penuh percaya diri, karena memang seperti itulah Adanya. Orang pertama yang memberi tahu dan mengajaknya adalah ayah Adam.


Saat mengatakan itu Edward bahkan tersenyum lebar, lalu menampakan deretan giginya yang berjajar rapi, membuat Azza. mendengus kesal dan lebih memilih untuk segera memakan makanan yang terjadi di piringnya.


Ayah David hanya menggeleng saja melihat tingkah keduanya sementara Bella tidak peduli.


"Bagaimana dengan ayah David?" tanya Bella penuh perhatian pada sang ayah. Sebenarnya Bella tidak ingin jika ayah David sampai ikut pergi ke Tangerang, perjalanan kesana cukup jauh dan Bella tidak ingin sama Ayah jadi kelelahan.


Tapi semuanya terserah Ayah David, jika ayah David memutuskan untuk ikut maka Bella akan sebisa mungkin untuk terus melayani sang ayah agar tidak kelelahan.


"Ayah tidak usah ikut ya? nanti kami akan pulang cepat, hari itu juga setelah Ben dan Fhia  menggelar acara pernikahannya, sore kami akan langsung pulang." Azam yang menjawab, karena dia pun merasakan kecemasan seperti yang dirasakan oleh Bella.


Dan Bella yang mendengar ucapan sang suami itu pun mengukirkan senyumnya tipis, dia lalu melirik ayah David dan ingin melihat reaksi apa yang akan diberikan oleh sang ayah.


Dilihatnya Ayah David mengukirkan senyum tipis sama seperti dirinya.


"Baiklah Zam, ayah tidak akan ikut. Kalian sampaikan saja salam ayah pada Ben dan Fhia."


Azam menganggukkan kepalanya.


Ayah David pun tahu jika anak dan menantunya ini sedang mencemaskan dirinya, tidak ingin dia merasa lelah dalam perjalanan andaikan ikut.


Selesai makan malam Ayah David dan Edward memutuskan untuk duduk bersama di ruang tengah. Sementara Azzam menemani sang istri untuk mulai berkemas. Membawa beberapa keperluan yang mereka butuhkan saat pergi ke Tangerang besok.


"Tidak usah terlalu banyak membawa baju sayang,  bawa saja dua pasang, satu yang baju seragam kita dengan teman-teman, satunya lagi baju ganti yang kita pakai untuk pulang," jelas Azam.


"Iya Bang," jawab Bella singkat. Dia juga menyiapkan baju yang akan mereka pakai untuk pergi besok.


"Kamu bagaimana? kuat tidak untuk pergi besok? apa kamu juga tidak usah ikut?" tanya Azam penuh perhatian juga perasaan was-was. Dia memeluk tubuh sang istri yang sedang berdiri di depan lemari baju mereka.


Bukan hanya mencemaskan Ayah David, Azzam juga mencemaskan istrinya. Baru hendak masuk di usia 3 bulan perut Bella saja sudah tampak membuncit.


Azzam sungguh tidak ingin sang istri merasa kelelahan sedikitpun.


"Ini pernikahan Fhia sayang, dia bukan hanya pernah menjadi asisten pribadi ku, tapi juga sahabat dan keluarga yang selama ini selalu ada bersamaku," jawab Bella.


Dia menghentikan semua pergerakan tangannya dan menyentuh kedua tangan Azzam yang melingkar di perutnya.


"Kita bawa kursi roda ya, kalau kamu lelah aku bisa mendorongmu," usul Azam dan Bella menganggukkan kepalanya.


Bella tersenyum saat Azam mulai menciumi pipinya dengan lembut. Di trisemester pertama ini, dokter kandungan mereka meminta kepada Azam dan Bella untuk tidak melakukan hubungan badan dulu.


Mengingat Bella yang hamil kembar 3, membuat sang dokter lebih menaruh perhatian lebih kepada salah satu putri keluarga Malik itu.


Dan mereka berdua menurut, terlebih ini semua demi 3 anak mereka.


"Aku sangat bersyukur kamu tidak mengalami mual yang berlebih," ucap Azam, dia semakin memeluk erat sang istri dari arah belakang.


"Iya Bang, aku malah jadi selalu lapar. Maunya makan terus, lama-lama aku jadi gendut."


Azam terkekeh.


"Dari kamu kecil, aku ingin sekali melihat kamu gendut," jujur Azam. Dan mendengar itu Bella langsung memukul salah satu lengannya. Hingga terdengar bunyi plak!


"Waktu kecil, wajahmu terlalu tirus, harusnya seperti Azura yang pipinya sampai tumpah-tumpah."


Keduanya terkekeh.


"Kalau Azura mendengar, dia pasti marah," balas Bella.


"Karena itulah, jangan takut jika kamu jadi gendut. Itu tidak akan membuat cintaku berkurang, malah akan bertambah jadi semakin banyak," ucap Azam.


Bella mendengus, sedikit meragukan ucapan suaminya itu. Padahal tiap kali bercinta, Azam selalu mengagumi tubuhnya yang meliuk-liuk seperti gitar spanyol.


Bella berbalik dan membalas pelukan sang suami.


Mencium aroma tubuh Azam bisa membuatnya tenang.


"Sebaiknya kita tidur sekarang, biar besok kita bisa bangun dengan tubuh yang segar," ucap Azam lagi.


Pelan-pelan Azam menggendong tubuh sang istri dan membaringkannya di atas ranjang.


Mematikan lampu utama kamar dan hanya menyisakan lampu temaram khas orang mau tidur. Lalu segera menyusul sang istri untuk ikut berbaring di atas tempat tidur.


Menarik Bella mendekat agar tidur di dalam dekapannya.


Satu tangannya masuk ke dalam baju sang istri dan lagi-lagi mengelus perut istrinya itu.


"Selamat malam sayang, selamat tidur," ucap Azam pada sang anak, seolah janin-janin itu sudah bisa mendengar ucapannya.


Dan Bella hanya mampu terkekeh, lalu mengecup sekilas bibir sang suami.


Lalu Azam dengan cepat menahan hingga berakhir jadi sebuah ciuman yang dalam.


Tangannya di perut naik, menyelip diantara penutup dada sang istri lalu bersarang di sana.


Meskipun tidak menyatu, namun keduanya selalu terlibat dalam sentuhan intim, seperti malam ini.


"Abaang, katanya mau tidur," ucap  Bella saat kini Azam malah melepas bra miliknya.


"Kata dokter, ini juga harus sering dipijat, jadi nanti saat anak-anak kita sudah lahir asinya bisa langsung keluar banyak."


Bella mencebik, karena Azam bukan memijatnya, namun menguluumnya secara bergantian.