Bringing Back, My Wife

Bringing Back, My Wife
BBMW BAB 100 - Berdamai Dengan Masa Lalu



Kabar kelahiran penerus keluarga Malik telah menjadi topik hangat Minggu ini. Sebagai berita besar, hampir seluruh stasiun televisi menyiarkan tentang kabar bahagia tersebut.


Tentang di mana si nyonya muda Malik melahirkan, jenis kelamin anak tersebut, bahkan nama ketiga bayi mungil itu sudah tersohor di mana-mana. Membuktikan bahwa pengaruh keluarga Malik memanglah sangat besar.


Dan kabar itu pun terdengar sampai ke telinga Raya. Gadis yang dulu sempat menjadi skandal terbesar, dan dinding pemisah untuk Bella dan Azzam.


Sebuah benalu yang sulit dihindari hingga butuh waktu Azzam untuk menebas akarnya, agar rumah tangganya dengan Bella bisa terselamatkan.


Namun, Azzam harus banyak-banyak bersyukur. Karena pada akhirnya otak waras gadis itu kembali, dengan mengakui segala kesalahannya. Pun dengan obsesi di dalam hatinya untuk memiliki Azzam, yang harus dia kubur dalam-dalam secara paksa.


Bukan lagi cinta, jika kita menginginkan seseorang yang bahkan sudah memiliki sebuah keutuhan rumah tangga. Itu hanyalah nafsu semata, sebuah sifat di mana kita haus pada milik orang lain.


Tapi sekarang, sumpah demi apapun, tidak sedikitpun Raya ingin kembali pada masa itu. Masa suram di mana dia menjadi duri dalam pernikahan lelaki yang katanya dia cintai.


Kini Raya justru ikut merasa senang, karena akhirnya Bella dan Azzam sudah memiliki 3 anak kembar. Bayi yang terlahir sebagai penerus keluarga Malik, dan begitu ditunggu oleh semua orang.


Kelahiran mereka membawa sebuah kebahagiaan yang tiada tara.


Kembali pada Azzam dan Bella yang belum juga membaca surat dari Raya. Namun, setelah Bella meyakinkan Azzam, bahwa dia akan baik-baik saja. Akhirnya Azzam pun mengalah.


Pelan, dia meregangkan genggaman tangannya pada kertas bertinta itu. Kertas yang sudah lusuh karena dia remas dengan kuat. Karena merasa semua itu tak lagi penting.


Sekali lagi Bella mengangguk, memberi isyarat, bahwa hatinya sudah bisa menerima ini semua. Masa lalunya bersama Azzam dan juga Raya.


Azzam membuka secarik kertas itu, merentangkannya agar huruf-huruf itu dapat terbaca olehnya dan juga Bella.


Surabaya, 17 February 2022


Untuk Nyonya Bella yang terhormat.


Maafkan saya, Nyonya. Andai saya bisa memutar waktu, sungguh saya tidak akan melakukan kesalahan itu. Karena memang saya lah yang lebih dulu mendekati tuan Azzam.


Maafkan saya, Nyonya. Saya mohon berikan maaf anda untuk saya, karena sebelum saya mendapatkan maaf itu, saya akan terus di hantui rasa bersalah untuk seumur hidup saya.


Sekali lagi saya minta maaf jika saya lancang, tapi saya turut bahagia mendengar kabar kelahiran putra dan putri anda, dengan tulus saya ucapkan selamat untuk Nyonya Bella.


Dan andaikan jika anda berkenan, saya minta satu permintaan pada anda, tolong balas surat saya, beri saya maaf anda, Nyonya.


Raya.


Setelah Bella dan Azzam membaca surat itu, Bella terus menarik nafas dan membuangnya pelan, begitu terus menerus. Mencari sebuah kelegaan, karena tiba-tiba dadanya sedikit merasa sesak.


Dia terdiam sejenak, lalu menoleh ke samping untuk menatap wajah Azzam. Mau bagaimana pun, sebenarnya ada rasa yang masih mengganjal di hatinya. Karena pengkhianatan yang dilakukan Azzam dan Raya itu jelas di depan matanya.


Sebuah kesakitan yang harus dia terima berkali-kali. Dan kekecewaan yang harus dia dapat dari orang yang sama, yaitu Azzam.


Bila mengingat itu semua, memang rasanya dia ingin menyerah saja.


Akan terasa begitu kufur, jika dia menyia-nyiakan semuanya. Semua nikmat yang telah Allah berikan untuknya. Kado terindah untuk semua cobaan yang telah dia alami selama ini.


Apalagi saat dia mengingat semua pengorbanan Azzam. Untuk membawanya kembali pulang, dalam keutuhan rumah tangga yang sempat retak. Sepertinya tidak akan menjadi hal baik, jika dia terus menggenggam kebencian itu dalam hatinya.


Hingga akhirnya perlahan senyum di bibir Bella mulai terukir. Kini saatnya untuk berdamai dengan masa lalunya, termasuk masa lalu tentang Raya.


"Lihat kan, tidak ada hal buruk dalam surat ini. Untung kita baca," ucap Bella dengan suaranya yang renyah, dia tidak ingin suasana tegang ini berlangsung lama. dia ingin senyum yang beberapa saat lalu mereka ukirkan kini kembali mereka raih. juga beberapa kecupan yang tadi mereka lakukan Bella ingin kembali mengulanginya.


Dapat dilihat jelas oleh Bella sang suami yang menghembuskan nafasnya berat, seolah membuang beban yang selama ini pun bercokol di hatinya.


Bukan hanya Bella dan bukan hanya Azam, tapi mereka berdua memang harus melepaskan semua beban itu, perasaan tak nyaman tentang masa lalu.


"Maafkan aku Bell," ucap Azzam sekali lagi dan Bella menganggukkan kepalanya dengan cepat.


Saat itu juga Bella mengatakan Jika dia akan membalas surat dari Raya ini, menyampaikan kan bahwa dia pun sudah memaafkan Raya.


Azzam tidak bisa berkata apa-apa lagi, selain memeluk bahu sang istri untuk semakin mendekat kepadanya. Mencium keningnya cukup lama.


Suasana romantis yang kembali tercipta itu buyar saat Mama Sarah kembali menghampiri mereka.


"Sudah, sudah berjemurnya, ini malah pada peluk-pelukan. Ayo masuk," ajak mama Sarah.


Azzam dan Bella tertawa pelan, kemudian bangkit dari duduknya dan segera masuk ke dalam rumah mengikuti langkah Mama Sarah.


Di dalam sana Ibu Haura dan Acil Aida langsung menyambut mereka, mengambil Abraham dan Adelia di dalam gendongan Bella dan Azzam, lalu meminta sepasang suami istri ini untuk sarapan terlebih dahulu bersama dengan yang lainnya.


Surat pemberian dari Raya pun sudah Azam berikan pada salah satu pengayaan untuk meletakkannya di dalam kamar mereka.


Setelah membaca surat itu dan melihat tanggapan sang istri, kini Azam benar-benar bisa bernafas lega. Surat itu seperti sebuah kabar yang mengangkat beban di dalam hatinya. Keberanian Raya untuk meminta maaf secara langsung kepada Bella dan mengakui semua kesalahan-kesalahannya.


Alhamdulilah, terima kasih ya Allah. batin Azam.


Senyum Azam semakin lebar saat ia melihat sang istri yang tertawa di tengah-tengah keluarganya yang lain. Tidak ada yang lebih ia disyukuri dari ini semua.


Keutuhan keluarga Malik, yang penuh dengan cinta dan kasih sayang.


"Mbak Bella, itu di makan bening katuknyaa," ucap Agatha, menunjuk semangkuk bening katuk khusus untuk Bella.


Dan Bella yang diingatkan langsung mencebik, 2 hari ini pagi siang malam dia terus makan bening katuk itu, rasanya sudah eneg.


"Demi Abraham, Adena dan Adelia," ledek Alesha.


Alesha dan Agatha pun terkekeh, menertawakan kakaknya yang berwajah masam. Tawa kedua gadis ini hilang saat Ali langsung menjewer telinga keduanya.


Gantian para orang tua yang tertawa.