
Happy reading
...💕...
"Jangan marah, aku hanya menggodamu," bisik Edward dan Agatha hanya mendengus kesal, genggaman tangan mereka putus saat sudah sampai di pembagian piring. mereka lantas mengambil piring itu dan mulai menaruh beberapa makanan di dalamnya.
Lalu kembali duduk di kursi masing-masing dan mulai makan.
Selesai makan Ben dan Fhia menghampiri keluarga Malik, mengucapkan Terima kasih banyak-banyak karena sudah hadir di pernikahan mereka. Ibu Haura, mama Sarah dan acil Aida bergilir memeluk Fhia dan memberikan doa-doa terbaik untuk pengantin baru.
Pesta pernikahan itu belum usai, tapi menjelang zuhur keluarga Malik pamit untuk pulang.
Mereka semua kembali ke hotel dan beristirahat.
Hingga saat jam 4 sore setelah melaksanakan salat ashar mereka semua berkumpul di kamar ayah Adam. Membicarakan rencana selanjutnya karena sepertinya tiap-tiap orang memiliki rencananya sendiri.
Bisa dipastikan bahwa mereka semua tidak kembali bersama saat pulang ke Jakarta.
"Jadi mau bagaimana?" tanya ayah Adam saat semua keluarganya sudah berkumpul. Di ruang tengah ini cukup untuk menampung mereka semua.
"Ayah dan ibu Haura masih akan tetap tinggal di sini, Rencananya kami akan menjual sembako murah di beberapa desa," Jelas Ayah Adam karena semuanya masih nampak diam.
"Aku ikut Mas," ucap acil Aida menyahuti, ingin ikut kegiatan kakaknya itu.
"Aku juga ikut melakukan kegiatan itu mengingatkan aku pada nenek Zahra." ini Mama Sarah menimpali.
Papa Agra dana Amang Yudha pun Setia mengikuti keinginan istri-istrinya itu. akhirnya para orangtua sepakat bahwa mereka masih akan tetap tinggal di Tangerang selama 2 hari. hari ini mereka akan tetap Istirahat di hotel, besok baru melaksanakan kegiatannya. Mungkin selesai sore, hingga keesokan harinya baru bisa pulang ke Jakarta.
"Sebenarnya aku ingin langsung pulang hari ini tapi sepertinya Bella lelah jadi aku akan pulang besok pagi." Azzam buka suara.
"Aku dan Azura akan pulang sore ini, besok pagi aku memiliki janji temu dengan kolega dan itu tidak bisa diundur," ucap Julian. Setelah kembali bekerja di Hotel milik keluarganya, Julian jadi semakin sibuk. Di awal tahun seperti ini banyak acara penting yang dilaksanakan di hotelnya.
Ayah Adam dan para orang tua yang lain menganggukkan kepalanya.
"Aku ikut," sahut Ali.
"Alesha, Agatha, Arnold dan Edward kalian bagaimana?" tanya papa Agra kepada 4 orang itu.
"Aku dan Agatha besok ada kuliah, tapi kalau Papa dan Mama tidak pulang aku bagaimana? Ayah Adam dan ibu Haura juga tidak pulang."Alesha yang menjawab dengan suaranya yang lesu, sedikit menyayangkan karena orang tuanya memiliki acara di sini, sehingga dia tidak bisa langsung pulang.
"Ya sudah kalian pulang saja, abang Arnold dan abang Edward akan menjaga kalian. Dan kamu Alesha, nanti tidur di mansion Ayah Adam tidak usah pulang ke rumah dulu. tunggu papa dan mama pulang baru nanti kita pulang ke rumah," jelas papa Agra.
Dan semua orang pun mengangguk setuju. Apalagi Arnold dan Edward yang merasa memiliki banyak kesempatan untuk berdua dengan sang kekasih. Membuat mereka tak lagi canggung karena tidak ada lagi pada orang tua di antara mereka.
Kedua pria ini menganggukkan kepalanya dengan antusias.
Setelah disepakati, akhirnya yang pulang hari ini mulai bersiap.
Beberapa pengawal pun dibagi dua untuk mengawasi keluarga Malik yang terpisah.
Dan saat waktu sudah menunjukkan jam 5 sore, mereka semua kembali ke Jakarta. Di mobil Julian mereka memutuskan untuk tidak memakai supir. Nanti Julian dan Ali akan saling bergantian membawa mobil itu.
Di mobil Arnold dan Edward mereka masih membawa supir.
Mereka bahkan tak henti-hentinya untuk tersenyum.
"Pak, hidupin lagu ya, biar aku ngak bosen," ucap Agatha pada sang supir.
"Baik Nona."
Dan tak lama setelahnya, lagu berputar di mobil yang dinaiki oleh Agatha dan Edward.
Ada untungnya juga lagu itu dihidupkan, jadi sang supir tidak akan mendengar pembicaraan Edward dan Agatha di belakang.
"Kamu tidak mengantuk?" tanya Edward pada sang kekasih.
"Capek sih, tapi belum ngantuk. bentar lagi juga magrib nanti kita berhenti di jalan. Nanti malam saja aku tidur. Kenapa Abang mengantuk?" tanya Agatha pula setelah dia selesai menjawab. Dia pun menatap lekat kedua mata sang kekasih.
Membuat keduanya sesaat saling pandang dengan tatapan yang begitu dalam. Diantara lagu yang sedang diputar dan cahaya senja yang sedikit masuk ke dalam mobil. membuat suasana mendadak jadi begitu romantis bahkan detak jantung Agatha yang stabil langsung berubah jadi berdebar.
Dengan kikuk Agatha sedikit menurunkan pandangannya, menarik nafas dan membuangnya pelan, lalu pura-pura melihat ke sembarang arah dengan canggung.
Edward ang tahu jika kekasihnya sedang malu hanya mampu mengulum senyum, dia ingin menarik kekasihnya untuk masuk ke dalam dekapan, namun masih merasa tak enak hati kepada sopir yang sedang ada di depan sana.
Hingga saat Maghrib tiba iring-iringan mobil mereka berhenti di salah satu masjid.
Mereka salat Maghrib berjamaah di Masjid itu, lalu mencari makan malam di sekitar masjid pula, ada beberapa tempat makanan yang bisa mereka kunjungi tanpa mencari tempat lagi.
Kali itu menu makan malam mereka adalah bebek panggang dan makan langsung menggunakan tangan. hal yang belum pernah Edward lakukan sebelumnya.
Caranya memegang makanan pun jadi bahan tertawaan semua orang.
"Abang kenapa makan hanya menggunakan dua jari, gunakan keempat ini, lihat aku," ucap Agatha, selalu memberikan contoh makan yang benar ketika menggunakan tangan.
Arnold, Julian dan Ali masih saja setia terkekeh melihat cara makan Edward itu, benar-benar terlihat aneh di mata mereka. hanya menggunakan jari telunjuk dan ibu jari saja seperti menggunakan sumpit.
"Sayang, berhenti tertawa nanti kamu tersedak," ucap Azura, sudah mengingatkan sang suami dia pun menatap tajam kepada Arnold dan Ali. Membuat kedua pria itu pun berhenti tertawa.
"Iya Maaf," jawab Julian dengan patuh, sementara Edward yang jadi bahan tertawaan pun mendengus kesal kepada 3 pria itu.
"Aku tidak bisa, suapi aku saja!" kesal Edward pada sang kekasih.
"Hih, gitu aja nggak bisa," keluh Agatha pula, namun meski mengeluh begitu dia tetap menyuapi Edward sehingga makanan di piring mereka benar-benar habis.
Akhirnya Edward lah yang berakhir tersenyum penuh kemenangan. Kini giliran Julian, Ali dan Arnold yang mendengus kesal, karena Edward memanfaatkan situasi untuk mendapatkan perhatian lebih dari Agatha.
"Kalau di suapi seperti ini aku mau setiap hari makan bebek panggang," ucap Edward saat mereka semua sudah mulai keluar dari kedai itu.
"Abang enak aku yang repot," keluh Agatha pula dengan bibirnya yang mengerucut.
Semua orang tergelak ketika mendengar jawaban Agatha itu, termasuk Edward. Agatha memang benar-benar tidak ada romantis-romantisnya.
...💕...
Jangan lupa like dan komen 💕