Bringing Back, My Wife

Bringing Back, My Wife
BBMW BAB 58 - Balas Dendam



Mobil Alesha dan Agatha terparkir sempurna di depan Cafe milik Arnold. Sang pemilik pun sudah menunggu mereka persis di depan pintu Cafe itu.


Berdiri tegap dengan melipat kedua tangannya di depan dada. menatap tajam pada dua gadis kecil yang berlari ke arahnya.


"Jam berapa ini?!" tanya Arnold dengan nada bossy, belum apa-apa seolah dia sudah jadi bos kedua remaja ini.


"Jam 7, nih lihat nih nih nih!" Alesha yang menjawab, menunjukkan jam yang tertera di layar ponselnya, jam itu menunjukkan waktu tepat pukul 7 pagi hari.


dan melihat itu Arnold menghembuskan nafasnya pelan seolah kecewa.


"Kalau abang bilang datang jam 7, harusnya kalian datang jam 06.30, itu tandanya kalian bersungguh-sungguh untuk magang di cafe ini. Bukannya datang jam 7 pas!" jawab Arnold dengan suaranya yang meninggi. Alesha menunduk dengan bibirnya yang mencebik sementara Agatha menunduk dengan takut-takut. Lagi-lagi keringat dingin membasahi telapak tangan Agatha.


"Masuk!" titah Arnold.


Dan kedua gadis itu mengekori Arnold seperti kerbau yang dicucuk hidungnya.


Arnold memperkenalkan Alesha dan Agatha pada karyawan pengurus Cafe ini. Mulai dari manajernya, kepala dapur, kepala pelayan, dan bagian HRD.


Alesha dan Agatha tercengang, keduanya langsung mengucapkan kata maaf karena datang terlambat.


Mereka pikir di jam seperti ini hanya akan ada abang Arnold saja di cafe, tapi ternyata dugaan mereka salah. Nyatanya para pengurus Cafe ini pun sudah datang kemari.


Tidak hanya sekali namun Agatha dan Alesha mengucapkan kata maaf berkali-kali, bahkan menundukkan kepalanya tanda hormat.


Dan Arnold mengulum senyum melihat wajah pias kedua Gadis itu, biasanya jam operasional Cafe ini memang bukan jam 7 tapi jam 8 pagi, namun untuk mengerjai kedua anak ini dia sengaja menugaskan kepada kepala bagian untuk datang lebih awal.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Azam dan Bella keluar dari dalam kamar berniat turun ke lantai 1 untuk sarapan bersama. Azzam lebih dulu menuruni anak tangga sementara Bella memanggil sang ayah terlebih dahulu untuk turun bersama.


"Agatha dan Alesha belum bangun?" tanya Azzam pada salah satu pelayan, saat dia sudah sampai di ujung tangga kedua kakinya sudah menginjakkan kaki di lantai 1.


"Sudah Tuan, nona Agatha dan nona Alesha juga sudah pergi ke cafe milik Tuan Arnold. Tadi mereka berdua juga sudah sarapan dan menitip pesan untuk pamit kepada anda dan Nyonya Bella." jelas sang pelayan.


Pelayan ini adalah pelayan yang tadi mengantar Alesha dan Agatha untuk keluar, dia sengaja menunggu di bawah tangga untuk menyampaikan pesan yang dititipkan oleh alesha kepada Azzam dan Bella.


"Sepagi ini?!" tanya Azzam dengan nada tidak terima, dia tahu betul jam berapa jam operasional cafe milik Arnold.


"Iya Tuan."


"Wah wah wah, benar-benar tidak bisa dipercaya," gerutu Azam. belum sempat dia kembali menggerutu Bella dan ayah David datang menghampiri.


"Ada apa Bang?" tanya Bella dan Azzam pun menjelaskan semua yang terjadi. tentang Agatha dan Alyssa yang sudah pergi ke cafe Arnold mendengar itu Bella pun tertawa kecil dia tahu betul jika Arnold pasti mengerjai kedua adiknya.


"Ya sudah Bang biarkan saja, yang penting Agatha dan alesha dapat materi kuliahnya di sana, itu kan yang penting?" tanya Bella dan Azzam pun menganggukkan kepalanya, mereka semua lantas melanjutkan langkah menuju meja makan.


Dan selesai sarapan Azam pun berangkat pergi ke kantor, Bella mengantar suaminya sampai di depan teras rumah.


"Abang, nanti aku ajak ayah main ke rumah Ayah Adam ya? aku juga mau bertemu dengan Azura," ucap Bella sebelum Azam masuk ke dalam mobilnya.


Dan sebelum menjawab Azam mengelus dengan sayang pucuk kepala sang istri hingga sampai membelai lembut wajah Bella.


"Tidak ah, aku makan siang bersama ayah Adam saja," jawab Bella sambil menggelengkan kepalanya dan Azzam pun mengangguk setuju setuju saja.


Sebelum benar-benar masuk ke dalam mobil Azam mengecup sekilas bibir sang istri lalu mencium keningnya.


Dan Bella pun mencium punggung tangan kanan sang suami, dengan bibir yang sama-sama mengukir senyum mereka berpisah.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di cafe Arnold.


Alesha dan Agatha mulai masuk ke dalam ruangan Arnold. Di sini Arnold tidak memiliki jabatan apapun, dia hanya sebagai pemilik, bertugas mengawasi berjalannya operasional Cafe ini.


Sebenarnya bukan pertama kali ini saja ada anak kuliah magang di cafe ini dan biasanya mahasiswa magang itu akan diajari oleh manajer cafe.


Tapi kali ini lain, karena kedua mahasiswi magangnya spesial maka Arnold sendirilah yang akan  membimbing keduanya.


Arnold mengeluarkan beberapa proposal yang berada di dokumen arsip.


"Ini contoh proposal untuk mendirikan cafe ini, semua perizinannya juga ada disana. kalian tidak boleh membawa pulang itu jadi pelajari di sini dan pahami," jelas Arnold, dia dalam mode serius bahkan wajah selengekan nya pun tidak nampak lagi.


Juga Alesha dan Agatha yang berwajah serius, menganggukkan kepalanya patuh dan mulai mengambil beberapa proposal itu lalu dibacanya dengan sungguh-sungguh.


"Abang_"


"Jangan panggil aku Abang jika sedang magang!" potong Arnold pada ucapan Agatha. Gadis yang ditegur ini mendadak menunduk dan bibirnya mencebik, kedua netranya juga mulai berkaca-kaca. hatinya yang lembut membuat dia tidak bisa dibentak.


Dan Alesha yang mendengar ucapan tinggi Arnold pun mendengus kesal.


"Panggil dia Pak," bisik Alesha pada Agatha, namun berbisik dengan suara yang cukup keras, hingga Arnold pun masih mampu mendengarnya.


Dan satu kata Pak itu membuat Arnold mendelik. Bukan panggilan Pak yang dia mau, tapi Tuan.


Sementara Agatha pun langsung menganggukkan kepalanya kecil.


"Pak, ini biaya materialnya dibuat lebih atau harga pasar yang sekarang?" tanya Agatha dengan wajahnya yang kembali serius.


Dan Arnold yang mendengar panggilan itu membuat kepalanya berdenyut, Pak terdengar sangat tidak keren di telinganya. Juga tidak selaras dengan wajahnya yang tampan rupawan.


"Lakukan survey pasar dulu, selama sebulan ini berapa harganya, naik turunya, lalu ambil rata-ratanya. Dan satu lagi, jangan panggil aku pak," jawab Arnold terdengar seperti menggerutu.


Agatha kembali murung karena merasa dia selalu salah, lain halnya dengan Alesha yang mengulum senyum merasa menemukan banyak celah untuk kini mengerjai pemilik cafe ini.


Untuk dia balas dendam.


"Agatha, kalau begitu panggil dia Om," bisik Alesha, lagi-lagi dengan suaranya yang jelas.


Dan seketika itu juga, kepala Arnold rasanya mau pecah.


Om? Arnold menggelengkan kepalanya, Tidak!