Bringing Back, My Wife

Bringing Back, My Wife
BBMW BAB 56 - Poor Arnold



Setelah duduk bersama dengan Ben di meja restoran, ponsel Azam bergetar. Dilihatnya ada panggilan masuk dari Arnold dan Azam langsung menjawabnya.


"Dimana?" tanya Arnold setelah keduanya saling mengucap salam.


"Di restoran MK, aku sedang bersama Ben."


"Baiklah, aku akan kesana."


"Hem."


Dan panggilan itu terputus. Azam dan Ben pun mulai melakukan pemesanan, Azam juga langsung memesankan untuk Arnold, ia sudah cukup menghafal apa makanan kesukaan sang sahabat untuk makan siang seperti ini.


Pesanan datang lebih dulu dan Arnold belum juga tiba. Dia baru saja memasuki lobby gedung MK. Naik beberapa menggunakan lift baru akhirnya sampai di restoran. Ben yang duduk menghadap ke arah pintu pun melambai kepada Arnold, memintanya untuk menghampiri.


Dan kini ketiga pria tampan ini duduk bersama, pemandangan indah untuk siapapun yang menatapnya.


"Sepertinya rencana kita untuk  pergi ke Villa ayah Adam akan susah ya? kalian sudah sibuk sendiri," ucap Arnold. Tadi malam di grup chat whatsapp mereka, Ryu dan Haruka mengatakan jika dalam 1 tahun terakhir ini mereka tidak akan berkunjung ke Indonesia. Haruka pun sudah dinyatakan hamil, namun Haruka memiliki tubuh yang lemah hingga membutuhkan istirahat total. Bahkan tidak boleh melakukan pekerjaan rumah.


"Jangan menghakimi, kamu menikah dulu baru tau apa yang kami rasakan," balas Azam pula dan Ben hanya mengulum senyum.


"Kamu juga Ben, sepertinya kita semua harus segera menikah agar terasa adil," ucap Azam, mengambil kesimpulan dari masalah yang paling sering mereka hadapi saat ini yaitu kekesalan Arnold.


"Menikah dengan siapa? aku tidak mau terburu-buru, menikah itu perkara hidup bukan hanya merubah status," balas Arnold pula.


"Kalau begitu jangan banyak mengeluh karena kami sudah berkeluarga." Azam menanggapi, hingga keduanya saling tatap dengan tatapan permusuhan.


Ben tidak peduli, ia asik sendiri dengan makan siangnya, sampai akhirnya Arnold kini menatap curiga pada Ben.


"Kenapa kamu diam saja Ben? harusnya kamu membelaku, atau jangan-jangan ..." ucapan Armor menggantung selalunya saling tatap dengan Azzam dengan pikiran di dalam kepala yang sama Ben pasti sudah memiliki kekasih.


"Sial!" umpat Arnold dan Azam terkekeh. apalagi saat dilihatnya Ben yang memperlihatkan. senyum kuda. di antara mereka semua memang belum ada yang tahu antara hubungan Ben dan Fhia.


"Siapa kekasihmu? Kenapa tidak pernah kamu perkenalkan kepada kami?" tanya Arnold menggebu bercampur kesal karena Merasa dikhianati oleh Ben.


"Karena kalian sudah mengenalnya," jawab Ben dan makin terperangah lah Azzam dan Arnold dibuatnya.


"Siapa?" tanya Azzam tak kalah antusias dan band menjawabnya dengan penuh percaya diri dan kebanggaan


"Fhia," jawab Ben lantang.


Azzam dan Arnold menganga dengan kedua netra yang membola.


"Wah wah wah, dasar penghianat. Ternyata di belakangku kamu menjalin hubungan dengan Fhia, benar-benar pria licik," sahur Arnold sungguh kesal.


Kini tersisa dia seorang diri yang belum memiliki tambatan Hati.


"Huh, Untunglah aku sudah memiliki penggantimu, Edward masih sendiri sama seperti aku," timpal Arnold dengan perasaan yang sedikit lega ia bahkan sampai menarik dan menghembuskan nafasnya pelan.


Dan Azam yang mendengar itu langsung tergelak, Azzam bahkan sampai terbatuk dibuatnya, Arnold tidak tahu jika pagi ini Edward sudah melamar adiknya kepada ayah Adam.


"Kamu kenapa?" tanya Arnold dan Ben pun menunggu jawaban Azam.


"Maaf Nold, tapi Edward sudah lebih dulu melamar Agatha hahaha!" dan makin tergelak lah tawa Azam.


Jika boleh, ingin sekali rasanya Arnold mencekik Azzam hingga suaranya habis.


"Kalian semua benar-benar keterlaluan, disaat aku sibuk bekerja kalian malah sibuk menggoda wanita, menjijikan!" kesal Arnold.


Kini bukan hanya Azam yang tergelak namun Ben pun ikut terkekeh pula.


Makan siang itu terus berlanjut sampai makanan yang tersaji di piring masing-masing habis. mereka berpisah menyisakan Arnold yang merasa kesal juga sedikit menyesal siang ini dia makan siang bersama Azzam dan Ben.


"Hih! menyebalkan sekali," rutuk Arnold. Ia segera masuk ke dalam mobilnya dan pergi dari gedung Malik Kingdom.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sepanjang perjalanan, Arnold hanya fokus menatap jalanan. Pertemuannya dengan Azam dan Ben membuatnya kembali mengulik apa yang kini ada di dalam hatinya. 


Sejak kecil ia sudah mencintai Bella dan itu bukanlah rasa yang mudah untuk dilupakan. bahkan hingga kini diam-diam Arnold masih tersenyum saat melihat Bella tertawa. 


Yang bisa Arnold lakukan hanyalah bersandiwara seolah perasaan kepada Bella benar-benar sudah habis. 


"Hidupku menyedihkan sekali," gumam Arnold, lalu terkekeh menertawakan diri sendiri. sampai akhirnya dering ponselnya mencuri perhatian arnold. Karena dia sedang berhenti di lampu merah Arnold pun segera memeriksa siapa yang menelpon, ternyata ada panggilan masuk dari Papa Agra. 


Sedikit heran kenapa Papa Agra menelponnya, namun tidak ingin membuat Papa Agra menunggu lama dia pun langsung menjawab panggilan telepon itu. 


"Assalamualaikum, Pa," jawab Arnold dan papa Agra pun membalas salam itu. Arnold dan semua sahabat Bella memang manggil Agra dan Sarah menggunakan panggilan Papa dan Mama sama seperti Bella. Juga memanggil Adam dan Haura dengan sebutan Ayah Adam dan ibu Haura. 


"Alesha dan Agatha ada tugas magang 3 hari di cafe, Papa ingin mereka magang saja di tempatmu. Bagaimana? boleh tidak? sebenarnya Papa tidak butuh persetujuan mu papa akan tetap masukkan mereka ke sana. Jadi kamu tolong dibimbing dan diawasi," jelas Papa Agra setelah arnol bertanya ada apa. dan Arnold yang mendengar ucapan Papa Agra mengulum senyumnya.


"Baik Pa," jawab Arnold singkat dan setelahnya panggilan itu terputus. Arnold langsung menghubungi Alesha saat itu juga. memasangkan earphone di telinganya dan mulai melajukan mobil kembali. Lalu Tak lama kemudian panggilannya kepada Alesha terjawab.  


"Abang!" sahut alesha dengan suaranya yang riang, dan mendengar suara itu bibir Arnold pun tertarik otomatis untuk membentuk sebuah senyuman. 


Dan belum sempat Arnold mengatakan tentang pesan Papa Agra tadi Alesha sudah lebih dulu mengatakannya juga. 


Saat ini Dia sedang berada di kampus dan ada briefing untuk acara magang besok, sebenarnya Alesha meminta kepada ayahnya untuk dicarikan tempat magang tidak harus di tempat Abang Arnold tapi ternyata Papa Agra hanya mengizinkan Alesha dan Agatha magang di sana. 


Ya sudah, akhirnya mereka memutuskan untuk magang di salah satu kafe milik Abang arnold.


Dan dalam panggilan telepon Arnold dan Alesha ini mereka membuat Janji temu besok di salah satu Cafe milik Arnold. 


"Pakai celana jangan pakai rok." Arnold mengingatkan standar penampilan karyawan di cafenya. 


"Rambut juga harus diikat rapi."


"Iya iya Bang," jawab Alesha pasrah, menatap kearah Agatha yang duduk disampingnya dengan bibir mencebik.