Bringing Back, My Wife

Bringing Back, My Wife
BBMW BAB 46 - Bahagia Dan Takut



Jam 8 pagi, mereka semua sudah duduk di meja makan di apartemen Azam. Bella duduk diantara ayah dan suaminya. Sementara Edward di samping sang ibu dan om Andrew duduk di bagian kepala keluarga.


Mereka sarapan bersama dengan sesekali diselingi tawa, kini keluarga Edward adalah keluarga Bella. Sedikit canggung bagi Azam karena sebelumnya ia merasa ini adalah keluarga musuhnya dalam memperebutkan sang istri.


"Bagaimana jika setelah ini kita ke rumah papa Agra dan mama Sarah?" tawar Bella pada sang ayah, juga pada semua orang. Bella berucap dengan wajahnya yang riang. Seolah ingin segera menyampaikan berita baik ini pada kedua orang tuanya.


Ayah David pun mengangguk setuju, ia pun ingin mengucapkan banyak terima kasih pada keluarga Malik.


Selesai sarapan, Bella dan Azam kembali ke kamarnya untuk bersiap, sementara keluarga paman Andrew dengan setia menunggu.


"Bang, Jangan lupa, Dinda sekarang bukan lagi Dinda, tapi Arabella dan mereka semua memanggilnya Bella," ucap Andrew pada sang kakak David.


David pun menyadari itu, namun nama yang ia ingat adalah Dinda, nama yang ia dan sang istri berikan untuk sang anak.


"Sekarang Bella bukan hanya anak Abang, tapi juga anak kedua orang tuanya disini," jelas Andrew lagi. Bukannya dia ingin menghilangkan kebahagiaan yang kini sedang dirasa oleh sang kakak. Tapi Andrew tidak ingin kakaknya salah mengambil langkah, bersikap egois dan menginginkan anaknya kembali untuk dia seorang. Apalagi kini Bella pun sudah menikah, sudah menjadi tanggung jawab suaminya dalam hal apapun.


Dan David hanya terdiam, semua ucapan sang adik ia benarkan. Namun memang benar pula jika ia ingin mengambil Dinda kembali. Membawanya pulang dan mulai kehidupan baru di Singapura.


25 tahun berpisah, rasanya David tidak ingin kembali itu terulang. Setelah melihat Dinda, dia ingin sang anak ikut pulang.


Namira dan Edward pun hanya diam, mereka tidak ingin kebahagiaan ini akan menimbulkan masalah baru. Pun Edward yang ingin mereka dan keluarga Malik baik-baik saja.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di dalam kamar.


Bella bersiap dengan bibirnya yang terua mengukir senyum. Azam yang memperhatikan pun ikut tersenyum pula. Bersyukur pertemuan ini akan diterima oleh sang istri.


Awalnya Azzam mengira Bella akan berkeras hati tidak menerima sang ayah.


"Abang, tolong kancingkan bajuku,"  pinta Bella, resleting di belakang punggungnya tidak bisa ditarik sampai ke atas.


Azam yang dipanggil pun mendekat, berdiri persis di belakang sang istri yang kini berdiri di cermin tinggi.


Bukannya langsung menarik kanding baju itu, Azam malah menciumi punggung sang istri lalu memeluk Bella erat, melingkarkan kedua tangannya di perut Bella.


"Kamu bahagia?" tanya Azam, kini ia menciumi tengkuk Bella yang masih terbuka.


"Abaang, geli," jawab Bella. Bukannya menjawab dia malah melenguh.


"Kamu sampai lupa dengan anak kita ya?" tanya Azam lagi hingga membuat kedua netra Bella membola. Benar saja, ia bahkan sampai lupa tentang kabar bahagia itu, tentang kehamilannya, tentang buah cintanya bersama Azam.


"Ya Allah Bang, iya aku lupa, maaf ya," sahut Bella, ia pun memutar badannya dan langsung mencium bibir sang suami tanda ucapan rasa bersalah. Dan Azam menyambutnya, menelusupkan lidahnya masuk ke dalam dengan satu tangannya yang meremaat lembut salah satu buah sang istri.


Jujur saja, Azam pun takut sang istri akan lebih memilih ikut sang ayah ketimbang dirinya. Sedangkan Azam tidak ingin mereka hidup terpisah.


"Abang, di depan sedang banyak orang," ucap Bella, ie mencengkram kuat rambut sang suami menahan sesuatu yang seolah ingin meledak di tubuhnya.


Bukannya berhenti, Azam malah menggendong sang istri dan mendudukkan Bela di meja rias sang istri. Beberapa alat make up Bella berjatuhan namun keduanya tidak peduli. Bella pasrah tiap kali Azam menguasai dirinya, karena ini memanglah hak Azam dan kewajiban Bella.


"Sayang, lakukan dengan cepat," pinta Bella, Azam tersenyum saat melihat sang istri yang sedikitpun tidak menolak,  bahkan membuka kakinya lebar memberinya izin masuk.


"Abang," lenguh Bella, kedua tangannya mencengkram  kedua lengan Azam, melampiaskan hasrat agar tidak jadi desah. Dan Azam pun memacu tubuhnya mereka sama-sama mendapat pelepasan.


"Abang nakal," keluh Bella dengan nafasnya memburu.


"Apa Abang takut aku akan pergi?" tanya Bella, tubuh keduanya masih menyatu dengan Azam yang berdiri dan Bella duduk di meja rias, bahkan denyut keduanya pun masih dirasa satu sama lain.


"Bagaimana kamu tahu?" jawab Azam, dengan pertanyaan pula.


"Aku tidak mungkin meninggalkan Abang," jawab Bella, ia menangkup sajah sang suami dan mengecup bibir itu.


"Kita ajak ayah David untuk tinggal bersama kita saja, bagaimana?" tawar Bella dan Azam menganggukkan kepalanya setuju. Jika seperti ini tidak ada lagi yang perlu Azam cemaskan.


Bella mendesis saat Azam mulai mencabut diri. Keduanya lalu terkekeh, kemudian bersiap dengan buru-buru.


Mereka semua pergi ke rumah papa Agra dan mama Sarah menggunakan 2 mobil. Azam mengemudikan mobilnya sendiri bersama Bella dan ayah David di kursi tengah. Dan satunya lagi Edward bersama kedua orang tuanya.


15 menit di perjalanan, akhirnya mereka sampai di rumah papa Agra. Rumah yang juga Bella tempati saat ia kecil dan beranjak dewasa, rumah penuh kenangan indah keluarga bagi Bella. 


Mereka mengetuk pintu dan dibukakan oleh seorang pelayan. Bella memimpin langkah untuk masuk dan mengajak semua orang menuju ruang tengah. 


"Assalamualaikum Ma, Pa," ucap Bella pada mama Sarah dan Papa Agra yang sedang bersantai disana. 


Mereka berdua sedikit terkejut saat melihat Bella dan Azam tidak hanya datang berdua, namun bersama dengan tiga tamu lainnya. 


Kecanggungan pun terjadi, sampai akhirnya kini mereka semua duduk di ruang tengah itu. Azam yang buka suara, memperkenalkan keluarga Malik dengan keluarga Saverun. 


Juga menjelaskan tentang Ayah dan David dan Bella. 


Ayah Agra dan mama Sarah sama-sama mengucap syukur saat mendengar kabar bahagia itu, meski terbesit di dalam hati mereka tentang sebuah ketakutan. Takut Bella pergi dan menganggap mereka asing. Terlebiu keluarga Saverun pun keluarga terhormat di Singapura sana. 


Namun tidak ingin menunjukkan kesedihannya, mama Sarah hanya mampu menangis dengan bibir yang tersenyum.


Bella tak kuasa melihat itu, ia lantas bangkit dari duduknya dan memeluk erat sang ibu. Pun mama Sarah yang membalasnya tak kalah erat. Lalu papa Agra ikut memeluk mereka berdua. 


Hati David terenyuh saat melihat pemandangan itu. Ia sadar, 25 tahun memang bukanlah waktu yang sebentar, dan selama itu pula kedua orang tua Bella adalah mereka. 


David pun menangis namun dengan segera ia hapus. Lalu merasakan pundaknya di elus oleh sang adik, Andrew yang menoleh dan menganggukkan kepalanya kecil. Memberi isyarat bahwa semuanya akan baik-baik saja. Yang terpenting kini adalah mereka sudah menemukan Dinda, menemukan Bella.