Bringing Back, My Wife

Bringing Back, My Wife
BBMW BAB 50 - Leci Float



Selesai suara klakson menghilang, kini dering ponsel Bella yang memenuhi mobil ini.


Dengan membenahi bajunya yang sedikit acak-acakan, Bella merogoh ponselnya di dalam tas lalu melihat ada panggilan masuk dari Agatha.


"Siapa?" tanya Azzam


"Agatha."


Setelahnya Bella pun langsung menjawab panggilan itu. Agatha menanyakan nomor ponsel Abang Edward, Agatha yang polos pun mengatakan semuanya kepada sang kakak ipar bahwa dia telah menghilangkan nomor ponsel Abang Edward hanya gara-gara keringat dingin.


Bella terkekeh, adik iparnya ini selalu saja bisa membuatnya tertawa. Sikap polos Agatha membuatnya terlihat semakin menggemaskan.


"Iya, akan mbak kirimkan nomor nya," jawab Bella setelah Agatha selesai bercerita.


Awalnya yang akan menghubungi Bella adalah Alesha, tapi urung karena mendadak Agatha mengatakan biar dia saja yang menghubungi. takut semakin malu jika dia meminta bantuan Alesha hanya untuk meminta nomor Abang Edward.


Setelah panggilan itu terputus Bella langsung mengirimkan nomor ponsel Edward pada sang adik ipar.


Agatha yang sedang menunggu dengan gugup pun langsung berdebar saat melihat satu pesan masuk berisikan sebuah nomor. Kedua tangannya kembali mengeluarkan keringat dingin, lalu dengan segera dia menyimpan nomor ponsel itu.


Ditulisnya dengan nama Abang Edward.


Setelah nomor tersimpan Agatha pun kembali ragu, mendadak takut dan malu untuk menghubungi lebih dulu.


"Bagaimana ini? ku hubungi atau tidak ya? kalau tidak aku hubungi bagaimana caranya aku bisa mengembalikan jas itu?" ucap Agatha, dipenuhi banyak tanya.


Tidak ingin jadi pengecut, Agatha pun langsung menekan tanda panggil di ponsel itu.


Getar ponsel Edward langsung terdengar oleh sang empunya. Edward yang masih berdiri di depan lemari pun langsung berlari menjangkau ponselnya di atas tempat tidur.


Bahkan terdengar bunyi Brug! saat Edward menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang dan segera mengambil ponselnya.


"Nomor baru," ucap Edward, lalu mengulum senyum. Dia yakin 100 persen jika ini adalah nomor Agatha, nomor cantik seperti sang pemilik. Memiliki nomor ujung 0001.


Lantas tanpa menunda, Edward pun menjawab panggilan itu. Lalu terdengar suara kecil yang mengucapkan salam di ujung sana.


Suara yang begitu menggemaskan dan terdengar merdu.


"Abang apa masih di rumah mbak Bella? aku antar ke sana saja ya Jas nya?" tawar Agatha, satu tangannya terus meremat-meremat merasa gugup. Bahkan berulang kali menelan ludahnya dengan kasar.


"Tidak usah, aku yang akan menemui mu, kamu di rumah kan?"


"Sekarang iya, tapi nanti tidak," jawab Agatha, sedikit kecewa, sepertinya akan gagal lagi untuk mengembalikan jas ini, karena dari jam 12 siang sampai jam 6 sore dia ada perkuliahan.


"Kenapa?"


"Nanti aku kuliah."


Makin tersenyum lebar lah Edward saat mendengar jawaban itu, seolah menemukan peluang besar untuk bertemu dengan Agatha tanpa ada bayang-bayang keluarga mereka.


"Baiklah, nanti aku yang akan menemui mu, kamu bawa saja jas nya," putus Edward akhirnya dan Agatha tidak bisa mengelak.


semakin cepat ia mengembalikan jas ini maka semakin bagus juga untuk mereka.


Agatha mengirimkan alamat kampusnya kepada Edward dan membuat janji temu jam 3 sore, saat ada jam istirahat Agatha sebelum kembali masuk di jam 4.


Agatha pun menceritakan itu semua kepada sang sepupu, apalagi Agatha dan Alesha kuliah ditempat yang sama. Sementara Ali berkuliah di tempat lain, beda universitas dengan Agatha dan Alesha.


Dan tepat jam 3 sore, Edward benar-benar mendatangi kampus Agatha. Edward memarkirkan mobilnya di area parkir gedung belajar Agatha. Dan dari tempatnya duduk ini ia melihat gadis cantik itu sedikit berlari menghampiri mobilnya.


Entah kenapa, hati Edward berbunga-bunga saat melihat Agatha yang berlari seperti itu, mendadak kini ia sedang berada di Jepang dan menikmati musim gugur bunga sakura.


Indah sekali.


Tok tok tok.


Agatha mengetuk jendela kaca di kursi kemudi Edward, bukannya membuka pintu, Edward malah menurunkan kaca mobilnya.


Meminta Agatha untuk naik ke dalam mobilnya karena dia sudah membelikan beberapa cemilan.


Agatha yang merasa tidak enak hati untuk menolak pun hanya menurut. Terlebih kini mereka adalah saudara, pikir Agatha.


Lantas dengan semua keraguannya, Agatha masuk ke dalam mobil Edward dan duduk di kursi penumpang. Lalu melihat banyak makanan yang dibeli di K.F.C, tidak hanya ayam goreng dan kentang goreng, ada pula dua minuman di sana.


"Mau Kola atau Leci Float?" tawar Edward dan Agatha menjawab ...


"Leci Float."


Lama kelamaan tidak ada lagi canggung diantara mereka, asik makan ayam goreng dan Edward terus bertanya kegiatan gadis kecil ini selama di kampus.


Saat edward memberikan tissue pada Agatha pun Agatha langsung mengambilnya, membersihkan sudut bibirnya dan kemudian makan lagi.


Dan sialnya hanya makan seperti itu saja, Agatha sudah berhasil membuat Edward terpesona.


Sial. umpat Edward di dalam hati.


Setelah semua makanan habis, Agatha pun mengeluarkan jas Edward di dalam tas nya. Edward yang mengetahui niat Agatha pun mendadak tidak suka.


Lantas mencari ide secepat kilat agar jas itu tidak kembali kepadanya dan tetap berada di gadis ini.


Melihat leci Float Agatha masih ada isinya, Edward pun langsung menyenggol gelas plastik itu dan menumpahkannya.


"Astagfirulahalazim!" ucap keduanya kaget, Edward bahkan langsung buru-buru memberikan banyak tissue pada sang gadis.


Namun sayang, usaha mereka sia-sia, leci float itu tetap berhasil membasahi gaun panjang milik Agatha.


"Maafkan aku, aku sungguh tidak sengaja," ucap Edward bohong.


"Jas itu tidak perlu kamu kembalikan sekarang, gunakanlah untuk menutup gaun mu yang basah," timpa Edward dengan cepat sebelum Agatha mengembalikan jas nya.


Dan kini Agatha di ambang kebingungan, antara menyerahkan jas itu atau kembali memakainya.


"Tidak usah Bang, aku bisa meminjam jaket temanku yang lain, Abang kan pasti mau kembali ke Singapura," cicit Agatha, bicara dengan pelan dan terdengar takut.


Dan Edward yang mendengar bahwa Agatha akan meminjam jaket temannya yang lain pun berhasil membuat Edward tak suka.


Mendadak posesifnya muncul dengan tiba-tiba. Padahal mereka bukan siapa-siapa, terbilang saudara jarak jauh.


"Kalau aku bilang pakai jas ku ya pakai jas ku, jangan pinjam punya orang lain," jawab Edward dengan suaranya yang mulai terdengar dingin. Ia bahkan mengambil jasnya ditangan Agatha dan langsung mengikat kedua lengannya di seluruh pinggang sang gadis.


Tidak peduli meski Agatha menahan nafas merasa gugup.


Leci float itu tumpah dan membuat gaun bagian samping dan belakang Agatha jadi basah.


"Pakai Jas ini, mengerti?"


Agatha mengangguk pasrah, meski begitu jantungnya berdebar makin tidak karuan.


"Bagus, itu baru anak pintar," ucap Edward lagi, tanpa sadar satu tangannya mengelus pucuk kepala Agatha dengan sayang.


Dan makin melayang lah Agatha dibuatnya.


Karena sejauh ini memang hanya Edward lah yang memperlakukannya se intim ini. Membuat jantungnya berdetak di luar kendali.


"Aku turun Bang," pamit Agatha dan Edward menganggukkan kepalanya.


"Hem, kita akan sering bertemu," jawab Edward.


Agatha hanya mampu terkejut namun tak kuasa untuk kembali menjawab. Tidak berani bertanya lebih apa maksud ucapan itu.


Sering bertemu? apa maksudnya? sementara mereka berada di negara yang berbeda.


Edward akan segera kembali ke Singapura sementara ia tetap di Indonesia.


Agatha turun dari dalam mobil dengan perasaan yang entah, seolah ada rasa berat yang mengganjal.


Dan Edward pun juga merasakan itu, seolah tidak rela dengan perpisahan ini. Melihat Agatha yang pergi meninggalkannya.


Apalagi tidak ada pelukan ataupun ciuman sebagai salam perpisahan.


Rasanya berat sekali.


"Kenapa lama sekali?" tanya Alesha pada sang sepupu, sedari tadi ia menunggu Agatha di kursi tunggu lantai 1 gedung perkuliahan mereka.


Belum sempat menjawab, Agatha sudah lebih dulu bersendawa.


Heeek! sendawa Agatha yang kekenyangan.


"Abang Ed beli K.F.C, mau nggak ku makan gak enak, jadi ku makan semua, terus leci Float nya tumpah, jas nya nggak jadi ku balikin," jelas Agatha rinci dan lengkap, seraya menunjuk jas yang sudah ia gunakan di pinggang.


Dan berhasil membuat Alesha tergelak. Setelah tawanya reda, Alesha mengandeng lengan Agatha dan menuju kelas mereka.