
Happy reading
...💕...
"Abaaang, Julian dan Azura ada di taman kota. Ali juga menyusul kesana. Aku mau ikuuut," rengek Bella, dia melempar asal ponselnya diatas ranjang dan mode manja pada sang suami. Bergelayut di lengan kiri Azam dan sama-sama duduk di sisi ranjang.
Baru saja dia melihat status whatsapp dari iparnya itu, duduk di alun-alun kota dan menikmati indahnya suasana malam kota Tanggerang.
Bella juga ingin merasakanya, benar-benar ingin ikut.
"Tidak boleh," jawab Azam.
2 kata yang mampu membuat tubuh Bella terasa lemas, tidak bersemangat seperti tadi.
Belum sempat Bela kembali menjawab Adam sudah lebih dulu menceramahi istrinya itu.
"Saat ini sudah larut sayang, angin malam tidak baik untukmu, juga anak kita. Bagaimana jika kamu masuk angin? nanti akan berpengaruh ke kandungan kamu, kita bisa pergi ke sana lain kali, tidak harus sekarang," Timpal Azzam panjang kali lebar, telinga Bella sampai terasa panas mendengarnya.
"Aku kan bisa pakai jaket, abang juga bisa memelukku kalau aku kedinginan," cicit Bella dengan wajahnya yang menunduk.
"Tidak." Balas Azam singkat, Bella tidak bisa membantah lagi, dia hanya bisa pasrah dan menurut atasnya keinginan sang suami. lagipula ini semua memang untuk kebaikan dirinya sendiri dan juga anak mereka.
Bella menghembuskan nafasnya berat lalu segera berbaring di atas ranjang, memeluk guling memunggungi suaminya
Azam mengulum senyum, dia tahu istrinya sedang kesal namun tetap mencoba untuk menuruti semua keinginan dia.
Azzam lantas mematikan lampu utama kamar tidur mereka lalu setelahnya ikut berbaring bersama sang istri, di belakang punggung Bella, Azam langsung memeluk tubuh istrinya erat, mengelus perut buncit itu dan menciumi tengkuknya.
"Jangan marah atau akan akan membuatmu mendesaah."
"Abang!" keluh Bella, namun bibirnya tak kuasa untuk tidak mengukir senyum.
Lalu yang terjadi setelahnya adalah Bella benar-benar mendesah. Karena Azam terus memainkam tangannya masuk disela-sela paha. Membuatnya basah tapi tidak melakukan penyatuan, karena belum mendapatkan lampu hijau dari dokter kandungan mereka.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di alun-alun kota.
Ali memarkirkan mobilnya di salah satu sudut. Lalu kembali menghubungi abang Julian untuk tau posisi kakak iparnya itu.
Masih dengan sambungan telepon yang terhubung, Ali keluar dari dalam mobilnya dan berjalan mengikuti instruksi Abang Julian. Sampai akhirnya dia melihat di ujung sana Mbak Azura yang melambaikan tangannya, Ali pun tersenyum kemudian melangkah lebih cepat menuju sang kakak dan sambungan telepon itu pun dimatikan.
"Kamu hanya sendiri, mbak kira Agatha dan Alesha akan ikut," ucap Azura saat Ali sudah duduk bersama dengan Julian.
"Mana boleh mereka keluar, nanti malah pacaran sama abang Arnold dan abang Ed," jawab Ali hingga membuat Azura dan Julian terkekeh.
"Kamu kesini bunda sama ayah tahu nggak?"
"Tau kok," jawab Ali pada pertanyaan abang Julian.
Mereka bertiga terus menikmati indahnya suasana malam itu. Sesekali ada pengamen yang datang dan mereka ikut bernyanyi menikmati.
Ponsel Ali yang terus berdering cukup mengganggu Julian dan Azura, mereka jadi terua teralihkan pada ponsel itu.
"Ali, kamu nggak ada niat mau jawab teleponnya?" tanya Azura, menyindir sang adik.
Yang disindir malah terkekeh, menyuapi sang kakak dengan sosis bakar.
"Iya mbak ini ku jawab."
"Siapa tau panggilan penting, jangan didiemin gitu."
"Iya iya," jawab Ali, dia sudah biasa di cereweti Azura. Lebih senang kakaknya selalu mengomel seperti ini ketimbang dia di diami, seperti saat galau tentang abang Labih dulu.
Ali langsung mejawab teleponnya, tidak menjauh dari Azura dan Julian. Kedua sepasang suami istri ini masih mampu mendengar ucapan Ali, namun tidak mampu mendengar suara telepon diujung sana.
Dan panggilan itu terputus.
Azura terkekeh, bahkan sampai memegangi perutnya yang sakit. Jadi teringat ayah Adam ketika mendapat panggilan dari koleganya.
Selalu menjawab dengan singkat lalu mati.
"Ali, mana boleh orang saling telepon seperti itu, hargai temanmu, bicara yang banyak juga," ucap Azura setelah tawanya mereda, dia gemas sekali ingin selalu menceramahi sang adik.
"Abang Julian, istri abang dari tadi mengaturku terus, tolong katakan padanya, aku sudah dewasa tidak perlu diatur-atur lagi," adu Ali pada sang kakak ipar, bercanda untuk mempermainkan sang kakak.
"Kalau di luar seperti ini aku tidak bisa membuat dia jadi penurut, tapi kalau di kamar bisa."
Plak! Azura dengan cepat langsung memukul lengan suaminya.
Julian dan Ali langsung tergelak. Mereka terus saling bertukar cerita, sesekali meledek dan berakhir tertawa.
Hingga saat jam 11 malam mereka memutuskan untuk kembali ke hotel.
Ali mengemudikan mobilnya sendiri di depan sementara Julian dan Azura yang bersama supir mengekori Ali dari belakang.
15 menit kemudian mereka sampai, memarkirkan mobilnya di basement hotel, di barisan mobil milik keluarga Malik.
"Langsung tidur Li," ucap Azurq saat sang adik sampai di depan pintu kamarnya.
"Iya Mbak," jawab Ali patuh lalu dengan segera masuk.
Kemudian Azura dan Julian pun masuk ke dalam kamar mereka sendiri. Azura sedikit menjerit saat tiba-tiba Julian menggendongnya ala pengantin baru. Maka dengan segera Azura langsung menggantungkan kedua tangannya di leher sang suami, takut jatuh.
"Abaang," keluh Azura, dan Julian begitu bahagia mendengar suara sang istri yang mendayu seperti itu.
Julian menggendong sang istri dan membawanya ke dalam kamar mandi. Cuci muka bersama kemudian tidur.
Pagi datang dan mereka semua mulai bersiap untuk menghadiri pernikahan Ben dan Fhia.
Sebelum memamai baju seragam keluarga yang sudah mereka persiapkan, mereka lebih dulu menikmati sarapan di dalam kamar.
Sarapan pagi ini Edward pergi ke kamar ayah Adam dan ibu Haura, sementara Arnold sarapan di kamar ayah Agra dan mama Sarah.
Apalagi tujuannya kalau bukan untuk makan bersama dengan sang pujaan hati.
Selesai sarapan, mereka pun kembali ke kamar dan mulai bersiap.
Jadwalnya jam 9 pagi akad nikah akan dimulai dan seluruh keluarga Malik akan menghadiri acara ijab kabul itu.
Jam 8 tepat, mereka semua mulai turun ke basement hotel. Masuk ke dalam mobil masing-masing dan iring-iringan mobil pun berlangsung.
Semua wanita di keluarga Malik menggunakan kebaya seragam berwarna ungu muda, terlihat begitu cantik dan menawan. Sementara para pria menggunakan baju senada. Menambah sempurna penampilan seluruh keluarga Malik.
Mirip para bridesmaid dan Groomsmen untuk pernikahan Ben dan Fhia.
"Kamu cantik," puji Julian pada sang istri. Pagi ini Azura memakai hijab, sama seperti Bella.
Sedari tadi tak bosan-bosannya Julian terus memuji penampilan istrinya itu.
Sama hal nya dengan kedua pria yang terpana melihat penampilan gadis-gadisnya.
Saat masuk ke dalam mobil, mereka baru berani mengutarakan isi hati ...
...💕...
Jangan lupa like dan komen ya 💕