
Setelah menentukan tanggal, akhirnya pernikahan antara Agatha dan Edward pun digelar. Namun, tak hanya mereka berdua yang akan menjadi pengantinnya. Karena Alesha dan Arnold pun menyusul, dalam satu hari itu akan ada dua pasang manusia yang akan berganti status, menjadi sepasang suami istri yang sah di mata agama dan negara.
Acara pernikahan tersebut diadakan di ballroom hotel milik keluarga Paul, sebagai hadiah mewah dari Julian dan Azzurra yang tak dapat membantu persiapan pernikahan kedua adiknya, karena kehamilan wanita itu yang tampak sudah semakin mendekati hari lahir.
Ballroom hotel itu dihias dengan sedemikian rupa, dari mulai tempat duduk para tamu undangan, hingga hidangan dengan berbagai aneka macam. Kedua pasang pengantin itu tak diperbolehkan untuk mengeluarkan biaya sedikitpun, karena semuanya sudah ditanggung oleh Julian dan Azzurra.
Alesha dan Agatha sudah selesai didandani, mereka berdua terlihat sangat cantik dan seperti anak kembar. Bak putri di negeri dongeng, mereka disambut oleh kedua pangeran masing-masing.
Dan dalam satu kali tarikan nafas, Arnold dan Edward mengucapkan ijab qobul, janji sucinya untuk sang wanita di depan Tuhan, dan disaksikan oleh semua orang.
Sah?
Sah!
Alhamdulillah.
Semua orang mengucap syukur, apalagi bagi si pengantin yang merasakan kelegaan yang begitu luar biasa. Seperti melepas beban yang bersarang di dada, mereka langsung bisa bernapas dengan leluasa.
Kedua pengantin wanita menyalimi tangan suami mereka masing-masing. Dan disusul dengan kecupan di kening yang begitu dalam dan penuh cinta.
Kini hanya tinggal satu orang yang masih single di keluarga Malik, yakni Ali anak dari Acil Aida dan Amang Yuda. Pria yang dikenal sebagai playboy, sifat yang menurun dari ayahnya.
Di atas panggung pelaminan, pria tampan itu berfoto ria dengan kedua kakak dan adiknya. Dia berdiri di tengah-tengah, dan merangkul bahu kedua wanita cantik itu.
Cekrek
Cekrek
Beberapa kali mereka mengambil gaya, dari yang formal hingga yang konyol. Mereka semua terus mengumbar canda dan tawa. Dengan meledek pria jomblo satu ini.
"Huh, mana pasangan Abang? Jangan hanya bersama kita fotonya, katanya ceweknya banyak," ledek Alesha yang langsung mendapat anggukan dari Agatha.
Wanita itu membenarkan ucapan adik sepupunya. "Iya mana, mana? Nanti kamu keburu jadi perjaka tua, kalau pilih-pilih terus."
Namun, Ali tak tak ambil pusing, baginya sangat mudah untuk mendapatkan seorang wanita dalam sekejap, apalagi statusnya yang menjadi pria tampan sepanjang zaman.
"Kalian jangan sembarangan bicara. Santai saja, karena lelaki itu makin tua, makin jadi. Lihat saja Abang Edward dan Abang Arnold, dapatnya daun muda juga kan?" timpal Ali dengan penuh percaya diri.
Arnold dan Edward saling melirik, mereka terkekeh, karena merasa benar dengan apa yang diucapkan oleh Ali. Sementara kedua wanita itu justru mencebik, tidak terima.
Acara tersebut berjalan dengan lancar dan terlihat sangat meriah. Banyak media yang meliput, hingga acara janji suci itu selesai dan tamu pun berangsur pulang satu persatu.
Masih tersemat sisa gelak tawa, dan wajah sumringah semua orang. Hingga satu keluarga itu memutuskan untuk pulang ke rumah masing-masing.
Namun, langkah mereka terhenti, begitu ponsel ayah Adam mendapat panggilan, dan mengabarkan bahwa Azzura akan segera melahirkan. Ibu hamil itu sudah dibawa ke rumah sakit, karena sudah masuk pembukaan.
"Kita harus cepat ke sana, Mas," ucap ibu Haura yang tampak lebih cemas dari semua orang.
Dan akhirnya niat mereka yang akan pulang ke rumah, beralih untuk ikut menyaksikan kelahiran anak Julian dan Azzurra. Seperti tak habis-habis, kabar bahagia itu selalu menghampiri keluarga Malik.
Tak sampai lama mereka melakukan perjalanan, akhirnya satu keluarga itu keluar dari mobil masing-masing. Ayah Adam segera menggandeng tangan sang istri, dan masuk ke dalam sana lebih dulu.
Begitu mereka sampai di ruangan persalinan Azzura, ibu Haura langsung meminta izin pada suaminya untuk masuk dan menemani putri mereka.
"Masuklah, aku dan yang lain akan menunggu cucu kita selanjutnya lahir ke dunia," ucap ayah Adam, dan ibu Haura langsung mengangguk.
Setelah mengecup tangan sang suami, ibu beranak tiga itu langsung masuk ke dalam sana. Azzura terlihat tengah mencengkram kuat pinggiran ranjang, dengan sesekali rintihan terdengar.
Namun, melihat ada seseorang yang masuk, dia menoleh dan mendapati ibunya yang tersenyum penuh kekhawatiran tengah berjalan ke arahnya.
"Ibu, sakit!" Adu Azzura pada sang ibu.
Ibu Haura segera menggenggam tangan sang anak, mengalirkan ketenangan, agar Azzura dapat melewati pembukaan dengan sempurna. "Sabar, Zura. Sebentar lagi kalian akan bertemu malaikat kecil. Jadi Zura harus kuat."
Ibu Haura pun sebenarnya begitu sedih melihat sang anak yang kesakitan seperti ini, dia jadi teringat saat dulu melahirkan Azura dan Azzam di desa Parupay.
Teringat bagaimana perjuangannya untuk sampai di rumah bidan Sanja, membelah malam hari bersama almarhumah nenek aminah, dan kini anak yang dilahirkan dulu telah tumbuh dewasa bahkan tidak hendak memiliki anak pula. Ibu Haura meneteskan air matanya namun dengan cepat ia menghapus kembali.
Dan Azura yang tak mampu membalas ucapan ibunya, justru semakin menangis. Dia mencengkram erat tangan ibu Haura, karena merasa tak tahan lagi. Sepertinya bayinya sudah mengajak untuk keluar, dan bertemu semua orang.
"Abang, bayinya mau keluar," lirih Zura, Julian langsung pias dengan sigap dia berdiri di samping Azzura. Dan menyuruh dokter untuk memeriksanya.
Dan ternyata pembukaan memang sudah lengkap, bayi itu siap untuk dilahirkan. Dengan instruksi sang dokter Azzura mendorong bayinya, dia mengejan kuat-kuat mengeluarkan seluruh tenaganya.
"Kamu bisa, Sayang," berulang kali Julian memberi kecupan di dahi wanita itu, memberi semangat.
Sementara di samping kirinya ada sang ibu yang terus berdoa, agar Zura dan anaknya selamat.
Hingga dorongan dan teriakan itu begitu menggema, suara tangis bayi pecah. Membuat Azzura, Julian dan ibu Haura meneteskan air mata.
Alhamdulillah.
Julian langsung melakukan sujud syukur, atas kelahiran anaknya yang berjenis kelamin laki-laki. Pelengkap keluarga Paul dan Malik yang telah menjadi satu.
Dan karena itu pula, Azzura dan Julian sepakat memberi nama putra pertama mereka, Daren Paul. Mengikuti marga sang ayah, sebagai pewaris dari keluarga Paul.
Tangis haru Ibu Haura pun kini berubah jadi tangis Bahagia. Dia menangis dan menatap Azura yang juga menangis, kemudian mereka sama-sama mengukir senyum.
Melihat anaknya yang berhasil melahirkan dengan selamat dan memiliki penerus sungguh membuat ibu Haura merasa bangga dan bahagia.
Terakhir, Ibu Haura mencium kening sang anak dengan begitu sayang.