Bringing Back, My Wife

Bringing Back, My Wife
BBMW BAB 79 - Hadiah Dari Ayah Adam



Jangan lupa like dan komen ya ❤


Happy reading


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Pagi harinya Ben dan Fhia mendatangi rumah Papa Agra dan Mama Sarah untuk mengantarkan surat undangan pernikahan mereka secara langsung.


Papa Agra dan mama Sarah pun menyambut itu dengan baik dan hangat, mereka bahkan berjanji akan datang saat pernikahan Fhia dan Ben nanti.


Sepulang dari rumah Papa Agra dan mama Sarah, Fhia dan Ben segera menuju ke Mansion Ayah Adam dan ibu Haura.


Tujuannya sama Untuk mengantarkan undangan pernikahan mereka.


Saat hendak makan siang Ben dan Fhia pamit untuk pulang, namun Ibu Haura menahan nya dengan Kukuh, meminta kepada keduanya untuk makan bersama di mension ini.


Selesai makan siang papa Adam mengajak Ben untuk masuk ke ruang kerjanya, sementara Fhia duduk bersama di ruang tengah bersama dengan Azura dan Agatha.


Karena ini hari minggu, Azura dan Agatha berada di rumah. Azura tidak bekerja dan Agatha tidak kuliah.


Sementara Julian, ikut bersama amang Yuda dan acil Aida menuju taman di belakang mansion.


Menghabizkan waktu pagi di sana.


Di ruang kerja ayah Adam, dia mengeluarkan sebuah berkas dan memberikannya kepada Ben.


Sesuatu yang sudah sejak lama dia persiapkan untuk asisten pribadi sang anak.


Ya, kini Azam sudah kembali menjadi CEO Malik Kingdom. Itu semua berkat kehimlan Bella, yang mengandung 3 cucu kembarnya. Dan Ben pun kembali menjadi asisten pribadi sang anak.


Ben menerima uluran berkas itu dan membukanya.


"Maaf Tuan, ini apa?" tanya Ben, saat sedang bekerja ataupun keadaan serius seperti ini dia akan memanggil Azam dan ayah Adam dengan sebutan Tuan. Lain hanlnta dengan saat santai atau kumpul keluarga, Ben pun memanggul Adam dengan sebutan ayah dan memanggil Azam hanya dengan sebutan namanya.


"Itu hadiah pernikaahanmu, juga bentuk terima kasih ayah," ucap Adam.


Ben terperangah, namanya tertera dengan jelas di dalam sertifikat rumah dan tanah itu.


Sebuah rumah mewah di kawasan elit. Bahkan rumahnya ini lebih mewah dari yang ditempati Azam saat ini. Bukan hanya 2 lantai, namun ada 3 lantai dengan lift pula.


"Tapi Tuan, ini terlalu berlebihan untuk saya."


"Tidak Ben, kamu dan Fhia selama ini sudah menjaga anal-anak ayah dan ayah sangat berterima kasih akan hal itu. Ini hanya hadiah kecil untukmu dan Fhia," jelas ayah Adam.


Bukan kegirangan, Ben malah merasa begitu haru. Menjadi pelayan di keluarga Malik memang menjadi incaran pekerjaan bagi semua orang.


Dan Ben salah satu yang beruntung dan berhasil masuk. Dulu dia kira dia akan bekerja dengan membabi buta. Namun rupanya semua keluarga Malik malah memperlakukannya seperti keluarga.


"Terima kasih Tuan, terima kasih," ucap Ben dengan nafasnya yang tercekat.


Dan ayah Adam hanya tersenyum, seraya menganggukkan kepalanya kecil.


Tak berapa lama kemudian Ben dan ayah Adam keluar dari ruangan itu. Ayah Adam masuk ke dalam kamarnya menemui ibu Haura. Sedangkan Ben turun menemui Fhia yang berada di ruang tengah dengan membawa berkas berisi sertifikat di dalamnya.


Saat itu juga Ben dan Fhia pun pamit untuk pulang.


Kini, mereka sudah berada di dalam mobil yang mulai melaju masuk ke jalan raya.


"Itu apa? tugas dari ayah Adam?" tanya Fhia, melirik berkas yang diletakan di kursi belakang oleh Ben.


Sebelum menjawab, Ben pun tersenyum lebih dulu.


"Hadiah untuk mu," jawab Ben.


Dia lalu mengelus pucuk kepala Fhia, menatap sekilas sang calon istri yang nampak bingung.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di tempat lain.


Siang mejelang sore kali ini Arnold mendatangi rumah papa Agra dan mama Sarah untuk mengatakan keseriusannya kepada Alesha.


Tidak tanggung-tanggung, dia bahkan membawa kedua orang tuanya sekaligus.


Tidak ingin berpacaran, Arnold ingin dia dan Alesha bertunangan, tak apa meski menikahnya masih lama.


Yang jelas sudah ada cincin di jari manis mereka sebagai pengikat.


Arnold sebelumnya belum mengatakan niatannya ini kepada Alesha. Membuat Alesha menganga dengan keterkejutannya.


Dan sama papa Agra dan mama Sarah pun sangat terkejut. Untunglah Arnold bukan orang baru bagi mereka. Andaikan Arnold adalah orang asing pasti sudah mereka tendang dari rumah ini.


"Bukan hanya kamu yang terkejut Gra, aku juga," ucap Rudi, ayah Arnold.


Kedua orang tua Alesha dan Arnold sudah saling mengenal, bahkan kenal dekat.


Mama Sarah dan Mama Angel (ibu Arnold) hanya terkekeh saja.


Sementara Arnold terus menatap Alesha yang menatapnya tajam.


Arnold mengulum senyumnya dan mengedipkan sebelah mata.