
Fhia turun dari dalam mobil dengan tubuhnya yang bergidik ngeri. Masih terekam jelas di otaknya ciuman panas Bella dan Azam beberapa menit lalu di dalam mobil.
Ia bahkan ingin muntah ketika membayangkan itu, bagaimana ganasnya Azam dan Bella yang saling membelit lidah.
"Huwek! menjijikkan!" kesal Fhia, ia bahkan menghentakkan kakinya kasar diatas lantai Bandara.
Azam dan Bella yang melihat itupun hanya terkekeh saja, keduanya bahkan masih memeluk erat dan berjalan beriringan.
Tidak peduli meski kini kebersamaan keduanya menjadi pusat perhatian.
Rumah tanggq Azam dan Bella memang selama ini menjadi konsumsi publik. Sudah bukan rahasia lagi bagi para media dan semua orang bahwa hubungan Azam dan Bella retak. Di gadang-gadang satu bulan lagi resmi bercerai.
Tapi apa yang jadi terjadi hari ini?
Tak ada angin ataupun hujan tiba-tiba keduanya tak canggung untuk bermesraan di depan umum.
Pro dan kontra para fans pun terjadi, mereka menyayangkan kenapa Bella memutuskan untuk rujuk dengan Azam. Bahkan mereka sudah menjodoh-jodohkan Bella dengan pengusaha asal Singapura, Edward Saverun.
Namun sebagian fans mendukung keputusan Bella untuk kembali rujuk dengan suaminya. Pernikahan bukanlah perkara main-main, maka sebisa mungkin pernikahan itu harus dipertahankan, jangan mau kalah dengan para pengganggu di luar sana.
Untunglah, ayah Adam meminta beberapa orang untuk melindungi anak-anaknya itu dari kejaran media.
Semua media bisa meliput namun dengan jarak aman. Mereka tidak diizinkan melakukan wawancara.
"Apa lihat-lihat!" ketus Fhia pada Ben, kini Fhia, Azam dan Bella sudah bertemu denga Ben di ruang tunggu VIP.
Menghindari para wartawan dan heboh semua orang mereka pun memutuskan untuk menunggu di ruang privat ini.
Mendapati perlakuan ketus Fhia, Ben pun mengerutkan dahinya bingung. Dia dan Fhia memang tidak memiliki hubungan yang baik, bahkan sering kali bertengkar tiap kali bertemu.
Terakhir pertemuan mereka Ben bahkan menarik kasar tangan Fhia dan meminta asisten Bella ini untuk diam.
"Siapa yang melihatmu? aku melihat Azam dan Bella," jawan Ben tak kalah ketus.
Azam dan Bella memang berada di belakang Fhia.
Fhia hanya mendengus kesal, lalu duduk di salah satu kursi dan diikuti oleh semua orang.
"Nanti bagaimana? abang yang tinggal di apartemenku atau aku yang tinggal di apartemen abang?" tanya Bella, ia memeluk erat lengan sang suami. Berbicara cukup jelas hingga Ben dan Fhia bisa mendengarnya.
"Kamu tinggal di apartemen Azam, aku akan tinggal sendiri," Fhia yang menjawab dengan buru-buru.
Rasanya Fhia tak akan sanggup untuk tinggal bersama pasangan yanh baru rujuk ini. Di mobil saja mereka sudah berciuman seganas itu, apalagi jika sudah sampai di apartemen.
Hii, lagi-lagi Fhia bergidik ngeri meski hanya membayangkan.
"Tidak, biar Azam dan Bella tinggal di apartemen Bella, barang Bella pasti lebih banyak disana kan? akan repot jika harus di pindah-pindah lagi," sela Ben pula yang berpikiran sama seperti Fhia.
Cukup di Jepang Ben melihat kemesraan Azam dan Bella, di Singapura dia tidak mau melihat lagi.
"Namanya istri itu ikut suami, jadi Bella yang ikut Azam!" putus Fhia.
"Aku akan tinggal di tempat abang," final Bella dan Fhia tersenyum lebar. Sementara Ben tak kuasa untuk menolak.
Terpaksa harus tinggal dengan pengantin baru.
"Baiklah, lagipula dimanapun kita tinggal itu tidak penting, yang penting aku selalu bersamamu," jawab Azam. Keduanya kembali saling tatap dengan tatapan yang begitu dalam. Bahkan ada geleyar aneh yang mereka rasakan meski hanya dengan saling tatap. Debaran di hati itu makin terasa oleh keduanya.
Azam dan Fhia yang melihatnya sontak memalingkan wajah, Fhia bahkan berulang kali bergidik geli sendiri.
Cinta memang bisa membuat seseorang berubah sedrastis itu. Dari yang super acuh sampai seperti budak cinta, Bella contohnya.
Sampai di Singapura, Bella langsung masuk ke apartemen milik sang suami. Sementara Fhia melenggang seorang diri masuk ke dalam apartemen Bella.
"Ingat! jangan asal buat adegan, kalian tidak hanya tingga berdua di apartemen ini," ingat Ben pada kedua sang sahabat. Yang dulunya menjadi tuan dan nyonya nya, kini sudah menjelma menjadi sahabat.
Azam dan Bella sama-sama enggan dipanggil Tuan dan Nyonya oleh Ben. Bahkan melarang keras Ben memanggil dengan sebutan itu.
Ben hanya bisa menuruti, meski dalam hatinya ia selalu menganggp Azam dan Bella bukan sebagai sahabat saja, tapi juga Tuan dan Nyonya nya.
"Kenapa marah-marah terus sih Ben, kami janji tidak melakukan itu selain di kamar," jawab Bella, sebuah jawaban yang berhasil membuat Ben pun bergidik. Karena diotaknya sudah terbayang apa yang akan terjadi di kamar itu, penyatuan Azam dan Bella.
Rasanya jika seperti ini lebih baik mereka bertengkar saja, batin Ben. Ia lalu dengan segera menuju kamarnya sendiri.
Azam dan Bella pun demikan. Untuk kedua kalinya Bella masuk ke dalam kamar sang suami. Namun bedanya kini ia sudah bergelayut manja di lengan Azam dan tidak sedingin sulu.
"Nanti sore kita ke rumah tantenya Edward ya Bang, aku dan Fhia kan belum bilang kalau kembali tinggal di apartemen," ucap Bella, kini keduanya sudah duduk di sofa kamar. Sofa yang berada dekat dengan balkon. Tadi Azam sudah membuka pintu balkon itu dan seketika angin berhembus masuk ke dalam sana.
"Iya sayang, aku akan mengantarmu," jawab Azam ia mengecup sekilas bibis sang istri yang nampak begitu menggoda.
Semua fasilitas yang pernah hilang dari Azam kini sudah kembali ia dapatkan. Meski belum kembali bekerja di MK tapi ayah Adam sudah mengembalikan semua fasilitas kepada Azam.
Ia memang belum menggunakan setelan jas lengkap seperti seorang pengusaha, namun dompetnya bahkan berisi black card.
Azam sadar betul, sang ayah memang memiliki kekuasaan yang luar biasa dan ia sangat mensyukuri itu.
Ciuman singkat yang tadi diberikan oleh Azam dikembalikan oleh Bella, terus seperti itu hingga beberapa kali, sampai akhirnya hasrat keduanya terpancing.
Azam lantas menarik sang istri untuk duduk di atas pangkuannya. Lalu melihat Bella yang menanggalkan pakaiannya satu per satu hingga kedua dada sintal itu terpampang nyata di depan matanya.
"Gadis nakal," ucap Azam dan Bella hanya terkekeh. Bella tak tahu kenapa ia jadi seliar ini. Yang Bella inginkan hanya satu, membahagiakan sang suami. Membayar semua pengorbanan yang Azam lakukan untuk mempertahankan rumah mereka.
Dan menebus semua waktu yang selama ini telah hilang.
Kata Ah langsung keluar dari mulut Bella saat Azam mulai memakan buahnya. Ia hanya bisa menggeliat mengikuti hasrat.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Mampir ya 💕