
Jam 7.30 pagi mobil Edward sudah terparkir sempurna di halaman mansion ayah Adam. Pagi ini dia yang akan mengantarkan Agatha dan Alesha pergi ke kampus.
Jam 2 nanti saat kedua gadis ini pulang Edward pun berjanji akan kembali menjemput mereka.
"Ali mana? dia tidak kuliah?" tanya Edward, yang tidak melihat Ali ikut keluar dari dalam mansion bersama mereka berdua.
Dimana Edward Ali Agatha dan alesha sudah seperti saudara kembar 3. Wajah mereka mirip-mirip kas keluarga Malik, juga usia mereka yang sama.
"Beda fakultas, dia nanti kuliahnya jam 10." Agatha yang menjawab dan Alesha mengangguk membenarkan.
Setelahnya mereka semua segera masuk ke dalam mobil, lalu melaju menuju kampus.
Sepanjang perjalanan itu, dengan setia Edward mendengarkan pembicaraan antara Agatha dan Alesha yang duduk di kursi belakang.
Sementara dia sendirian duduk di depan, benar-benar seperti sopir.
Setelah membicarakan matakuliah mereka kini Agatha bertanya tentang persiapan acara lamaran Alesha dan Abang Arnold satu minggu lagi.
Tapi yang terkejut malah Edward yang sedang menyetir.
"Ha! satu minggu lagi kamu dan Arnold akan bertunangan?" tanya Edward pada Alesha dengan suaranya yang cukup tinggi. Rasanya Dia tidak terima jika Arnold dan Alesha bertunangan sementara dia kemarin ditolak oleh ayah Adam untuk melamar Agatha.
Merasa tidak ada keadilan untuk dia di sini.
"I-iya Bang," jawab Alesha dengan suaranya yang gagap, mendadak takut saat melihat raut wajah Edward yang terkejut seperti itu. Agatha bahkan sampai menatap curiga pada sang kekasih.
"Kenapa Abang sepertinya tidak suka? apa Abang cemburu? apa sebenarnya Abang menyukai Alesha?" tanya Agatha bertubi menelisik dengan suaranya yang terdengar tak suka, cemburu.
"Astaghfirullahaladzim, Bicara apa kamu ini. Tentu saja aku mencintaimu tidak ada yang lain," balas Edward langsung, sementara Agatha masih setia mencebikkan bibirnya, karena belum tahu apa maksud dari keterkejutan edward tadi. Saat mendengar tentang pertunangan Alesha dan abang Arnold.
"Lalu kenapa abang sepertinya terkejut sekali? seolah tidak suka jika Alesha bertunangan dengan abang Arnold." tanya Agatha, kini dia melipat kedua tangannya di depan dada dan menatap angkuh kepada sang kekasih.
Dan sebelum menjawab Edward lebih dulu menghentikan mobilnya Karena kini mereka terjebak lampu merah.
"Aku bukan tidak senang mereka bertunangan sayang, aku hanya terkejut saja. Karena beberapa saat lalu aku juga melamarmu melalui Ayah Adam tapi ayah Adam menolakku. aku iri jika mereka bisa sampai bertunangan, sementara kita tidak. Itu karena aku sangat ingin memiliki kamu," jelas Edward panjang lebar, dia bahkan berbicara sambil menoleh ke belakang dan menatap sang kekasih.
Dan mendengar penjelasan itu Agatha merasa terharu juga tersipu malu, dia menggigit bibir bawahnya seraya menundukkan wajah. Mendengar kata cinta, membuat pipinya merona dengan debar jantung yang tak biasa.
"Sekarang tahu kan alasanku kenapa sampai terkejut?"
Agatha menganggukkan kepala, masih belum berani menatap wajah sang kekasih.
Alesha yang melihat perubahan sikap sang sepupu pun mendadak geli sendiri, beberapa saat lalu Agatha marah-marah lalu secepat kilat kini mendadak malu-malu.
"Hais!" keluh Alesha seraya mencubit lengan Agatha.
Yang dicubit gaduh kesakitan bahkan sampai mengerucutkan bibir.
Melihat sang kekasih yang sudah tak marah lagi, Edward pun kembali menatap kedepan dan saat itu juga lampu merah berubah jadi hijau, dia kembali melajukan mobilnya.
"Pulang nanti kamu pulang sendiri ya, Aku mau pergi ke cafe Abang Arnold."
"Oke, tapi pulang ke rumahnya jangan sore-sore. Kalau bisa sebelum Mbak Zura dan abang Julian pulang, kalau tidak begitu sebaiknya izin dulu pada mbak Azura kalau kamu pergi ke sana."
"Iya nanti aku akan izin," balas Alesha.
Pembicaraan kedua Gadis itu usai saat mobil yang mereka tumpangi akhirnya sampai di area parkir gedung tempat mereka belajar.
"Iya Bang, aku masuk dulu ya."
"Hem."
Edward tidak langsung pergi dari sana, dia masih melihat Agatha dan Alesha yang berjalan masuk ke dalam gedung. Beberapa temannya mulai menghampiri kedua gadis itu, bukan hanya ada wanita tapi juga ada beberapa pria.
"Kalau cuma hubungan seperti ini mana tahu mereka semua jika Agatha adalah milikku. Harusnya seperti Arnold dan Alesha, harusnya aku dan Agatha pun juga bertunangan," gumam Edward.
Muncul keinginan didalam benaknya untuk kembali menemui Ayah Adam, kembali meminta dengan sungguh-sungguh untuk dia bisa mengikat Agatha dengan hubungan yang lebih serius yaitu pertunangan.
"Sepertinya aku harus berguru pada Arnold. Bagaimana bisa Dia meyakinkan orangtua Alesha, padahal hubungan mereka aku yakin juga baru sebentar," gumamnya lagi.
Dan setelah Agatha dan Alesha tak nampak lagi di pelupuk matanya, Edward bukannya langsung pergi dari sana tapi malah mengambil ponselnya dan menghubungi Arnold.
Secepatnya Dia harus bertanya kepada Arnold tentang caranya mendapatkan hati calon mertua.
Kalau bisa setelah Ayah Adam pulang dari Tangerang nanti dia akan kembali menemui kedua orang tua dari kekasihnya itu.
Sambungan teleponnya sudah terhubung, tapi Arnod lama sekali menjawabnya.
Hingga nyaris panggilan itu putus akhirnya Arnold menjawab juga.
"Ada apa? aku sedang sangat sibuk, jika tidak penting bisakah menghubungiku lain kali?" jawab Arnold dengan banyak pertanyaan dan nada tak suka.
Bukan apa-apa, hari ini dia memang sangat sibuk. Bahkan dia sampai tak memiliki waktu untuk mengantar Alesha pergi kuliah.
Dan sekarang pagi bayi Edward malah mengganggunya dengan sebuah telepon.
"Astaghfirullahaladzim, ucapan salam dulu Ar," balas Edward dengan mengulang senyum.
Setelah menghela nafasnya berat, Arnold pun menuruti keinginan Edward itu, mereka saling bertukar salam baru akhirnya Edward kembali bertanya apa tujuan Edward menelpon dirinya.
"Bagaimana caramu meyakinkan Papa Agra sehingga kamu diizinkan untuk melamar Alesha?" tanya Edward namun mendengar pertanyaan itu Arnold malah jadi tergelak keras. Tawanya tak bisa ditahan.
"His! berhenti tertawa! aku bertanya dengan serius!" kesal Edward.
"Jangan samakan aku dengan mu Ed," jawab Arnold.
Setelahnya dia menjelaskan bahwa dia dan Edward adalah dua orang yang berbeda. Sejak kecil Arnold sudah mengenal keluarga Malik, keluarga Arnold dan keluarga Malik bahkan memiliki hubungan yang sangat baik.
Karena itulah niat baiknya dapat diterima langsung dengan tangan terbuka.
Lain dengan Edward, orang baru yang masuk dalam kehidupan keluarga Malik. Seseorang yang bahkan mereka kenal setelah mengetahui identitas Bella yang sesungguhnya.
Mendengar penjelasan panjang lebar Arnold itu Edward pun menghembuskan nafasnya berat.
Dalam sudut hatinya dia pun membenarkan ucapan Arnold itu.
Membenarkan bahwa ayah Adam butuh waktu lebih banyak untuk mengenali dirinya lebih baik dan tidak sembarang mempercayakan putrinya kepada seseorang.
Dengan hati yang menaruh rasa kecewa Edward pun memutus sambungan teleponnya dengan Arnold.
...💕...
Jangan lupa like dan komen 💕