Bringing Back, My Wife

Bringing Back, My Wife
BBMW BAB 62 - Ketakutan Azam



Jam 8 malam Alesha baru sampai di rumah Azzam. Alesha tidak langsung turun dari mobil Arnold, dia lebih dulu mengucapkan kata maaf dan terimakasih untuk hari ini.


Walau bagaimanapun menyebalkannya Arnold, tapi pria ini tetap menjadi penolong nya. Keluar dari kerumunan para wartawan dan mengantarnya pulang dengan selamat.


"Ya sudah sana turun, besok datang jam 8 saja," balas Arnold setengah alesha selesai bicara.


"Kenapa bukannya aku dan Agatha harus datang jam 7?"


"Besok pengecualian," jawab Arnold asal, tidak ingin berdebat dengan Alesha, karena tiap kali melihat gadis ini mengerakkan bibirnya dia ingin sekali menghentikannya dengan sebuah ciuman. Ciuman kasar yang hanya membayangkannya saja sudah membuat dia gila.


"Cepat turun!" ucap Arnold dengan suaranya yang meninggi. selagi kewarasan nya masih ada dia harus segera mengusir Alesha jauh dari dirinya.


Dan gadis yang diminta untuk turun pun menurut meski dengan bibir yang cemberut.


Setelah memastikan Alesha masuk ke dalam rumah Azam, Arnold segera kembali melajukan mobilnya kembali, tujuannya kini adalah Bar.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Setelah makan malam bersama, Azam mengajak kedua adiknya untuk duduk di ruang tengah.


Agatha dan Alesha mendadak was-was keduanya merasa takut tentang keributan yang terjadi di cafe abang Arnold tadi sore.


Pastilah kini abang Azzam akan memarahi mereka berdua.


Alesha dan Agatha duduk berdampingan dengan tidak tenang, kedua gadis ini saling merapat tangan masing-masing mencoba tenang.


"Kenapa kalian tegang sekali?" tanya Azzam bukannya jadi tenang Alesha dan Agatha malah jadi semakin takut.


Pasalnya Azzam bicara dengan raut wajahnya yang nampak dingin. Padahal memang seperti itulah raut wajah Azzam. Karena ketakutannya kedua gadis ini jadi berpikir yang bukan-bukan.


"Besok jangan buat keributan lagi, kerjakan apa yang menjadi tugas kalian selebihnya tidak perlu," ucap Azam pula, dia memang ingin menegur Adik-adiknya tentang kejadian tadi sore di cafe Arnold.


"Iya Bang, maafkan kami," jawab Agatha dan Alesha bersamaan. Meskipun mereka berdua memiliki alasan kenapa sampai menjadi pelayan namun mereka memilih diam, karena sadar apapun alasannya mereka memang tetap salah.


Azam terdiam, sebenarnya masih ada satu hal lagi yang ingin aa bicarakan. Tapi bukan untuk Alesha, melainkan khusus untuk Agatha yaitu tentang hubungannya dengan Edward.


Pembicaraannya dengan Arnold siang tadi di membuat dia jadi kepikiran. Tentang Karma dari perbuatan di masa lalu, tentang Edward yang mungkin saja hanya mempermainkan Agatha dan Agatha yang tidak boleh terlalu banyak berharap. Terlebih kini yang paling penting bagi Agatha adalah kuliahnya bukan dulu tentang cinta.


Tapi Azzam ragu untuk membicarakan itu di sini terlebih di sini juga ada Ayah David, rasanya kurang pantas untuk membicarakan masalah ini di ruang umum.


Akhirnya Azam memilih untuk mengurungkan niatnya itu, dia berencana akan mengatakan semua kegundahannya kepada sang istri. Lalu meminta istrinya itu nanti yang akan menyampaikan kepada Agatha.


Ya, bergitu lebih terdengar masuk akal. Apalagi pembicaraan sesama wanita mungkin akan lebih bisa diterima oleh adiknya itu.


Karena tidak ingin menunda saat itu juga Azam mengajak sang istri untuk masuk ke dalam kamarnya sejenak.


"Ada apa Bang?" tanya Bella, kini ia dan suaminya sudah berada di dalam kamar. Duduk bersanding di sofa ranjang.


Dan setelahnya Azam pun menceritakan semua ketakutan yang dia rasa dan Bella memahami itu.


Sebelum waktu tidur Bella mengetuk pintu kamar Alesha dan Agatha. Kedua gadis ini pun dengan antusias menyambut sang kakak, bahkan mengajak Bella pula untuk tidur bersama mereka.


Dan Bella pun menurut malam ini dia akan tidur bersama adik-adiknya, setelah ah mengirimkan pesan singkat kepada sang suami.


Bella, Agatha dan alesha kini sudah berbaring di atas ranjang yang sama. Sama-sama menatap langit-langit kamar dan membicarakan banyak hal, sampai akhirnya Bella menyinggung soal Edward.


"Bagaimana hubunganmu dengan Edward, Agatha?" tanya Bella kepada sang adik ipar.


Agatha yang ditanya pun mendadak diam, bingung harus menjawab apa. Karena dia pun tidak tahu hubungan macam apa apa yang sedang dijalaninya dengan abang Edward.


Edward tidak membuat kepastian tentang hubungan mereka, jadi kekasih atau bukan. Pria dari negeri Singa itu hanya memberikan sebuah cincin dan sebuah janji untuk nanti bisa hidup bersama ketika waktunya sudah tepat saat Agatha lulus kuliah.


Namun Agatha yang tidak tahu-menahu tentang cinta pun hanya menuruti. Dia menunggu dengan sepenuh hati dan harapan.


"Aku tidak tahu Mbak, seperti apa ya?" Jawab Agatha dengan bertanya pula. Dia memegang cincin yang menjadi bandul di kalungnya, mengingat dengan jelas saat abang Edward memberikan kalung ini kepadanya.


"Apa kamu mencintai abang Ed? Tidak bukan cinta, maksud mbak apa kamu menyukainya?" tanya Bella dengan sedikit bingung, bicara dengan Agatha harus hati-hati agar mereka saling mengerti maksud satu sama lain.


"Suka?" tanya Agatha, Bella dan Alesha yang ikut mendengarkan pun menganggukkan kepalanya.


"Jika hatiku berdebar saat berdekatan dengan Abang Ed, apa itu bisa dinamakan suka?" tanya Agatha, seraya memegang dadanya yang kini pun berdebar. padahal dia hanya membayangkan wajah pria dari negara Singapura itu.


Dan mendengar itu Alesha terkekeh, Lain halnya dengan Bella yang menghembuskan nafasnya pelan.


Mendengar jawaban sang adik ipar sudah jelas bahwa Agatha memang menyukai Edward. Dan dalam cinta, yang mencintai lebih dulu akan lebih mudah merasa sakit andaikan cinta itu tidak berbalas.


"Agatha, sekarang apa yang jadi prioritasmu? kuliah atau menunggu waktu untuk menikah dengan Abang Ed?"


"Tentu saja kuliah, aku akan membuat ibu dan ayah bangga dengan pencapaian ku di pendidikan," jawab Agatha dengan lantang, karena memang begitulah yang ia rasa.


"Bagaimana jika setelah kamu lulus kuliah ternyata kamu tidak berjodoh dengan Abang Ed?" tanya Bella lagi dan Agatha tidak langsung menjawab. Dia Kembali menyentuh dadanya yang terasa berdenyut nyeri.


"Sepertinya hatiku akan sakit," Jawab Agatha jujur.


Alesha yang memahami bagaimana perasaan sang sepupuku pun merasa sedih pula untuk Agatha. sedangkan Bella memang ingin mengantisipasi agar adiknya itu tidak terlalu kecewa.


"Karena itulah agar nanti hatimu tidak terlalu sakit, maka sekarang jangan terlalu banyak berharap. Serahkan semuanya kepada Allah, siapapun Jodohmu nanti, itu adalah jodoh yang terbaik," pungkas Bella.


Agatha dan Alesha menganggukkan kepalanya. Alesha pun merasa nasehat ini bisa ia pakai untuk hidupnya juga.


Pembicaraan itu terus berlanjut di antara 3 wanita ini. saking asyiknya bertukar cerita, Agatha sampai tidak sadar jika ponselnya yang berada di dalam tas terus bergetar.


Ada panggilan masuk dari Edward.