
Di Surabaya.
Seorang wanita muda selalu diliputi rasa gelisah. Seolah tak memiliki sebuah kejelasan, dia selalu dibuat resah dengan pikirannya sendiri.
Sore itu, di depan teras rumah dia duduk termenung, memikirkan bagaimana masa depannya. Kehidupannya yang masih dihantui dengan rasa bersalah yang begitu besar pada Bella.
Karena hingga tiga hari berlalu, dia belum juga mendapatkan balasan apa-apa dari wanita itu. Wanita yang pernah dia sakiti dengan begitu tega.
Bukan hanya sekali, bahkan berulang kali dia menyakiti wanita itu dengan sengaja. Teringat itu semua rasa takut kembali menghantui.
Mungkinkah Bella masih tidak sudi menerima permintaan maafnya, atau jangan-jangan Bella tak membaca suratnya.
Raya menunduk dan menutup wajahnya dengan kedua tangan. Banyak praduga yang bersarang dalam otak Raya.
Dan semua pikiran itu ditepis oleh kenyataan.
Di luar sana, seorang pegawai kantor pos datang, membawa sesuatu yang Raya rasa akan membuat hatinya merasa tenang.
"Permisi," ucapnya sopan.
Raya melayangkan tatapannya keluar sana, melihat ada orang dia pun langsung melangkah ke arah gerbang kecil di depan rumahnya itu. Untuk menghampiri orang tersebut.
"Iya, Pak. Ada apa?" Tanyanya tak kalah sopan.
Lelaki yang terlihat masih muda itu tersenyum, lalu mengulurkan satu amplop ke arah Raya. "Ada surat untuk ibu Raya." Jelasnya apa adanya.
Raya buru-buru menerima surat itu, dan membaca nama si pengirim. Dan betapa terkejutnya dia, karena yang mengirim surat itu adalah Bella. Kedua netranya membulat sempurna dengan mulut yang menganga, merasa tak percaya, ternyata Bella akan membalas suratnya.
Dan detik selanjutnya Raya langsung tersenyum bahagia.
"Terimakasih ya, Pak," ucapnya dan dijawab anggukan sopan dari pegawai kantor pos itu.
Merasa tak sabar ingin membaca isi surat tersebut. Raya segera masuk ke dalam rumahnya setelah lelaki itu pergi.
Raya melenggang ke arah kamar, dia sedikit celingukan karena takut ibunya tahu. Dan begitu sampai dia langsung mengunci pintu, dan buru-buru membuka surat itu.
Tak dipungkiri tangannya gemetar dengan dada yang berdebar. Di belakang pintu, Raya membuka lipatan kertas yang berisi tulisan Bella.
Wanita itu sedikit menelan ludahnya susah payah, pelan-pelan dia mulai membacanya.
Aku sudah memaafkanmu, Raya. Aku sadar satu hal, bahwa tiap manusia selalu memiliki kesalahannya sendiri. Bukan hanya kamu, aku pun juga banyak melakukan kesalahan.
Aku harap setelah surat ini sampai padamu kamu bisa menjalani hidup ini dengan baik, dengan bahagia tanpa ada rasa bersalah pada diri sendiri.
Bella.
Nafas Raya terasa tercekat setelah membaca itu. Air matanya kembali menderas, turun dengan lancang melewati pipi mulusnya.
Mengingat semua dosa-dosanya pada wanita itu. Dia telah melukai hati sesama wanitanya.
Bella benar-benar wanita baik. Dia berharap, suatu saat dia dan Bella bisa kembali bertemu. Tanpa sengaja dan tanpa rasa canggung satu sama lain.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sementara di Jakarta.
"Dia baru saja menerimanya, Nyonya," jelas lelaki itu.
Mendengar itu, Bella mengulum senyum. Dia teringat dengan Azzam yang selalu merasa bersalah terus menerus, dan hal itu membuatnya merasa ikut sedih pula.
Dan dengan itu dia pun tak ingin membuat Raya merasa seperti Azzam yang takut akan sebuah karma. Sebuah siksaan yang Tuhan kirimkan saat kita di dunia. Sumpah demi apapun, Bella tidak ingin wanita itu merasakannya.
Karena Bella juga berharap, kalau Raya bisa menikmati hidup dan masa depannya tanpa terbayang masa lalu terus menerus. Karena hal itu memang sangat menyakitkan, dia akan stres jika terus dihantui rasa bersalah yang tak kunjung mereda.
"Baik Pak, terima kasih," ucap Bella dengan senyumnya yang masih terukir.
Lantas entah kapan datangnya. Tiba-tiba ada yang memeluk tubuh Bella dari belakang. Sementara anak buah wanita itu sudah pergi. Lelaki itu memeluk erat, dan menghirup aroma tubuh Bella yang begitu candu untuknya.
"Kenapa senyum-senyum sendiri dari tadi?" tanya Azzam, seraya melesakkan wajahnya ke ceruk leher Bella.
"Aku merasa lega, Bang. Raya sudah menerima suratku. semoga saja dia bahagia menerima surat itu, karena aku pun begitu," jawab Bella apa adanya. Karena memang itu alasannya tersenyum.
Mendengar itu, Azzam memutar tubuh Bella hingga mereka berhadapan. Dia pun ikut mengulum senyum, merasa sangat bahagia karena akhirnya Bella begitu menerima dia apa adanya.
"Terimakasih, Bel. Terimakasih atas semuanya. Kamu sudah menerimaku kembali, dan melupakan semuanya. Aku janji, aku janji akan membahagiakanmu dan ketiga anak kita. Aku mencintaimu, Ara." Ucap Azzam tulus, bahkan dia menciumi kedua tangan Bella yang berada dalam genggamannya.
Mendengar ungkapan hati Azzam, membuat senyum Bella semakin lebar, karena dari dulu sampai sekarang, Azzam tetaplah menjadi nomor satu di hatinya. "Aku lebih mencintaimu, Bang."
Bella merentangkan tangannya untuk memeluk Azzam lebih dulu. Namun, Bella tak hanya merasakan pelukan Azzam, karena kini lelaki itu justru mengikis jarak dan menyatukan bibir mereka.
Di teras rumah yang nampak lengang itu, mereka kembali bercumbu, dengan saling mengungkapkan kata-kata cinta sebanyak-banyaknya.
Seolah semua itu takkan pernah habis.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
2 tahun kemudian.
"Abrahaam!!" pekik Bella saat anak laki-lakinya ini hampir jatuh, dia berlari dengan cepat.
Namun yang lebih dulu berhasil menjangkau tubuh anak laki-lakinya itu adalah ibu Haura.
"Tidak apa-apa sayang, semuanya baik-baik saja," ucap ibu Haura saat melihat wajah pias Bella.
Bella pun terdiam dengan nafasnya yang memburu. Nyaris saja Abraham jatuh dari kursi sofa di ruang tengah. Anak laki-lakinya ini naik dengan gegebah, sementara Adena dan Adelia tetap tenang bermain di bawah.
1 tahun lalu ayah David sudah meninggal dunia. Semenjak itu Azam dan Bella memutuskan untuk tinggal di mansion ayah Adam.
Dan tak berapa lama kemudian, Julian membawa Azura untuk keluar dari dalam mansion dan tinggal di mansion keluarga Julian.
"Maaf Bu, aku tadi cuma ke belakang sebentar mengambil minum untuk mereka bertiga, tapi Abra malah naik." mohon Bella dengan wajah memelas. Setiap hari dia selalu belajar untuk jadi istri dan ibu yang baik, tapi perasaannya selalu saja ada yang salah dan kurang.
Ibu Haura yang melihat raut wajah bersalah Bella pun hanya tersenyum, lalu mengusap kepala sang menantu dan anaknya ini dengan sayang.
"Abraham, Adena dan Adelia sudah besar sayang. Kamu jangan terlalu mencemaskan mereka, tidak apa-apa mereka jatuh, dari situ mereka akan belajar," ucap ibu Haura.
Dan Bella hanya mampu membuang nafasnya pelan.
Hari-hari rasanya seperti berpetualang, Abraham, Adena dan Adelia selalu membuat jantungnya berdebar.