
Ben duduk di ruang tengah dan menghidupkan televisi. Sementara Fhia sudah masuk ke dalam kamarnya. Sengaja pintu itu tak ditutup rapat agar Fhia bisa mendengar jika masih ada Ben di apartemen ini.
Selama waktu berjalan hingga tepat jam 9 malam, keduanya terus seperti itu tanpa ada interaksi apapun. Sampai akhirnya Ben pun memutuskan untuk pulang.
Langkahnya terhenti saat ia melihat kamar Fhia yang terbuka. Tanpa ada niat buruk sedikitpun ia segera menuju pintu itu, masuk ke dalam sana dan memeriksa sang pemilik kamar.
Dilihatnya Fhia yang sudah tertidur sambil memeluk guling. Sementara ponselnya terus menyala memutar lagu dengan suara yang pelan.
Melihat itu Ben tersenyum kecil, kini ia tahu kenapa Bella memintanya untuk tinggal, karena Fhia takut sendirian.
Padahal Ben kira karena Azam dan Bella ingin berduaan.
Setelah memasangkan selimut untuk Fhia, Ben keluar dari dalam kamar itu dan menutup pintunya rapat.
Ia keluar dari apartemen dengan bibir yang mengukir senyum. Teringat wajah Fhia yang tertidur pulas ternyata cantik juga, tidak segalak jika wanita itu membuka matanya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Malam berlalu.
Pagi ini Bella akan menyelesaikan beberapa pekerjaan yang ia punya dan membatalkan beberapa yang kira-kira suaminya tak suka.
Azam tak bisa mengantar kepergian istrinya itu, pekerjaannya sendiri pun sudah menumpuk karena beberapa hari ditinggal untuk menyatu terus dengan sang istri.
Azam hanya memerintahkan Ben untuk mengantar Bella dan Fhia kemanapun kedua wanita itu pergi.
"Abang, aku pergi dulu ya?" pamit Bella, ia menghampiri sang suami yang sudah duduk di kursi kerja dan menghadap ke dua komputer sekaligus di atas meja.
Azam menoleh dan melihat penampilan sang istri yang lebih tertutup, membuat sudut bibirnya tertarik keatas.
"Cantik," puji Azam dan Bella hanya mengulum senyum.
"Canti mana sama aku yang polos di atas ranjang?" tanya Bella dengan suaranya yang menggoda, membuat Azam sampai kehabisan kata-kata. Sejak kecil Arabella memang selalu menggodanya seperti ini sampai Azam dibuat mati kutu.
"Cantik saat di atas ranjang," jujur Azam dan membuat tawa Bella pecah.
"Mesum!" hardik Bella.
Sebelum benar-benar berpisah, Azam kembali membuka kancing atas baju sang istri, membuat tanda merah di atas dada itu dan menutupnya kembali.
Kata Bella tidak boleh cium di bibir nanti riasannya rusak, jadilah Azam mencium dada istrinya saja. Meski keinginan menguluum lebih kuat.
"Sebelum malam sudah pulang ya?"
"Iya," jawab Bella patuh.
Dan setelahnya sepasang pengantin ini benar-benar berpisah.
Azam pun kembali berkutat dengan semua pekerjaannya. Menghubungi beberapa duta besar yang selama ini membantunya dan mengatakan jika ia ingin mundur menjadi penerjemah.
Lalu menyelesaikan beberapa buku yang sudah ia ambil untuk diterjemahkan.
Sibuk bekerja sampai tak sadar jika waktu sudah berlalu dengan begitu cepat. Saat Azam melihat jam kini sudah jam 2 siang.
Buru-buru ia mengambil air wudhu dan melaksanakan shalat zuhur. Lalu memeriksa ponselnya dan tak mendapati satupun notifikasi dari sang istri.
Azam coba menghubungi dan ternyata tidak bisa, ponsel Bella tidak aktif. Tak ingin berprasangka yang buruk-buruk, Azam mengira jika istrinya kini sangat sibuk.
"Aku coba telepon Ben," putus Azam.
Bella sedang pemotretan, ponsel Bella ada bersama Fhia, Ben tadi memang berada di studio namun kini sedang berada di salah satu cafe untuk minum kopi.
Puas bertanya, Azam memutuskan sambungan teleponnya.
Sementara itu, di sebuah studio pemotretan Bella terus memasang pose untuk produk skincare yang sudah mengkontrak nya menjadi model.
Bunyi cekrek kamera terus terdengar tanpa henti sampai foto Bella di dalam kamera itu tak terhitung lagi sudah berapa yang terambil.
Selesai pemotretan semua orang memberikan tepuk tangan untuk kerja keras mereka semua. Pekerjaan ini lancar berkat semua orang yang bekerja secara profesional. Mulai dari model, fotografer, stylis dan penata rias, juga penata cahaya dan yang lain-lainnya.
Fhia pun langsung menyambut Bella saat sang model keluar dari layar hijau itu. Membawa Bella untuk duduk di kursinya dan memberikan sebotol air mineral.
Saat sedang beristirahat itu tiba-tiba terdengar suara seorang pria yang memanggil Bella.
Suara yang cukup asing untuk keduanya.
"Bella," panggil Edward.
Bella dan Fhia menoleh, melihat Edward yang sudah berdiri di samping mereka. Edward tidak datang sendiri, dia bersama dengan sang asisten, Jo.
"Edward," jawab Bella pula, ia tersenyum dengan kikuk.
Entah kenapa mendadak pertemuannya dengan Edward ini membuatnya merasa tak nyaman. Merasa akan ada sesuatu yang terjadi setelahnya. Sesuatu yang tak baik antara dia dan Azam.
"Kamu sudah kembali? kenapa tidak menghubungiku? aku malah tau dari tante Seline," ucap Edward, bertanya bertubi pula.
Sementara Bella masih menanggapi ini dengan senyum kaku.
Sampai akhirnya mereka semua memutuskan untuk bicara ditempat lain, bukan di tempat umum seperti ini. Kini Bella dan Edward sudah berada di salah satu cafe yang tak jauh dari studio. Cafe yang sedari tadi juga di datangi oleh Ben.
Ben pun melihat saat Bella dan semuanya masuk. Tanpa ada canggung Ben langsung menghampiri mereka pula. Ben tak ingin ada salah paham lagi antara Bella dan Azam.
"Ed, kenalkan ini temanku Ben," ucap Bella memperkenalkan keduanya.
"Edward."
"Ben, asisten Tuan Azam," jelas Ben gamblang. Fhia yang mendengar itu hanya mengulum senyum. Belum apa-apa Ben sudah mengibarkan bendera perang.
"Aku sudah tahu," balas Edward, ia tersenyum pada Ben dengan senyum yang artinya entah.
Mereka akhirnya duduk di meja yang sama.
"Jadi sekarang kamu kembali tinggal di apartemen?"
"Iya, dia tinggal bersama suaminya." Ben yang menjawab.
Fhia menahan tawa sementara Bella menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Ben, Fhia, Jo, bolehkah aku bicara berdua dengan Edward?" pinta Bella yang sungguh merasa tak enak hati pada Edward.
Bella tidak ingin hubungannya dengan Edward jadi buruk, meski mereka tak akan bisa berteman lagi seperti kemarin, setidaknya jika suatu saat nanti bertemu lagi tak akan ada kata canggung diantara mereka.
Jo bangkit dan Fhia langsung menarik Ben untuk mengikuti langkahnya.
"Hargailah privasi orang Ben, lagi pula kita harus percaya pada Bella," bisik Fhia. Ben yang mendengar itupun sedikit membenarkannya. Tentang privasi dan percaya. Ia dan Fhia akhirnya pergi, memilih meja lain untuk duduk.
Meninggalkan Bella dan Edward di sana yang entah membicarakan apa. Namun tatapan Edward berubah jadi dingin.