Bringing Back, My Wife

Bringing Back, My Wife
BBMW BAB 43 - Papa Agra dan Mama Sarah



Azam mengemudikan mobilnya dengan laju yang lambat. Mengambil sisi kiri agar mobil lain bisa melewatinya dengan mudah.


Sengaja tidak ingin buru-buru sampai di rumah untuk menikmati senja sore ini. Langit tampak berubah merah dengan cantiknya.


Bella bahkan berulang kali mengambil foto wajahnya saat terpapar cahaya matahari merah itu, memasangnya di media sosial untuk menyapa para fans.


Bella memang tidak lagi bekerja jadi model, namun dia kini menjadi artis selebgram, aktif di media sosial dan mempromosikan banyak produk yang bisa membayarnya dengan harga tertentu.


Bella bukan kekurangan uang, namun dia menyukai pekerjaannya itu. Membuatnya tidak bosan dan memiliki banyak teman.


Dan Azam pun tidak pernah melarang, kini keduanya sudah saling percaya satu sama lain. Azam sudah percaya bahwa Bella bisa tau apa yang boleh ia lakukan dan apa yang tidak, apa yang Azam tidak suka dan begitupun sebaliknya.


Semakin hari komunikasi keduanya semakin membaik.


"Abang, kita beli testpack saja ya? tidak usah ke dokter kandungan dulu," tawar Bella. Sebentar lagi magrib dan rasanya itu bukan waktu yang tepat untuk berkunjung.


Azam pun menganggukkan kepalanya, mengelus pucuk kepala sang istri dengan sayang lalu menepikan mobilnya di salah satu apotik.


Bella langsung membuka pintu dan hendak turun, namun dengan cepat Azam menahan lengannya.


"Biar aku saja," ucap Azam, lalu tubuhnya condong kearah Bella dan kembali menutup pintu sang istri. Mencuri kecupan ringan di bibir Bella dan segera keluar dari dalam mobil itu. Keluar dengan mulutnya yang terkekeh.


Bella yang melihat tingkah suaminya itu hanya mampu menggelengkan kepala dan tersenyum. Azam sekarang benar-benar berubah 180 derajat, tidak ada lagi Azam dingin dan cuek seperti Azam kecil dulu.


"Sekarang Azam ku jadi mesum," gerutu Bella, namun dia menyukainya.


Tak berapa lama kemudian, Azam kembali dengan satu kantong plastik berwarna putih di tangannya. Bella pun segera mengulurkan tangannya untuk mengambil kantong itu, lalu memeriksa satu per satu apa saja isinya.


"Bukannya cuma mau beli testpack? kok ini isinya banyak banget," tanya Bella, kedua matanya masih fokus memeriksa ini kantong itu. Membaca satu per satu obat yang dibeli oleh sang suami.


Testpack ada 3, ada beberapa vitamin c, penambah darah dan zat besi juga pereda mual untuk hamil muda. Lengkap dengan dosis yang harus diminum. Obat-obat ini aman dikonsumsi ibu hamil meski tanpa resep dokter.


Bella terkekeh setelah selesai memeriksa semua belanjaan sang suami. Merasa lucu, saat ini mereka bahkan belum tau Bella hamil atau tidak, tapi seolah-olah sudah ada janin yang tumbuh di dalam rahimnya.


"Kata penjaga apotik tadi besok pagi saja memakai tespack itu, urin di pagi hari katanya lebih akurat."


Bella mengangguk, dia juga pernah dengar akan hal itu.


Mobil mereka pun kembali melaju, bukan menuju mansion milik ayah Adam, tapi kini mereka langsung pulang ke apartemen. Tadi sebelum pergi Azam dan Bella juga sudah berpamitan pada semua orang tentang kepulangan mereka ini.


Dan jam 6 sore hari barulah mereka sampai di apartemen. Mandi bersama-sama dengan terburu-buru dan segera melaksanakan shalat magrib berjamaah. Saat itu Azam berdoa agar dia dan Bella segera diberikan keturunan. Dan Bella pun mengAminkan dengan begitu khusyuk. Itu jugalah doa yang sedang ia panjatkan.


Memberi keturunan untuk laki-laki yang dicintainya adalah impian Bella.


Azam mencium kening sang istri setelah shalat magrib itu usai, mereka masih bersimpuh di atas sajadah dan saling pandang.


"Ada yang mau Abang katakan ya?" tanya Bella, menebak-nebak. Jika raut wajah suaminya sudah serius seperti ini pasti ada yang ingin Azam bicarakan dengannya.


Dan Azam pun tersenyum kecil, tebakan istrinya itu memang benar 100 persen.


"Paman Mark sudah menelponku, aku ingin kita bersama-sama mendengar hasil penyelidikan itu, apa kamu mau?" tanya Azam, kedua tangannya menggenggam erat salah satu tangan Bella, bahkan berulang kali merematnya lembut.


Mendengar ucapan sang suami, mendadak Bella tersentak, sesaat ia merasa jantungnya berdesir. Mendadak ketakutan menghampiri dirinya. Entah kenapa, namun kini malah takut yang ia rasa.


"Bagaimana?" tanya Azam lagi, karena Bella hanya diam. Azam semakin menatap lekat wajah sang istri dan dilihatnya Bella yang nampak gamang.


"Aku takut Bang."


"Takut kenapa?"


"Entahlah, aku juga tidak tahu kenapa jadi takut seperti ini."


"Sekarang kamu tidak sendiri, ada aku di sampingmu. Aku yang akan selalu melindungi kamu," jelas Azam. 


Dan mendengar itu ada perasaan menghangat yang menghampiri hati Bella, hingga wanita cantik ini akhirnya menganggukkan kepalanya kecil, tanda setuju untuk segera mendengar hasil penyelidikan paman Mark.


Selesai membereskan alat shalat mereka, Azam langsung menghubungi paman Mark untuk membuat janji temu. Azam menelpon di samping Bella yang kini sama-sama duduk di sisi ranjang. 


Besok malam mereka akan bertemu di hotel Ritz Carlton, Jakarta, tepat saat jam 9 malam.


Setelah bersepakat, panggilan telepon itu pun terputus. Bella langsung menghembuskan nafasnya pelan, antara lega dan entahlah.


"Tenanglah sayang, semuanya akan baik-baik saja," ucap Azam lagi dan lagi mencoba menenangkan sang istri.


"Iya Bang, aku akan mengikhlaskan semuanya, apapun hasilnya nanti," jawab Bella dan Azam pun langsung memeluk istrinya erat. 


Malam ini mereka tertidur dengan saling memeluk. Namun hingga tengah malam Bella belum juga bisa memejamkan matanya. 


Ia masih memikirkan banyak hal tentang pertemuannya besok dengan paman Mark. Pikirannya terus menduga-duga tentang sesuatu yang belum pasti


Kenapa aku dibuang?


Andaikan benar tante Diana adalah ibuku maka mereka berasal dari keluarga kaya, lalu kenapa aku sampai dibuang?


Apa aku anak haram?


Apa aku bukan anak yang mereka diinginkan?


Dan masih banyak lagi, sehingga membuatnya tidak bisa terpejam. 


"Kamu belum tidur?" tanya Azam, yang ternyata sedari tadi pun mengamati sang istri. Pura-pura tidur agar istrinya ikut tidur pula namun ternyata tidak berhasil.


Hingga jam 1 dini hari mereka sama-sama masih terjaga. 


"Abang, apa aku mengganggu abang tidur?" balas Bella, dijawab dengan pertanyaan pula. 


"Siapa kedua orang tuamu?" tanya Azam langsung, hingga membuat kedua netra Bella membola.


"Siapa kedua orang tuamu?" tanya Azam lagi, hingga akhirnya Bella menjawab ...


"Papa Agra dan mama Sarah."


"Bagus, ayo tidur dan jangan cemaskan apapun."


Azam lalu membenamkan wajah istrinya di dalam dadanya, mendekap erat agar Bella segera tidur. 


Dan Bella pun membalas pelukan itu. Bibirnya tersenyum kecil, lalu mulai memejamkan mata.


Ya, apapun yang terjadi nanti tidak akan membuat Bella jadi merasa tidak berarti. Karena kini pun ia memiliki keluarga yang sangat menyayanginya, terlebih papa Agra dan mama Sarah.