Bringing Back, My Wife

Bringing Back, My Wife
BBMW BAB 75 - Seperti Mengasuh



Bantu Like dan Komen ya ❤


Happy reading


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Suasana panas di dalam mobil ini tak kalah panas dengan terik matahari di luar sana.


Azura memacu tubuhnya lebih cepat, menciptakan pelepasan panjang antara dirinya dengan sang suami. Lalu ambruk seperti tubuh tanpa tulang dan hanya bertukar denyut di bagian inti.


"Tuh kan cepet selesai kalau disini," bela Julian yang tidak ingin sang istri marah. Apalagi dia sudah berhasil membuat Azura berkeringat.


Dan Azura tidak menjawab ucapan itu, nafasnya yang terengah membuatnya sulit untuk bicara.


Yang dia lakukan hanyalah satu, segera melepaskan diri dari sang suami dan membenahi bajunya yang acak-acakan.


"Ayo cepat pulang, aku takut Bella dan Azam menyadari keberadan kita."


"Siap Nyonya!" jawab Julian patuh.


Setelah membenai bajunya sendiri dia segera melajukan mobilnya keluar dari halaman rumah Azam.


Dan setelahnya Azura bisa bernafas lega.


Azura sungguh tidak menyangka jika dia dan Julian akan melakukan hal-hal menegangkan seperti ini. Berbagi tubuh dimanapun mereka kehendaki.


Hingga kini Azura masih tidak percaya jika Julian adalah suaminya, seseorang yang kini membuatnya dimabuk kepayang.


Membuatnya selalu berdebar dengan hal-hal gila yang mereka lakukan.


Padahal di bayangannya dulu, dia akan menikah dengan abang Labih dan menjalani hidupnya yang tenang.


Namun Tuhan ternyata memiliki rencana lain, Tuhan tidak membiarkan hidupnya tenang, namun membuatnya lebih berdebar dan berwarna.


"Sayang, itu apotik di depan sana," tunjuk Azura.


"Besok saja kita beli saat pulang kerja, sekarang tubuh kita terlalu banyak keringat," usul Julian dan Azura setuju, dia bahkan hampir lupa jika lehernya sudah penuh dengan tanda merah.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di tempat lain.


Edward sedang mengajak sang kekasih untuk berkencan. Tapi sepertinya Agatha lupa jika kencan ini hanya untuk mereka berdua.


Agatha malah mengajak Alesha, membuat Edward seperti sedang mengasuh kedua keponakannya.


Kini mereka bertiga mulai masuk ke dalam bioskop, untuk menonton film horor pilihan mereka.


Agatha duduk di tengah diantara Edward dan Alesha.


Lampu mulai padam dan suara menggelegar mulai terdengar. Belum apa-apa Alesha dan Agatha sudah menutup matanya. Seraya menjerit kecil merasa takut.


Kedua gadis itu saling memeluk seolah lupa jika ada Edward disini.


"Sepertinya aku salah strategi," gumam Edward.


Edward lantas memikirkan banyak cara bagaimana caranya memisahkan kedua gadis ini.


Sampai dia mendapatkan sebuah ide untuk meminta bantuan Arnold. Setahu Edward hanya Arnold lah yang bisa membantu dia saat ini. Karena hanya Arnold yang tidak sibuk dengan pasangannya masing-masing.


Edward belum tahu hubungan antara Arnold dan Alesha dan masih mengira kini pria itu adalah satu-satunya yang belum memiliki pasangan.


Sebenarnya bukan hanya Edward, teman-teman yang lain pun belum mengetahui hubungan Arnold itu.


Mengambil ponselnya, Edward segera mengirimkan pesan singkat kepada Arnold. Untunglah saat menginap di mansion ayah Adam waktu itu dia sempat meminta nomor ponsel Arnold.


Edward mengatakan jika dia saat ini sedang bersama dengan Alesha dan Agatha di salah satu pusar perbelanjaan dan sedang berada di dalam bioskop. Kewalahan menjaga 2 orang gadis Edward meminta Arnold untuk menangani Alesha.


Aku akan segera kesana, bawa mereka keluar dari bioskop itu.


Tulis Arnold dalam pesan balasannya.


Dan Edward tersenyum, diantara film yang masih di putar dia menarik Agatha dan Alesha untuk menuju pintu Exit. Segera keluar dari sini.


"Abang! kenapa tarik-tarik!" keluh Agatha dan Alesha bersamaan.


"Kalian juga nggak nonton kan? dari tadi kalian menutup mata terus!" jawab Edward tak kalah ketus. Kencannya gagal total gara-gara kedua gadis ini.


Bukan suasana romantis yang dia dapatkan, malah suasana horor.


"Kan seru," cicit Agatha.


"Seru apanya? kamu tidak menonton film itu," jawab Edward masih ketus, membuat kedua gadis ini langsung mengerucutkan bibirnga kesal.


Antara ingin marah dan bingung mau menjawab apa, karena di dalam sana memang mereka lebih banyak menutup mata dan telinga daripada menonton.


"Ayo pulang," ajak Edward pula, lagi-lagi dia menarik kedua gadis ini. Agatha disebelah kanan dan Alesha di sebelah kiri.


Benar-benar seperti mengasuh keponakan.


"Abang, aku lapar," ucap Alesha dan Agatha mengangguk setuju.


"Ya sudah makan dulu."


Mendengar itu Alesha dan Agatha saling pandang dan melempar senyum. Tidak jadi nonton film tidak apa-apa, yang penting perut kenyang.


Mereka semua turun ke lantai 2 dan menuju restoran ala korea di lantai itu. Namun belum sempat masuk, tangan Edward disentak oleh seseorang.


Arnold datang dan langsung menarik Alesha kuat, tidak terima gadisnya di sentuh oleh. pria lain. Meskipun itu Edward sekaligus.


"Kenapa kasar sekali?" tanya Edward yang heran. Apalagi saat melihat Arnold yang menatapnya tajam, seperti seseorang yang sedang cemburu.


"Kalian?" tanya Edward seraya menunjuk Arnold dan Alesha secara bergantian.


Dan Arnold memahami pertanyaan itu, tentang hubungannya dengan Alesha.


"Iya!" jawab Arnold dengan suaranya yang meninggi.


Edward terkekeh dengan mulutnya yang mengucapkan kata oh. mana dia tahu, pikirnya.


Pembicaraan penuh teka-teki antara kedua laki-laki itu tidak begitu dipahami oleh Agatha dan Alesha. keduanya sudah tidak sabar untuk masuk ke dalam restaurant tapi kedua pria ini malah sibuk sendiri.


"Kita makan di tempat lain," ucap Arnold pada Alesha, dan tanpa menunggu jawaban sang gadis Arnold segera menarik Alesha untuk menjauh dari sana.


Kedua gadis ini seperti dipisah secara paksa mereka saling tatap dengan tatapan mengiba, lalu melambaikan tangannya tanda da-da.


"Abang, kenapa kita makan di tempat lain? makan bersama-sama kan lebih enak?" keluh Alesha diantara langkah kakinya yang terus mengikuti Arnold.


"Karena aku masih memiliki pekerjaan di kafe, jadi kita makan di sana saja."


Alesha mengerucutkan bibirnya, tidak lagi bisa menjawab. Dia hanya bisa menurut kemanapun sang kekasih akan mengajaknya pergi.


Sampai akhirnya mobil mereka berhenti di cafe milik Arnold, cafe yang beberapa hari lalu menjadi tempat magang Alesha.


Percintaan Indah tentang hubungannya dengan Arnold pun kembali Alesha ingat dengan jelas.


Dia tersenyum ketika memasuki Cafe itu. Malu-malu menatap setiap sudut ruangan yang penuh dengan kenangan.


Apalagi tangga ini, tangga yang menuju lantai 3.


Sampai akhirnya mereka berdua masuk ke ruangan Arnold. Makan siang bersama di ruangan itu, di sela-sela Arnold yang mengerjakan pekerjaannya.


Tidak ada suasana yang romantis memang, tapi rasanya seperti ini saja sudah jauh lebih berharga.