Bringing Back, My Wife

Bringing Back, My Wife
BBMW BAB 57 - Repot Sekali



Sore hari saat Azam pulang ke rumahnya, ia dibuat heran saat melihat mobil papa Agra di halaman rumah.


Dengan kepalanya yang menyimpan banyak pertanyaan, Azam pun segera masuk ke dalam rumahnya. Lalu melihat semua keluarganya berkumpul di ruang tengah.


Papa Agra, mama Sarah, Alesha, Agatha, Bella dan ayah David.


Setelah mengucapkan salam Azam pun ikut duduk bersama mereka, duduk disebelah Agatha, karena istrinya sudah berada diantara ayah David dan papa Agra.


"Pa, Mama, ada apa datang ramai-ramai begini? Agatha kenapa ikut bersama Papa dan Mama? apa ada sesuatu yang terjadi?" tanya Azam bertubi, hanya dia lah seorang yang belum mengetahui apa yang terjadi.


Dan papa Agra pun kembali menjelaskan apa maksud dan tujuannya sore ini datang ke rumah Azzam bersama dengan Agatha dan Alesha sekaligus.


Besok Agatha dan Alesha akan mulai magang di cafe milik Arnold dan Cafe itu letaknya tidak jauh dari rumah Azzam.


Jadi kedua anak perempuan ini selama magang di tempat Arnold akan menginap di rumah Azam selama 3 hari.


"Oh seperti itu, kenapa harus magang di cafe Arnold? memang tidak ada tempat lain?" tanya Azam, merasa kepolosan kedua adiknya malah akan rusak jika didekatkan dengan pria jomblo akut itu.


Namun pikiran Azam tidak sejalan dengan pikiran Papa Agra. Papa Agra malah merasa Alesha dan Agatha akan aman berada ada di dekat Arnold.


dan mendengar itu Agam membuang nafasnya pelan papa Agra telah salah menilai. Kini sahabatnya itu seperti seekor singa yang siap menerkam mangsa.


Namun Azam tidak bisa berkeras kepala, ia akhirnya pasrah membiarkan kedua adiknya untuk magang di cafe Arnold.


Setelah menitipkan Agatha dan Alesha, papa Agra dan mama Sarah pun pamit untuk pulang. mereka semua menghantarkan kepulangan nya hingga sampai di depan teras rumah.


"Ada mata kuliah apa sampai kalian harus magang di tempat Arnold?" tanya Azam, masih berdiri di sana sambil melihat mobil Papa Agra yang semakin menjauh. Sedangkan Bella dan ayah David masuk lebih dulu, Bella meminta ayahnya itu untuk segera mandi.


"Manajemen usaha Bang, jadi kita disuruh belajar kalau buat cafe seperti itu bagaimana manajemennya, biayanya, perizinannya dan lain-lain." Agatha yang menjelaskan dan alesha menganggukkan kepalanya berulang membenarkan ucapan sang sepupu.


"Kenapa harus di tempat Arnold?" tanya Azam lagi yang masih belum ikhlas.


"Sebenarnya dimana saja terserah, tapi papa Agra meminta kami untuk di tempat Abang Arnold saja, ya sudah akhirnya kami di situ." Kini giliran Alesha yang menjawab.


Jika sudah seperti ini berarti Papa Agra memang hanya mengizinkan Alesha dan Agatha untuk magang di tempat Arnold tidak di tempat lain.


"Ya sudah, ayo masuk." putus Azam akhirnya.


Alesha dan Agatha masuk ke kamarnya yang berada di lantai 1, sedangkan Azzam naik ke lantai dua menuju kamarnya. Di sana Bella sudah menunggu suaminya, Bella juga sudah menyiapkan air hangat untuk sang suami mandi.


Saat pintu kamarnya terbuka Bella menghampiri Azzam, mengambil tas kerja suaminya dan membimbing Azzam untuk duduk di sisi ranjang.


Lalu melepaskan dasi dan jas.


"Jadi seperti ini rasanya menunggu suami pulang bekerja," ucap Bella, ia berdiri di hadapan Azam dan membelai lembut kepala sang suami. Menyisir rambutnya dengan sayang.


"Seperti apa rasanya?" tanya Azam, ia tersenyum dan menarik pinggang sang istri untuk mendekat. Mendekapnya erat dengan kepala yang mendongak menatap lekat wajah sang istri.


"Kamu tidak bosan?" tanya Azam, ia sungguh tidak ingin istrinya merasakan hal itu. Apalagi selama ini Bella adalah wanita yang bekerja keras. Sehari-harinya ia habiskan untuk bekerja.


"Alhamdulilah tidak bosan, karena munggu abang pulang juga rasanya menyenangkan kok," balas Bella, ia menunduk dan mengecup sekilas bibir sang suami, pun Azam yang menyambutnya dengan bibir terbuka.


"Aku dulu memang ingin istri yang di rumah saja, tapi sekarang tidak lagi, apapun yang istriku lakukan aku akan mendukungnya, bahkan jika kamu kembali ke dunia model pun aku akan izinkan. Aku percaya padamu," jelas Azam setelah pagutan keduanya terlepas.


Dan mendengar itu Bella langsung memeluk suaminya erat. Untuk sekarang dia memang belum mau bekerja lagi, tapi sudah mendapatkan izin seperti ini membuat dia begitu bahagia.


Bella bahkan memeluk suaminya sangat erat.


"Ek! leherku sakit," keluh Azam dengan terkekeh. Bella yang terkejut pun langsung melepaskan pelukannya, mencium bibir sang suami sekilas dan buru-buru mengucapkan maaf.


"Mana bisa dimaafkan, kamu hampir saja membunuh suami mu sendiri," keluh Azam, memegangi lehernya pura-pura sakit, padahal itu hanya sandiwara.


Dan Bela mencebik tahu jika suaminya itu sedang menggoda dirinya.


"Ayo mandi sama-sama, nanti pasti sakitnya langsung sembuh," ucap Bella dengan ketus.


Dan kekehan Azam kini berubah jadi gelak tawa. Tanpa babibu, dia langsung menggendong sang istri dan membawanya masuk ke dalam kamar mandi.


30 menit kemudian mereka baru keluar dari sana. Azam jadi segar bugar, sementara Bella keluar dengan sedikit mengangkang.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Hari berlalu, dua anak gadis keluarga Malik mulai sibuk sendiri. Azam dan Bella saja belum turun ke lantai 1, tapi Alesha dan Agatha sudah sarapan terlebih dahulu bahkan mereka makan dengan buru-buru.


Seperti dikerjai oleh Abang Arnold kedua gadis ini harus sampai di kafe saat jam 7 pagi.


"Aku tidak menyangka abang Arnold sejahat itu," gerutu Alesha, sedangkan Agatha tidak berpikir demikian. Merasa wajar, karena mereka adalah anak magang maka harus datang lebih awal daripada karyawan yang lainnya.


"Abang Arnold tidak jahat Alesha, kita kan anak magang jadi datangnya harus duluan. Mungkin besok kita yang akan membuka pintu Cafe itu," jawab Agatha diantara mulutnya yang penuh makanan.


"Kita itu mau belajar bagaimana manajemennya bukan mau jadi di office girl nya," keluh Alesha, bicara dengan Agatha harus benar-benar jelas agar tidak ada salah paham.


"Oh iya ya," balas Agatha, setuju.


Selesai sarapan mereka berpamitan dengan salah satu pelayan, meminta tolong untuk menyampaikan kepada Abang Azam dan Mbak Bella bahwa mereka sudah pergi ke cafe.


Pelayan itu mengangguk patuh, bahkan mengantar kedua gadis ini hingga sampai di depan mobil.


Agatha dan Alesha segera masuk dan meminta sang sopir untuk mengendarai mobilnya dengan cepat. Waktu yang mereka miliki 15 menit lagi, harusnya dengan waktu itu mereka bisa sampai di Cafe abang Arnold dengan tepat waktu.


"Cepet pak!" titah Alesha dengan perasaannya yang tidak tenang. Sementara Agatha masih sibuk memasukkan bajunya ke dalam celana.


Repot sekali.