
Malam ini adalah malam terakhir Azam dan Bella berada di Singapura. Mereka tidak kemana-mana, hanya berada di dalam apartemen dan melakukan apapun berdua.
Sore tadi mereka sudah mandi bersama dan malam ini mereka akan masak bersama-sama pula untuk makan malam.
Bella hanya menggunakan kaos kedodoran berwarna putih dan celana pendek, sangat pendek. Sementara Azam hanya menggunakan setelan baju santainya.
"Abang mau makan apa?" tanya Bella, ia membuka lemari pendingin dan melihat isinya. Hanya ada daging dan wortel saja di sana, tidak ada yang lain.
"Eh, tidak apa-apa ternyata Bang, cuma daging sama wortel, buat steak saja ya? wortelnya kini kukus," ucap Bella pula, ia bicara sendiri dan mengahadap lemari pendingin itu, sementara Azam masih membuka jendela apartemen agar angin malam masuk ke dalam sini.
"Apa saja sayang, perutku sudah lapar," jawab Azam, ia menghampiri sang istri dan memeluk Bella erat dari arah belakang.
"Jangan sentuh-sentuh, malam ini hanya tidur tidak ada itu itu," gerutu Bella, ia sungguh lelah meladeni gairah suaminya yang tak habis-habis. Bahkan di kamar mandi pun tidak membuat suaminya itu berhenti. Malah katanya ada sensasi tersendiri.
"Itu itu apa sih?" tanya Azam menggoda, yang digoda malah langsung menatapnya tajam.
Azam terkekeh, mengecup sekilas bibir sang istri dan melepaskan diri.
"Sayang, sebenarnya ada sesuatu yang sedang ku tutupi darimu, kamu mau tahu tidak?" tanya Azam, ia bersandar di lemari pendingin dan memperhatikan sang istri yang sibuk ini dan itu untuk memasak.
"Abang menyembunyikan apa? bukannya kita sudah sepakat untuk saling terbuka?" tanya Bella, tapi ia masih sibuk sendiri.
"Aku memintai bantuan paman Mark untuk mencari kedua orang tuamu, juga tentang Tante Diana yang diceritakan oleh tante Namira," ucap Azam.
Awalnya ia memang ingin menutupi ini sampai mendapatkan hasil. Namun entah kenapa ia merasa tak nyaman sendiri, merasa membohongi Bella tentang sesuatu yang istrinya pun berhak tahu.
Dan mendengar penjelasan sang suami itu Bella mulai menghentikan semua pergerakannya. Ia bahkan memutar badan dan membalas tatapan sang suami.
"Aku yakin itu hanya kebetulan, aku dan almarhumah tante Diana ada kemiripan," jelas Bella, memang itulah yang dia rasa. Tidak lebih, apa lagi sampai berandai-andai jika tante Diana adalah ibunya.
Bella tidak berpikir sampai sejauh itu.
"Abang cari saja, aku yakin kita juga tidak akan pernah menemukan mereka," timpal Bella. Setelahnya ia kembali berkutat di meja dapur.
Selama ini Bella sudah melalang buana di setiap saluran televisi yang disiarkan oleh penjuru negeri. Namun tak ada satupun orang yang datang untuk mengakuinya sebagai anak.
Padahal tiap kali wawancara tentang dirinya dia selalu mengatakan jika dia bukanlah keturunan keluarga Malik, dia hanyalah anak angkat, di adopsi oleh mama Sarah dan papa Agra saat ia masih bayi.
Menyadari itu, Bella jadi benar-benar yakin jika kedua orang tua ataupun saudaranya tidak ada yang menginginkan dia.
Sementara Azam hanya diam, dia kembali memeluk istrinya dari arah belakang.
"Aku sangat senang jika kedua orang tuamu hidup berkecukupan, tapi andaikan mereka hidup serba kekurangan, aku tidak ingin kita jadi menyesal," ucap Azam.
Bella pun membenarkan pula ucapan sang suami. Ia lebih senang jika kedua orang tuanya hidup lebih baik dari dia saat ini. Tapi andaikan mereka serba kekurangan, entahlah Bella tak tahu harus bagaimana.
"Jadi berdoalah juga, agar aku bisa segera menemukan mereka," timpal Azam, ia menyandarkan dagunya di atas bahu sang istri. Dan Bella pun menyandarkan kepalanya sejenak di kepala sang suami.
"Iya Bang, aku akan berdoa agar kita bisa segera menemukan mereka," putus Bella.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di kediaman Edward.
Edward pun sama penasarannya dengan Azam, tentang tante Diana dan Bella yang memiliki banyak kemiripan. Mulai dari mata, hidung bahkan bibir dan garis wajah.
Bella malah terlihat seperti tante Diana saat muda ketika menggunakan hijab.
"Ma, apa menurut mama Bella adalah anak tante Diana?" tanya Edward langsung pada sang ibu. Kini seluruh keluarga Edward sedang berkumpul di meja makan, mereka makan malam bersama-sama. Edward, ayah dan ibunya juga adik perempuan Edward, Safira.
"Tidak tahu sayang, mama tidak enak hati untuk menanyakannya pada Bella," jawab Namira. Mengingat kemarin adalah pertemuan pertama mereka, membuat Namira tak banyak bertanya pada Bella. Teman sang anak yang memiliki wajah serupa dengan adik iparnya, Diana.
"Bagaimana jika Bella benar-benar anak tante Diana?" tanya Edward lagi, ia begitu menggebu ketika membahas ini.
"Nanti mama akan ceritakan Bella pada Om mu, Om David juga pasti akan sangat terkejut," jelas Namira. David adalah kakak pertama Namira, juga suami dari Diana. Sedangkan kakak keduanya adalah Noah, dan dia anak bungsu.
Bukan hanya Edward yang menganggukkan kepalanya, Andrew dan Safira yang sedari tadi mendengarkan pun mengangguk setuju.
Andai Bella benar anak tante Diana dan om David, berarti aku dan dia sepupu. Gumam Edward. Menyadari itu entah kenapa dia tidak senang.
Seolah dunia benar-benar menunjukkan jika dia dan Bella tidaklah berjodoh.
Padahal cinta itu masih tertanam rapi di dalam hatinya.
Setelah menghembuskan nafasnya berat, Edward kembali melanjutkan makan malamnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Apartemen Azam.
Malam ini sepasang suami istri ini benar-benar tidak melakukan itu-itu. Sebelum tidur mereka kembali mengenang masa lalu mereka yang begitu Indah.
"Kita belum jadi jadi pergi ke Villa ayah Adam di desa Parupay," ucap Bella dan Azam tersenyum kecil, membenarkan.
Padahal Azam masih mengingat dengan jelas, janjinya dengan Azura untuk mengajak semua temannya ke sana.
"Nanti saja, setelah Azura dan Julian menikah."
"Memangnya kapan mereka menikah?"
"Entahlah," jawab Azam, ia semakin membenamkan sang istri di dalam pelukannya.
Mengelus pucuk kepala Bella hingga turun ke punggung. Membisikkan kata cinta dan perintah untuk segera tidur.
Sampai akhirnya dengkuran halus sang istri terdengar, Azam tersenyum penuh syukur.