Bringing Back, My Wife

Bringing Back, My Wife
BBMW BAB 72 - Kebelet Pipis



Belum hilang degup jantung Agatha akibat berlari dan takut karena ketahuan, kini jantungnya kembali berdetak tidak karuan. Saat tiba-tiba Edward menarik tubuhnya dan membawanya masuk ke dalam dekapan.


Grep!


Dekapan itu begitu erat hingga tidak ada jarak sedikitpun di antara keduanya. Bahkan aroma tubuh Edward langsung menyeruak masuk memenuhi indera penciuman Agatha, begitu maskulin dan menenangkan. Belum lagi hangat tubuh Edward yang membuat dia merasa begitu nyaman.


Seolah rindu yang beberapa hari ini ia rasa, saat ini menghilang begitu saja. Sama seperti saat dia merindukan Ayah Adam dan saat pulang Ayah Adam akan memeluknya erat seperti ini.


Agatha tersenyum, dia membalas pelukan itu dengan perlahan, menggerakkan kedua tangannya memeluk punggung Edward.


Sejenak Edward pun terkejut, tak menyangka jika Agatha akan membalas pelukannya ini. Dia kira Agatha akan mendorongnya untuk menjauh.


Namun ternyata pelukannya mendapat balasan dan itu membuat dia begitu merasa bahagia. Edward makan tanpa sadar mencium Puncak kepala Agatha dengan sayang. Dan Agatha menikmati itu, semakin menenggelamkan wajahnya di dada bidang sang kekasih.


"Jadi benar kamu merindukanku?" tanya Edward, mereka masih saling memeluk erat dan  Agatha menganggukkan kepalanya dengan berulang.


"Kalau Rindu harusnya cium juga  jangan hanya peluk saja," timpal Edward lagi. Cari-cari kesempatan, mungkin saja Agatha akan menurutinya.


Dan ucapan Edward itu Membuat Agatha langsung berpikir dengan otak nya yang cerdas.


"Apa iya seperti itu? tapi ayah Adam tidak pernah menciumku ketika kami saling memeluk melepas rindu seperti ini," jawab Agatha, dia mendongakkan kepalanya dengan tubuh yang masih memeluk Edward erat.


Saling berbicara dengan tubuh yang saling memeluk.


Mendengar nama ayah Adam dibawa-bawa Edward langsung menghembuskan nafasnya kecewa, jadi saat ini Agatha tidak menganggapnya sebagai seorang kekasih melainkan sama seperti seorang ayah.


Ya ampun, ucap Edward di dalam hati.


"Aku dan ayah Adam berbeda, itu pelukan antara ayah dan anak, yang kita ini pelukan antara kekasih," jelas Edward. 


Agatha mulai memahami, jika kekasih memang harus saling mencium, seperti Alesha dan abang Arnold beberapa hari lalu. 


Namun saat melihat bibir kekasihnya sendiri ia merasa ragu, seolah ada sengatan listrik yang dia rasa. Membuat jantungnya berdebar dan tubuhnya bergetar tidak karuan.


Sesaat Agatha dan Edward pun hanya saling tatap, dengan wajah yang semakin lama semakin dekat. 


Hingga akhirnya Edward berhasil menjangkau bibir ranum itu. Agatha langsung memeluk tubuh Edward erat, menahan gejolak didalam dirinya yang nyaris meledak. 


Sampai akhirnya Edward menggerakkan bibirnya dan melumaati bibir Agatha, gadis ini hanya mampu memejamkan matanya, seraya mencengkram baju Edward erat. 


Hingga ia merasa bahwa ia ingin pipis. 


Agatha mendorong dada Edward pelan hingga pelukan dan ciuman keduanya terlepas. 


"Abang, aku mau pipis," ucap Agatha, dia tidak tahu jika itu adalah hasrat di dalam dirinya yang nyaris keluar hanya karena sebuah ciuman. 


ciuman pertama yang membuatnya seperti tersengat. 


Dan Edward yang memahami itu pun langsung membola, tidak menyangka bahwa Agatha akan sesensitif ini. Padahal dia hanya menciumnya, kedua tangannya tidak melakukan sentuhan yang lain.


Dan membayangkan Agatha yang sudah basah, membuat otak nakal Edward berkelana kemana-mana. Bahkan tanpa sadar intinya pun sudah menggeliat.


"Astaga," ucap Edward.


Jika terus seperti ini, dia tidak bisa dekat-dekat dengan Agatha.


"Sayang, masuklah, pipis di kamar mandi, nanti malam aku akan kemari dan menemuimu kembali," ucap Edward, dengan sekuat tenaga menahan diri agar tidak menyerang gadis di hadapannya ini. 


Dia sudah berjanji pada ayah Adam, Azam dan dirinya sendiri bahwa dia tidak akan merusak Agatha. Sampai waktunya tiba nanti dia akan melindungi sang kekasih.


"Aku sudah tidak kebelet pipis lagi kok, tiba-tiba hilang," ucap Agatha jujur, setelah beberapa saat ciumannya terlepas, rasa ingin pipis itu hilang. 


Membuat Edward menggigit bibir bawahnya, jadi bingung bagaimana caranya mengusir Agatha dari mobil ini.


"Ya sudah, lebih baik kamu masuk dan mandi, ini sudah sore, nanti malam aku akan menemui lagi."


"Masih ada waktu 15 menit sebelum jam setengah lima, aku masih mau bersama Abang," ucap Agatha, dia bahkan langsung kembali memeluk kekasihnya tanpa ada dosa. Memeluk erat lalu mendongakkan kepalanya menatap dari bawah sini. 


Membuat Edward menahan nafas karena mendadak tubuhnya tersengat. 


"Abang tidak mau menciumku lagi?" tanya Agatha.


Dan Edward menjerit di dalam hatinya. 


Lantas tanpa menunggu lama lagi, dia kembali menyesap bibir ranum itu. Bahkan Agatha sampai merasa tersedot begitu dalam. 


Membuat tubuhnya tertarik hingga entah bagaimana tiba-tiba dia duduk di atas pangkuan Edward. Merasakan sesuatu yang mengganjal tepat di inti tubuhnya. 


"Berapa lama lagi kamu kuliah?" 


Tanya Edward dengan nafasnya yang memburu, kedua tangannya menyentuh pinggang Agatha yang terasa begitu ramping.


"Bang, aku mau pipis," rintih Agatha, dia bahkan menggigit bibir bawahnya. Merasa ada getaran di perut saat intinya menyentuh benda aneh itu. 


"Berapa lama lagi kamu kuliah?" tanya Edward lagi, yang ingin tahu kapan kira-kira dia bisa menikahi gadis ini. 


"Paling cepat 2 tahun lagi," jawab Agatha jujur. Jika semuanya lancar 2 tahun lagi dia akan wisuda.


"Ya ampun lama sekali, tidak bisa dipercepat?"


"Bisa, tapi aku harus ekstra belajarnya."


"Baiklah, kalau begitu aku akan membantumu lulus lebih cepat," balas Edward.


"Masih mau pipis tidak?" tanya Edward lagi dan Agatha mengangguk. Selama diintinya ada yang mengganjal ini, keinginan pipis itu terus ia rasa.


"Nanti malam aku akan kembali menemuimu."


Agatha mengangguk lagi, sudah tidak bisa berkata-kata.


Dan Edward segera menurunkan sang kekasih dari atas pangkuannya. Lalu benar-benar membiarkan Agatha pergi. 


Dilihatnya Agatha yang berlari kecil, seraya merapatkan kakinya yang kebelet pipis. Melihat itu Edward terkekeh. Nyaris saja dia kehilangan kendali. Saat kedua tangannya hampir menyentuh dada Agatha untunglah kesadarannya pulih.


"Bisa mati disini aku andai itu terjadi," gumam Edward.


"Ah, kenapa aku bisa jatuh cinta dengan gadis sepolos itu. Dadanya begitu pas lagi di tanganku, sial sial sial!" gerutu Edward. 


Dia sudah membayangkan yang tidak-tidak. Otaknya benar-benar rusak gara-gara Agatha.


"Aku juga harus segera mandi," geram Edward, ia menghidupkan mesin mobilnya dan segera berlalu dari sana. 


Sementara Agatha pun sudah kembali masuk ke dalam kamarnya bersama Alesha.


"Kamu dari mana saja, bukannya mandi malah keluyuran?" tanya Alesha yang sedang mengeringkan rambut.


"Iya ini mau mandi kok," jawab Agatha dengan berlari masuk ke dalam kamar mandi.


Sampai di sana, Agatha merasa intinya yang sudah mulai basah.


"Ya ampun, aku pipis di celana. Hi malu sekali! aku tidak akan memberi tahu Alesha tentang pertemuanku dengan abang Ed tadi," ucapnya dengan malu yang ia rasa. 


Rasanya Alesha dan Ali akan terus meledeknya jika tahu Agatha yang sudah sebesar ini masih pipis di celana.