Bringing Back, My Wife

Bringing Back, My Wife
BBMW BAB 41 - Malam Pemersatu Bangsa



Judul bab ini terinspirasi dari salah satu pembaca setia 😘🤣


Di kamar Azura yang kini jadi kamar pengantin.


Azura dan Julian merebahkan tubuhnya yang lelah di atas ranjang secara bersamaan. Sebagian bunga mawar merah yang sudah ditebar di sana berjatuhan satu per satu, menciptakan semerbak aroma wangi yang begitu disukai oleh Azura.


"Julian, aku lelah sekali," ucap Azura yang nyaris terdengar seperti gumaman. Sebagai pengantin ia tidak hanya duduk di singgasana, namun Azura dan Julian berjalan menghampiri satu per satu tamu. Bahkan memimpin jalannya pesta yang mereka buat malam ini.


"Panggil aku Abang Zura," keluh Julian dan Azura terkekeh. Tawa Azura itu menular pada Julian, sambil menatap langit-langit kamar keduanya tersenyum.


"Kita sudah menikah ya?" tanya Azura yang masih tidak percaya, rasanya mereka tetap hanya sebatas sahabat namun kini malah jadi suami dan istri.


"Benar dan malam ini adalah malam pertama kita," balas Julian dengan nada menggoda. Azura yang tahu kemana arah pembicaraan suaminya itupun mulai bergerak, jika tadi berbaring kini jadi tengkurap. Menjadikan kedua siku lengannya jadi tumpuan.


"Memangnya kalau malam pertama kenapa?" tanya Azura, pura-pura bodoh.


Dan Julian pun menggeser tubuhnya, mengangkat sedikit tubuh Azura hingga sang istri kini berada di atas dadanya.


Azura menurut, kini kedua tangannya bahkan menyentuh dada suaminya.


"Jadi bagaimana? apa kita mulai sekarang?" tanya Julian, lalu mengedipkan sebelah matanya genit.


Azura tergelak, pembicaraan seperti ini benar-benar terasa lucu baginya.


Dan Julian yang melihat tawa itupun hanya mengulum senyum, sementara kedua tangannya semakin memeluk erat pinggang sang istri.


"Cuci muka dulu yuk, kita gosok gigi sama-sama," ajak Azura.


Mereka memang belum membersihkan tubuh sedari pesta pernikahan usai, masuk ke dalam kamar ini dan langsung berbaring disini.


"Ayo," jawab Julian dan Azura bangkit lebih dulu dan membantu suaminya untuk bangun, menarik kedua tangan Julian hingga suaminya ini duduk.


Lalu Julian memeluk tubuh Azura dari belakang dan bersama-sama masuk ke dalam kamar mandi dengan posisi seperti itu.


Sama-sama berdiri di depan cermin kamar mandi dan mulai menggosok gigi, mencuci muka dengan sabun dan mulai membasuhnya.


Sudah selesai bukannya segera kembali ke dalam kamar, Julian malah kembali memeluk istrinya dari arah belakang dan Azura pun menyandarkan kepalanya di ceruk leher sang suami. Saling tatap melalui cermin itu.


"I love you," desis Julian tepat ditelinga sang istri. Azura merasa kegelian, tubuhnya sedikit menggeliat.


"I love you too," balas Azura pula. Dan saat Azura mendongak untuk menatap langsung kedua netra sang suami, Julian langsung menyesap bibir ranum itu hingga keduanya berpaut. Azura pun lantas membuka bibirnya, ikut membelit lidah satu sama lain.


Dari dalam cermin sana nampak jelas saat tangan Julian melepaskan satu per satu baju sang istri, menjadikan Azura polos. Bahkan Azura pun bisa melihat dengan jelas pantulan dirinya sendiri di dalam cermin sana. Membuat fantasi keduanya semakin liar tak terkendali.


Di dalam kamar mandi itu hanya Azura yang mendapatkan pelepasan, itupun hanya mengunakan beberapa jari Julian. Dirasa sang istri mulai siap, Julian pun menggendong sang istri untuk kembali ke atas ranjang. Dan di sanalah keduanya melakukan penyatuan.


Azura mendesis saat merasa perih di bagian intinya. Lalu mulai mendesaah saat sudah terbiasa dan Julian mulai bergerak secara perlahan.


Malam itu jadi malam terpanjang bagi Azura dan Julian. Karena keduanya terus terjaga dalam penyatuan hingga pagi nyaris menjelang.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di meja makan keluarga Malik.


Sepasang pengantin baru tentu saja tidak ada di meja makan ini. Keduanya masih terlelap setelah semalam lembur untuk menyatu.


Sementara yang lainnya sudah berkumpul untuk menghormati tamu dari jauh, Edward yang datang dari Singapura.


Ayah Agra dan mama Sarah pun masih berada di mansion untuk sarapan bersama.


Sedari tadi ia mencuri pandang pada seorang gadis yang duduk cukup jauh di ujung hadapannya.


Bukan Bella melainkan seorang gadis yang semalam ia beri jas. Ya, gadis itu duduk di sana, sedang asik menikmati sarapannya.


Semalam Agatha sudah bertanya pada sang kakak ipar tentang pria itu dan Bella menjelaskan jika pria yang menginap di mansion ini adalah Edward, temannya dan abang Azam saat tinggal di Singapura.


Saat itu Agatha hanya ber Oh ria, lalu menceritakan jika ia tak sengaja menabrak pria itu dan membuat gaunnya basah, lalu pria itu dengan baiknya memberikan Jasnya.


Bella yang mendengar cerita itupun tersenyum, merasa lucu. Lalu mengusap kepala sang adik dengan sayang dan mengatakan besok Agatha bisa mengembalikan jas itu secara langsung.


"Ed?" panggil Arnold yang duduk di sebelah Edward.


"Edward!"


"Hah? iya apa?" jawab Edward yang mendadak gagap.


"Kamu mau apa? mau makanan yang di sebelah sana?" tanya Arnold menunjuk arah yang sedari tadi dilihat oleh Edward.


"Di sini juga ada, ini ambilah," titah Arnold pula, Edward yang mendadak kikuk pun mengambil makanan itu dan memasukkannya ke dalam piring. Lalu kembali makan meski sesekali tetap melirik Agatha.


Edward tersenyum kecil, merasa lucu dengan pertemuan mereka semalam. Ternyata mansion ini adalah rumah gadis itu, lalu untuk apa dia memberikan jas nya?


Ayah Adam juga menjelaskan tentang semua keluarga ini, sampai akhirnya Edward tahu jika gadis cantik dan manis itu adalah Agatha, adik si pria brengsek Azam.


Sesekali Edward menyayangkan, kenapa Agatha harus jadi adiknya Azam. Pria yang sampai detik ini masih dia benci.


Saat sarapan usai, Edward pun pamit untuk pulang. Agatha yang melihat itu jadi bingung sendiri, antara mengembalikan jas nya atau tidak.


Jujur saja, Agatha sangat malu jika semua keluarganya tahu tentang kisahnya semalam dengan Edward. Namun iapun gelisah, masa iya jas nya tidak dikembalikan?


Sesekali Agatha dan Edward saling tatap meski hanya sekejab, seolah ada kata yang keduanya ingin sampaikan namun terhalang oleh banyaknya keluarga diantara mereka.


Sampai akhirnya Edward masuk ke dalam mobilnya dan segera berlalu daro sana.


Agatha menggigit bibir bawahnya kuat, setia menahan kata yang tidak bisa terucap.


Aku ingin mengembalikan Jas nya Bang.


Dan dari dalam mobilnya pun Edward terus melihat kearah gadis itu, Agatha dengan perasaan yang entah. Seolah ada yang mengganjal di hatinya saat tak ada satupun kata yang terucap di antara mereka.


Dan hanya menyisahkan Jas itu yang jadi penghubung diantara keduanya, meski tidak tahu kapan lagi mereka akan bisa bertemu.


"Loh Agatha katanya mau kembaliin jas nya abang Ed, kok gak di kasih, apa sudah kamu kasih sebelum sarapan?" tanya Bella pada sang adik ipar, mereka berada di barisan paling belakang keluarga Malik yang mulai masuk ke dalam mansion, sesaat setelah Arnold juga pamit untuk pulang.


"Ya ampun Mbak, aku lupa," jawab Agatha bohong, ia bahkan tersenyum kuda mendadak bingung harus bagaimana.


Dan Bella malah terkekeh, adik iparnya ini selalu saja terlihat menggemaskan.


"Ya sudah tidak apa-apa, nanti saat kalian bertemu lagi baru kembalikan jas itu," balas Bella dan Agatha hanya menganggukkan kepalanya lemah.


Entah kapan waktu itu akan terjadi.


"Mbak saja lah ya yang kembalikan?" pinta Agatha dengan raut wajahnya yang sedikit memohon, menatap penuh harap sang kakak ipar.


"Tidak mau, nanti kalau abang Azam tahu hii mengerikan," jawab Bella, lagi-lagi dia terkekeh sementara Agatha jadi mencebik.


Akhirnya hanya pasrah pada takdir, berharap suatu saat nanti dia akan kembali bertemu dengan abang baik itu.