Bringing Back, My Wife

Bringing Back, My Wife
BBMW BAB 64 - Foto-Foto Lucu



Agatha mengulum senyumnya saat mendengar ucapan Edward. Pun Alesha yang langsung menggoda sang sepupu, menoel-noel pipi Agatha gemas.


Wanita mana yang tidak akan terbang ketika digoda dengan kata-kata manis seperti itu.


Kita semua memang tidak ada yang tahu bagaimana kedepannya nanti, tapi kalau kita berusaha bersama-sama untuk tetap setia, aku yakin kita bisa sampai menikah.


Rasanya Agatha ingin sekali melayang, Alesha yang menguping dan mendengar kata-kata manis itu pun serasa hatinya berbunga-bunga, meski kalimat itu bukan untuknya. Tapi Alesha ikut berbahagia atas sang sepupu.


"Aku mau pipis," bisik Alesha pada Agatha. Setelahnya dia berlari menuju kamar mandi dan tidak menguping lagi.


"Apa abang mencintaiku?" tanya Agatha, kalimat yang biasanya ditanyakan dengan malu-malu, kini Agatha mengatakannya dengan gamblang.


Agatha yakin, jika untuk menikah maka mereka pun harus saling mencintai. Agar tidak seperti pernikahan abang Azam dan mbak Bella di awal-awal. Pernikahan tanpa cinta yang membuat luka untuk semua orang.


Namun untunglah abang Azam dan mbak Bella masih bisa mempertahankan rumah tangga itu. Andaikan tidak pastilah perceraian yang akan terjadi.


Dan Agatha tidak mau menjadi janda. Membayangkan abang Labih yang jadi duda saja sudah membuatnya merasa iba, Agatha tidak terbayang jika dia pun menjadi janda.


Dan Edward yang ditanya seperti itupun terdiam. Bibirnya tersenyum, ketika menyadari jika mungkin saja Agatha pun tidak tahu apa itu cinta.


"Aku mencintaimu," ucap Edward dan kini bibir Agatha yang mengukir senyum. Hatinya berdebar ketika mendengar kalimat manis itu.


Sesungguhnya, Edward pun masih sedikit ragu untuk mengucapkan kata cinta itu. Namun dia akan terus mengucapkannya setiap hari, agar dia yakin dan cinta itu benar-benar bersemayam di dalam hatinya.


"Aku mencintaimu," ucap Edward lagi hingga membuat Agatha tergelak. Dia minta satu dan diberi dua.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di dalam kamar Azam dan Bella.


Sepasang suami istri ini sudah berbaring diatas ranjang. Bella memeluk suaminya erat, juga menenggelamkan wajahnya di dada bidang sang suami.


"Jadi Edward menghubungi Abang?" tanya Bella, dengan matanya yang mulai terpejam.


"Iya sayang, apa kata Agatha saat kamu mengatakan untuk tidak terlalu banyak berharap?"


"Agatha itu penurut Bang, dia pasti menurut apapun kata kita."


"Kamu benar, seharusnya yang kita cemaskan memang bukan Agatha, tapi Edward," balas Azam, membuat kedua mata Bella kembali terbuka dan menatap suaminya.


"Maksud Abang?" tanya Bella yang masih bingung.


Dan dengan tersenyum Azam pun menjelaskan. bagaimana cemasnya Edward saat Agatha tidak menjawab panggilannya. Juga tentang kesungguhan Edward kepada ayah Adam dan ibu Haura.


"Jadi sekarang Abang sudah merestui hubungan antara Edward dan Agatha? "tanya Bela pula seraya terus menatap lekat kedua Netra sang suami. Dan dilihatnya Azzam yang mengangguk kecil sebagai jawaban.


"Apapun yang terjadi nanti itu adalah takdir yang harus dijalani oleh Agatha, terlepas dari semua kesalahan yang pernah aku lakukan di masa lalu."


Mendengar ucapan Azam itu Bella langsung memeluk suaminya erat.


"Percayalah Bang, bahwa dari masa lalu kita bukan mendapatkan karma tapi sebuah pelajaran yang berharga," sahut Bella.


Dan ucapan itu berhasil membuat senyum Azzam kembali, akhir-akhir ini Azzam selalu merasa bahwa Bela jauh lebih dewasa dibanding dirinya.


"Maafkan Aku," ucap Azam dan Bella menunggukkan kepalanya. Setiap kali sang suami mengucapkan kata maaf tentang masa lalu, Bella akan selalu menjawab iya, agar Azam benar-benar yakin jika dia sudah memaafkan dirinya.


Keduanya saling memeluk erat, setelah mengucapkan kata maaf Azzam pun mengucapkan kata cinta dan Bella membalasnya dengan kata cinta pula. Lalu saling memagut sesaat dan setelahnya benar-benar tidur.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Tapi tidak seperti kemarin yang pergi pagi-pagi sekali, kali ini mereka berangkat bersama dengan abang Azam yang hendak pergi ke MK.


Pulang-pergi Agatha dan Alesha akan selalu bersama dengan Azam.


"Ingat! jangan buat ulah lagi, kerjakan saja tugas kalian, nanti sore Abang akan jemput untuk kita pulang bersama-sama."


"Iya Bang," sahut Agatha dan Alesha bersamaan. Mereka masih berdiri di depan Cafe sampai mobil Abang mereka benar-benar menghilang dari pandangan.


Lalu masuk bersamaan kedalam cafe dengan saling bergandengan tangan.


Salah satu karyawan di sana mengatakan bahwa Tuannya belum sampai ke cafe ini dan meminta agar Agatha dan Alesha untuk menunggu di ruang sang tuan.


Kedua gadis ini menganggukkan kepalanya patuh dan setelah mengucapkan kata terima kasih mereka segera naik ke lantai 3 dan masuk ke ruangan abang Arnold.


Duduk di sofa dan Mulai mengambil buku catatan mereka, membaca-baca kembali materi yang kemarin sempat mereka catat.


"Alesha, kita pinjam komputer abang Arnold yuk, kita buat makalahnya sekarang saja," usul Agatha, rasanya membuat makalah di sini akan lebih memudahkan mereka daripada membuat makalah di rumah, karena di sini materinya akan lebih lengkap.


"Ayok, eh tapi kalau abang Ed marah bagaimana?"


"Kamu telepon saja abang Ed, terus tanya dia kesininya masih lama atau tidak, terus pinjam komputernya boleh tidak."


"Oke," sahut Alesha cepat, lalu segera memgambil ponselnya di dalam tas dan mulai menghubungi.


namun belum sempat terdengar bunyi tut alesha langsung memutus panggilan itu.


"Eh, kamu saja yang telepon, aku takut," cicit Alesha dan membuat Agatha mendengus. Namun Agatha menurut, tanpa banyak tanya dia langsung menghubungi abang Arnold melalui ponselnya.


Dan setelah bunyi tut, tak lama kemudian Arnold menjawab panggilan itu.


"Kalian sudah di cafe?" tanya arnol Setelah dia dan Agatha saling bertukar salam.


"Iya, Abang di mana? Kenapa belum sampai aku dan Alesha sudah menunggu lama," ucap Agatha, setelah dibisiki Alesha untuk berkata seperti itu, pura-pura sudah menunggu lama padahal mereka baru sampai.


"Iya maaf, abang masih ada urusan, kalian ambil saja proposal kemarin di lemari arsip."


"Iya, tapi Bang, boleh nggak aku sama Alesha pinjem komputernya? kami mau sekalian buat makalah."


"Hem," izin Arnold.


Dan setelahnya panggilan itu pun terputus. Agatha dan Alesha langsung antusias untuk segera menuju kursi kebesaran abang Arnold. Agatha menghidupkan komputer dan Alesha menarik satu kursi untuk duduk di sebelah Agatha.


Komputer menyala dan hal pertama yang mereka lihat adalah wallpaper di layar komputer itu, foto abang Arnold lengkap dengan semua sahabatnya.


Arnold, Julian, Azam, Ryu, Haruka, Azura dan Bella.


Kedua gadis ini tersenyum merasa lucu dengan foto itu. persahabatan yang dimulai sejak usia dini hingga kini mereka dewasa.


"Alesha, ayo kita lihat galeri abang Arnold dulu, pasti banyak foto-foto lucu," ucap Agatha dan Alesha pun mengangguk dengan semangat.


Dan bukannya mengerjakan makalah, mereka malah membuka folder foto di komputer itu. Melihat foto-foto kebersamaan Arnold dengan semua para sahabatnya. Namun senyum Alesha perlahan memudar saat melihat dari semua foto itu yang paling banyak adalah foto sang kakak, Bella.


Alesha merasa bahwa hingga kini Arnold masih mencintai kakaknya, namun Agatha tidak berpikir sejauh itu. Dalam pikirannya mbak Bella adalah seorang artis, karena itulah diantara semua teman-teman abang Arnold, foto mbak Bella lebih banyak.