
Happy reading
...💕...
Hari itu juga sebenarnya Bella serta ketiga anaknya sudah diperbolehkan untuk pulang. Namun, Mama Sarah menolak, dia mau putri sulungnya itu dirawat minimal 2 hari di rumah sakit, agar Bella benar-benar pulih.
Lagi pula ada dirinya dan ibu Haura yang akan setia menemani. Pokoknya wanita paruh baya itu meyakinkan Bella, agar tetap tinggal untuk sementara.
Melihat kesungguhan di mata Mama Sarah, akhirnya Bella hanya mampu menurut pada ibunya itu. Dia akan dirawat sementara di rumah sakit, dengan ditemani tiga ibu-ibu yang sudah berpengalaman dalam mengurus anak.
Yaitu Mama Sarah, ibu Haura, dan Acil Aida.
Mereka semua membantu Bella untuk mengurusi baby tripletnya. Bahkan Azzura sangat berantusias ingin membantu pula, ingin belajar menjadi seorang ibu, untuk anaknya kelak bersama Julian.
"Seperti ini, Zura," ucap ibu Haura memperlihatkan cara menggendong bayi yang benar.
Azzura memperhatikan, tetapi belum berani untuk menggendong, baginya tubuh bayi itu sangat lembek dan rapuh. Dia takut kalau sampai tak bisa menggendongnya dengan benar, nanti justru malah berakibat fatal.
"Susah-susah gampang ya, Bu," jawab Zura, lalu dia hanya menciumi kepala keponakannya yang ditumbuhi rambut-rambut halus.
"Nanti kamu juga bisa, Mbak" Timpal Alesha, dan dijawab anggukan manis dari Agatha.
"Iya benar. Kalau sudah jadi ibu pasti bisa sendiri. Iya kan, Bu?" Agatha ikut-ikutan. Ibu Haura hanya mengangguk sambil mengulum senyum menjawab pertanyaan putri bungsunya.
Mata para bayi mungil itu senantiasa terpejam, membuat Azzura, Agatha dan Alesha jadi gemas sendiri. Ingin mereka membuka mata dan mengajaknya bermain bersama.
"Abang nanti kita buat yang seperti ini yah," ujar Zura pada Julian, suaminya.
Julian menoleh ke arah Azzura, dia nampak kikuk untuk menjawab, karena ada ayah Adam di sana. Namun, semua orang yang mendengar celoteh Azzura justru terkekeh keras. Hingga suara mereka membangunkan salah satu bayi Bella.
Dan bayi tersebut ternyata ada dalam gendongan Acil Aida, bayi perempuan dengan pipi kemerahan itu menangis kencang. Mulutnya mencari sesuatu untuk digapai.
"Wah sepertinya dia lapar," ucap Acil Aida, dia melangkah ke arah Bella, untuk menyerahkan bayi mungil itu untuk diberi ASI.
Bella tersenyum lebar, tangannya langsung terulur meminta sang anak untuk disusuinya. Meski belum begitu banyak yang keluar, tetapi Bella tetap berusaha agar ASI-nya lancar.
Begitu bayi itu sudah ada dalam gendongan Bella. Tirai ditutup oleh Azzam. Dan Bella mulai menyusui anaknya, awalnya memang cukup sulit, karena bayi itu terus menangis dan mencari-cari sumber makanannya. Begitu dapat, dia menghisap pelan-pelan, dan sedikit demi sedikit ASI Bella terasa keluar.
Di sampingnya Azzam tersenyum kecil, merasa begitu terpana dengan pemandangan di depannya. "Anak Daddy pintar." Ucapnya lalu mengecup puncak kepala sang anak.
"Tentu saja, siapa dulu Mommy-nya," ujar Bella menimpali ucapan Azzam.
"Iya percaya. Ini Mommy-nya, kamu tahu tidak, kamu itu susah lho bikinnya," goda Azzam, dan langsung mendapat cubitan dari Bella.
"Ih, Abang!"
Semburat merah langsung terpatri pada pipi Bella yang chubby. Bukannya kesakitan, Azzam justru terkekeh lalu kembali menggoda ibu muda itu.
Sementara di luar sana, tak henti-hentinya ketiga wanita muda itu mengganggu bayi mungil Bella. Kini, ibu Haura tengah membersihkan si baby boy yang ternyata poop.
Karena itu dia menangis dan akhirnya membuka mata. Netra jernihnya yang belum mampu melihat begitu indah untuk dipandang dengan lamat-lamat.
Begitu popoknya diganti, bayi itu langsung terdiam. Dia hanya melirik ke sana ke mari, sambil mendengarkan suara-suara riuh di sekitarnya.
"Abisnya anak Abang gemesin, Yah. Agatha juga mau yang kaya gini," jawab Agatha.
Namun, tiba-tiba kepalanya langsung mendapat geplakan dari Ali. Pletak!
"Aduh!"
"Menikah saja belum, sudah mau yang seperti itu," cibirnya dengan mimik wajah yang begitu menyebalkan di mata Agatha.
Gadis itu mendengus, lalu mencebikkan bibirnya. Dan Alesha langsung merangkul tubuh sepupunya itu. "Sudah Agatha, jangan dihiraukan cowok playboy itu. Kita sumpahin aja, nanti anak dia mirip sama mantan pacarnya, biar dia dimarahin sama istrinya."
Agatha manggut-manggut, membenarkan ucapan Alesha. Sementara tangannya melipat di depan dada.
Selesai menyusui tirai Bella kembali dibuka, bahkan Bella yang menjalani operasi sesar yang terbaik, kini sudah bisa berjalan di ruangan VVIP tersebut untuk ikut bergabung bersama bermain di sofa.
Sore itu, suasana di ruangan itu benar-benar oleh keluarga Malik. Mereka mengumbar canda dan tawa, menghangatkan hati siapa saja yang melihatnya.
Dan pada saat itu, Azzam pun ingin mengumumkan pada semua orang tentang nama ketiga anaknya.
"Siapa, Bang?" tanya Azzura tak sabaran.
"Iya-iya siapa, cepat, Bang." Agatha dan Alesha pun ikut menimpali ucapan Azzura, ingin segera tahu nama baby triplet.
Sementara Ali hanya geleng-geleng kepala, melihat tingkah para sepupu wanitanya. Berisik saja gunanya, rutuk Ali dalam hati.
"Azzam akan memberi mereka nama, Adena Malik, Adelia Malik, dan Abraham Malik."
Semua orang tersenyum setelah Azam mengumum kan nama ketiga anaknya, nama-nama yang begitu indah dan mereka pun sangat menyukainya.
"Maaf bang, kalau Abraham aku tau yang laki-laki, tapi yang Adena mana? yang Adelia mana? bagaimana cara membedakannya?" tanya Agatha dengan raut wajahnya yang polos.
Banyak pertanyaan yang membuat semua orang tertawa, soalnya mereka semua memang belum menemukan perbedaan antara Adena dan Adelia.
Azam yang ditanya seperti itu oleh sang adik pun malah menggaruk tengkuknya yang tak gatal, karena sungguh dia pun sebenarnya masih bingung untuk membedakan ketiga anaknya.
Apalagi ketika bayi bayi ini sedang dibedong, dia bahkan tidak tahu mana anak laki-lakinya sendiri.
Dan melihat raut wajah bingung Azzam semua orang kembali tertawa, termasuk Bella pun ikut menertawakannya pula.
"Sudah sudah berhenti tertawa nya, ayo ibu Haura, bunda Aida, kita cari perbedaan dari kedua bayi perempuan ini," ucap mama Sarah dan menghentikan tawa semua orang.
Saat itu juga para orang tua wanita ini mencari perbedaan antara Adena dan Adelia, sampai akhirnya mereka menemukan sesuatu yang bisa jadi pembeda.
Satu bayi perempuan memiliki tahi lalat di tengkuknya, sementara yang satunya tidak ada.
Setelah menemukan perbedaan itu mereka bertiga memanggil Azam untuk mendekat.
"Lihat tahi lalat ini, satu punya dan satu tidak. Jadi putus kan mana yang Adena dan mana yang Adelia," titah ibu Haura.
Azzam pun tersenyum dan kemudian menjawab, "Yang memiliki tahi lalat namanya Adena, yang tidak memiliki tahi lalat namanya Adelia."
Semua orang pun kembali tersenyum, kini tidak ada lagi kebingungan di antara semua orang.