
"Jalan Pak," ucap Bella pada sang supir yang akan membawa mereka menuju Villa milik Ryu.
Keluar dari area parkir Bandara Internasional Narita dan mereka langsung di sambut hujan gerimis.
Di akhir tahun seperti ini memang cuaca jadi tak menentu, tampak cerah namun tiba-tiba turun hujan.
Seperti hari ini.
Sore menjelang malam kali ini gerimis turun.
Semoga hanya gerimis, tidak sampai hujan. Batin Bella, ia menatap keluar jendela mobil, melihat air yang satu-satu menjatuhi kaca, juga untuk menghindari tatapan pria yang duduk disebelahnya.
Cukup lama mobil itu melaju dan hanya dipenuhi dengan keheningan.
Sampai tiba-tiba sang supir menepikan mobilnya di pinggir jalan dan menoleh kebelakang, menatap kedua penumpangnya dengan wajah yang was-was.
"Ada apa Pak?" tanya Bella menggunakan bahasa Jepang, melihat wajah cemas sang supir membuat iapun merasa cemas pula.
"Maaf Nyonya, saya tidak bisa mengantar Nyonya dan Tuan ke Villa tuan Ryu, istri saya masuk rumah sakit," jawab sang supir, terdengar seperti sebuah permohonan.
"Lalu bagaimana dengan kami Pak? kami tidak tahu arah menuju Villa," sanggah Bella pula, mendadak cemas dengan nasibnya.
Merasa tak aman saat menyadari jika ia dan Azam akan memiliki banyak waktu yang terbuang.
Bella ingin kembali berucap, namun urung saat Azam mencegahnya, menyentuh bahu Bella, memberi isyarat untuk diam.
"Baiklah Pak, bisakah alamat Villa anda pasang di navigasi?" Azam kini yang bersuara, dan sang supir pun langsung menganggukkan kepalanya dengan antusias.
Sementara Bella hanya menghela napasnya panjang.
Kini ia dan Azam benar-benar hanya akan berdua di waktu yang panjang. Dari Tokyo menuju Kyoto.
Azam turun dan mengambil alih kemudi, sementara sang supir meninggalkan mereka dan pergi menggunakan taksi.
Duduk di kursi kemudi dan mulai memahami navigasi yang sudah dipasang oleh supir.
Ini bukan pertama kalinya Azam mengendarai mobil di kota Tokyo, sedikit banyak ia cukup memahami rutenya, tapi Kyoto? ini masih sangat asing.
Bismislahirohmanirohim. Batin Azam dan setelahnya ia mulai melaju.
"Jangan asal jalan, jika kamu tidak yakin sebaiknya kita cari supir sewaan," ucap Bella dengan nada ketus.
Ia masih duduk di kursi belakang dan menatap Azam dengan tatapan ragu. Rasa-rasanya jika Azam yang menyetir mereka malah akan tersesat.
"Terlalu lama untuk mencari supir baru, bisa-bisa kita sampai di Villa larut malam," jawab Azam, ia menjawab dengan kedua netra yang tetap menatap fokus ke depan.
"Lebih baik sampai terlalu larut malam daripada kita tidak sampai-sampai," desisnya menyindir.
Tidak dilihat Bella jika didepan sana Azam mengukir senyum tipis.
Sudah sebulan ini Azam tidak mendengar suara Bella, dan kini suaranya itu mampu membuat hatinya berdebar.
Rasanya ingin sekali terus berdebat dengan Bella agar suara itu bisa ia dengar terus.
Namun sadar jika kini harus mengubah strategi, akhirnya Azam memilih diam.
Sementara Bella melipat kedua tangannya di depan dada dan memilih melihat jalanan.
Sampai akhirnya mereka keluar dari Tokyo dan mulai memasuki Kyoto.
Gerimis yang tadi pun kini sudah berubah jadi hujan, hujan pelan-pelan yang lambat laun menderas.
"Bella, bisakah aku meminta tolong?" tanya Azam. Namun pandangannya tetap menatap lurus ke depan.
"Bell?"
"Apa?!" jawab Bella ketus.
"Tolong ambilkan kacamataku, ada di dalam tas, di sampingmu."
Bella tidak menjawab, ia hanya bergerak dan mulai membuka tas itu. Menghela nafas panjang, karena sebenarnya ia sungguh enggan untuk menyentuhi semua barang milik Azam.
Bella membuka tas itu, mencari-cari dimana kacamatanya berada. Namun bukan kacamata yang ia temukan. Bella malah melihat buku catatan kecil Azam yang terbuka.
Memperlihatkan foto pernikahan mereka. Foto yang hanya diisi oleh mereka berdua. Azam dan Bella tidak saling memeluk ataupun bergandengan tangan. Keduanya hanya berdiri dan saling berdampingan, namun dalam foto ini seolah diisi dengan penuh cinta.
Sesak di hati Bella kembali terasa, namun buru-buru ia hilangkan. Kembali mengabaikan dan tetap mencari kacamata, hingga akhirnya kacamata itu ia temukan.
"Ini!" ucap Bella ketus, tangannya terulur kearah depan dan Azam segera mengambilnya.
"Terima kasih," jawab Azam.
Azam langsung menggunakan kacamata itu dan pandangannya semakin membaik.
Sementara Bella menatap nanar supir yang sebenarnya adalah suaminya ini.
Dulu Azam menggunakan kacamata hanya untuk melindungi matanya agar tidak sakit saat membaca.
Namun kini sepertinya, mata Azam benar-benar sudah merabun.
Terserahlah. Batin Bella, sungguh ia tidak ingin peduli lagi.
Keheningan kembali mengambil alih diantara mereka. Sampai tiba-tiba mobil yang dikendarai Azam berhenti secara mendadak.
Bella bahkan sampai terhuyung dan terkejut.
"Azam! apa yang kamu lakukan!" bentak Bella, barusan itu sungguh berbahaya. Untunglah kini mereka tidak berada di keramaian kota, andaikan masih berada di jalan raya pasti akan menyebabkan pengendarai lain celaka.
Mesin mobil mati dan saat Azam ingin menghidupkannya lagi tapi tidak bisa.
Hanya terdengar mesinnya menyala sebentar, lalu mati. Berulang kali mencoba dan terus seperti itu jadinya.
"Mobilnya macet," ucap Azam apa adanya. Mendadak cemas karena kini pun hujan semakin deras.
"Bagaimana bisa macet? lalu bagaimana dengan kita!" tanya Bella, mendadak geram ada di keadaan seperti ini.
Bella mencoba menghubungi teman-temannya dan tidak ada yang terhubung.
"Aku akan turun dan memeriksa," ucap Azam.
Tidak peduli dengan hujan lebat yang mengguyur tubuhnya, Azam tetap keluar dan membuka kap mobil. Malam semakin larut membuat pandanganya semakin berkurang. Apalagi cahaya yang ia gunakan hanyalah dari ponsel.
"Harusnya tidak ada yang rusak, kenapa mobilnya macet?" gumam Azam.
Dengan tubuhnya yang basah kuyup, ia kembali masuk dan coba menghidupkan kembali mobil itu.
Namun sayang, mobil benar-benar tak bisa lagi menyala.
"Tidak bisa Bell, kita harus ke bengkel," jelas Azam.
Sementara Bella memilih diam, acuh dan memalingkan wajah. Ia tidak ingin menatap Azam.
Melihat Azam yang sudah basah kuyup di tengah malam begini.