Bringing Back, My Wife

Bringing Back, My Wife
BBMW BAB 54 - Penolakan



Azam tergelak saat melihat wajah Edward yang masam. Senang rasanya kini dia punya kendali untuk mempermainkan Edward. Pria yang dulu sempat mempersulit dia dan Bella untuk kembali bersama.


Seperti termakan omongan nya sendiri, Kini Edward malah menyukai wanita yang menjadi adik Azzam.


"Sudah kuduga bicara denganmu tidak akan membuahkan hasil. Tahu begini aku langsung saja bicara dengan om Adam," kesal Edward. Ia memalingkan wajah dari Azam dan menetap sembarang ke tempat lain. Menatap jalanan sepi di depan rumah mereka.


"Ya sudah, langsung saja katakan pada ayahku dan bersiaplah jika kamu mendapatkan penolakan," balas Azam masih dengan kekehannya yang meledek.


Edward pun mendengus kesal, besok sebelum pulang ke Singapura ia memang berniat menemui om Adam. Tujuan utamanya datang ke mansion keluarga malik memang untuk menemui om Adam langsung, bukan lagi Agatha yang susah diajaknya untuk bicara.


Biarkan saja gadis lugu itu tahu saat semuanya sudah beres.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Kembali ke dalam kamarnya, Azzam melihat Bella yang belum tertidur. Istrinya itu masih memainkan ponsel di tangannya, duduk bersandar di sandaran tempat tidur.


"Ku kira kamu sudah tidur?" tanya Azam, ia menghampiri istrinya dan ikut naik ke atas ranjang. Menarik selimut dan duduk di sebelah Bella.


"Mana bisa aku tidur kalau Abang tidak ada disini," jawab Bella jujur namun Azam mendengarnya sang istri sedang menggoda.


"Hem, memangnya mau apa?" tanya Azam dengan tersenyum smikr.


Bella yang tahu kemana arah pembicaraan sang suami pun langsung memukul dada adzan pelan. Pastilah suaminya ini sedang membicarakan itu itu.


"Ish, ayo tidur," ajak Bella dan Azam terkekeh. Keduanya lantas berbaring dan saling memeluk erat.


"Abang sama Edward tadi bicarain apa?" tanya Bella, ia menyembunyikan wajahnya di ceruh leher sang suami.


"Agatha," balas Azam singkat, lalu mengulum senyum ketika teringat wajah lucu Edward, wajah yang frustasi dan kesal.


Bella yang mendengar nama sang adik ipar pun langsung tersenyum pula, sudah terbayang bagaimana lucunya jika membahas adik iparnya itu.


"Jadi Edward galau, gara-gara besok sudah kembali ke Singapura dan urusannya dengan Agatha belum selesai."


"Iya sayang," jawab Azam, setelahnya dia pun menceritakan semua pembicaraannya dengan Edward. Sedangkan Bella mendengarkan dengan sesekali terkekeh lucu.


Edward yang sulit untuk bicara dan Agatha yang tidak peka.


Lalu Edwars memutuskan untuk bicara langsung kepada ayah Adam.


"Bagaimana menurut Abang? apa ayah Adam akan setuju dengan hubungan mereka."


"Ayah Adam tidak akan setuju," balas Azam cepat, ia bahkan kembali terkekeh.


"Kenapa?"


"Karena Agatha adalah putri kecil ayah Adam, apalagi sekarang Azura sudah menikah, ayah pasti akan lebih posesif pada anak bungsunya itu," jelas Azam.


Azam pun tahu betul jika selama ini ia melarang keras anak-anaknya untuk menjalin kasih semasa masih menjalani pendidikan.


Ayah Adam merasa jika cinta-cintaan hanya akan membuat mereka tidak fokus dalam pelajaran.


Kalau kata ayah Adam, akan ada masanya kalian hanya boleh sekolah, lalu ada masanya kalian akan mengenal cinta yang sesungguhnya.


"Kasihan Edward," ucap Bella setelah Azam bercerita dan menganggukkan kepalanya, setuju.


Selesai bercerita itupun keduanya langsung terlelap, hanyut dalam alam mimpi masing-masing. Namun di dalam mimpinya mereka sama-sama bertemu dengan sang anak.


Bella bertemu dengan 2 bayi mungil perempuannya di masa depan, sememtara Azam bertemu dengan satu bayi laki-lakinya di masa depan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Pagi datang.


Pagi-pagi sekali Edward sudah bersiap untuk pergi ke Mansion keluarga Malik. Tepatnya jam 7 pagi dia sudah berdiri di depan pintu Mansion megah itu.


Mengetuk pintunya tanpa ragu hingga akhirnya seorang pelayan membukakan pintu untuknya.


Edward masuk dan langsung disambut oleh ibu haura. Saat itu Ibu Haura dan Acil Aida sedang berada di lantai satu, menyajikan sarapan di meja makan untuk semua orang, sebelum nanti memanggil para suami untuk sarapan bersama.


"Edward, kamu kesini Nak, ayo masuk," ajak Haura, ingin langsung mengajak Edward untuk duduk di meja makan, karena sebentar lagi waktu sarapan pun akan tiba.


"Maaf tante, bisakah aku bertemu dengan om Adam?" tawar Edward langsung setelah ia mencium punggung tangan kanan ibu Haura tanda hormatnya.


Mendengar itu ibu Haura langsung menganggukkan kepalanya, lalu meminta kepada Edward untuk menunggu di ruang tengah sementara dia akan memanggil suaminya.


Tak Berapa lama Setelah menunggu, Edward melihat kedatangan Om Adam dan tante Haura, menuruni anak tangga dan menghampiri dia di sini.


Ibu Haura lalu pamit untuk kembali pergi ke dapur meninggalkan Edward dan suaminya berdua di ruang tengah itu.


"Ed, ada perlu apa kemari Nak, apa ada sesuatu yang penting?" tanya ayah Adam memulai pembicaraan di antara mereka berdua.


Edward yang ditanya seperti itu mendadak gugup, keberanian yang tadi Ia punya kini menghilang entah kemana. Bahkan keringat dingin pun tanpa ia sadari mulai membasahi kedua telapak tangan.


lidahnya terasa kelu untuk menjawab, sepatah kata pun rasanya sulit untuk keluar.


"Ed?" tanya Ayah Adam sekali lagi, saat melihat Edward yang nampak diam dan gugup.


Bagaimana tidak gugup, ayah ada memang terlihat begitu sangar di kedua matanya. Tatapan tajam dengan rahangnya yang tegas, membuat Edward tidak berkutik, sulit untuk bergerak.


"Ma-maaf Om, se-sebenarnya ..." jawab Edward mendadak Gagap.


Dan Adam semakin menatap lekat pemuda ini, menunggu yang akan diucapkan oleh Edward selanjutnya.


Adam tidak tahu jika tatapannya itu makin membuat Edward gugup, seketika hilang semua kata-kata yang sudah ia rangkai.


"Edward?" tanya Adam lagi dan lagi.


sampai akhirnya Edward tidak punya pilihan lain. dengan keringat dingin yang mengucur deras di dahinya ia mulai buka suara.


Menyampaikan maksud dan tujuannya pagi-pagi datang ke Mansion ini, yaitu untuk Agatha, anak bungsu Adam Malik.


Mendengar nama sang anak disebut, kedua netra ayah Adam makin membesar. Makin menatap tajam kepada Edward.


Dan Edward yang sudah kepalang basah pun akhirnya melanjutkan ucapannya.


"Maafkan saya Om, saya sudah lancang untuk menaruh rasa pada Agatha. Tapi saya sungguh tidak main-main dengan ucapan saya ini. Saya ingin saat Agatha siap nanti, sayalah yang akan menjadi pendamping hidupnya."


terbelalak lah kedua mata Ayah Adam saat mendengar kata-kata itu. anak bungsunya pagi-pagi sekali sudah mendapatkan lamaran dari seorang pemuda, bukan main-main pemuda itu adalah pengusaha muda dari Singapura. Salah satu anak dari keluarga Saverun.


Keluarga yang baru kemarin menjadi bagian dari keluarga Malik.


Sebelum menjawab ucapan Edward, Ayah Adam berdehem terlebih dahulu. Menetralkan suaranya yang mendadak pun bingung.


"Maaf Ed, bukan om menolak keinginanmu itu. Tapi om tidak ingin menjodoh-jodohkan anak lagi dan Agatha pun masih kecil untuk bicara tentang pernikahan. Jadi bisakah kita menyerahkan semuanya saja kepada Allah, jika benar kalian memang berjodoh, maka apapun yang terjadi kalian akan tetap bersama," jawab Ayah Adam.


Mendengar itu, Edward menghembuskan nafasnua pelan. Ia cukup tahu jika ini adalah penolakan dengan cara yang baik.