
Hari ini adalah satu minggu sebelum tanggal 28 Januari, tanggal di mana Ben dan Fhia akan menggelar acara pernikahannya.
Dan hari ini pula Ben menjemput Fhia di Tangerang untuk datang ke Jakarta, Fhia dan Ben akan menyampaikan undangannya secara langsung kepada keluarga Malik.
Utamanya adalah kepada papa Agra dan mama Sarah, juga ayah Adam dan ibu Haura.
Teman-teman mereka seperti Azam, Bella dan yang lainnya belum mendapatkan undangan ini.
"Pak, Bu, kami pergi dulu ya," pamit Ben kepada kedua orang tua Fhia, setelah mencium punggung tangan kanan mereka takzim, Ben dan Fhia pun segera pergi.
"Kamu gugup?" tanya Ben pada sang calon istri dan Fhia hanya mampu tersenyum kikuk.
Semenjak menjalin kasih dengan Ben, Fhia belum pernah bertemu dengan Bella ataupun keluarga Malik. Rasanya hubungannya ini masih menjadi sebuah rahasia. Dan hari ini dia tiba-tiba mengirimkan sebuah undangan pernikahan.
Fhia gugup, sedikit malu dan entahlah. Pokoknya membayangkan itu hatinya berdegub kencang.
"Sebenarnya bukan hanya Azam dan Bella yang tahu hubungan kita sayang, tapi semua orang sudah mengetahuinya, tuan Adam dan nyonya Haura juga sudah tahu lama," jelas Ben dengan tersenyum kecil.
Dan mendengar itu Fhia langsung menatap ke arah sang kekasih.
"Benarkah? kenapa baru sekarang kamu mengatakannya kepadaku?" tanya Fhia buru-buru.
"Karena aku tidak mau kamu marah. Kamu memintaku untuk merahasiakannya kan? tapi maaf, aku tidak bisa ..."
"Aku tidak sanggup menyimpan kebahagiaanku sendiri, jadi aku berbagi kepada mereka ..."
Fhia menunduk, mendadak malu. Entah kenapa ucapan Ben itu mampu membuat hatinya berbunga-bunga. Seolah Ben yang mengakuinya pada semua orang menunjukkan betapa Ben mencintai dirinya.
Tidak malu meski dia hanyalah wanita biasa dan tidak terlalu cantik.
Perjalanan mereka cukup jauh, apalagi Ben membawa mobilnya dengan begitu santai, hingga saat waktu dzuhur tiba mereka menepi di salah satu masjid dan sholat disana.
Lalu mencari tempat makan.
Mereka berhenti di sebuah cafe dan beristirahat disana.
"Nanti biar aku saja yang bawa mobil," ucap Fhia, dia pun biasa membawa mobil Jakarta Tangerang.
"Tidak perlu, aku masih sanggup," balas Ben, dia menggenggam tangan Fhia saat mereka masuk ke dalam cafe yang cukup ramai itu.
Dan mendapatkan sentuhan seperti ini, Fhia pun tersenyum, merasakan hatinya yang berdebar.
Hubungannya dengan Ben benar-benar berubah, bukan lagi dua orang yang selalu berdebat. Namun kini mencoba memiliki hubungan yang romantis.
Sudah hampir 3 bulan mereka bersama, namun tetap saja rasanya masih canggung bagi Fhia.
Sementara Ben, sudah sangat biasa ada Fhia di sampingnya. Semenjak dia memutuskan Fhia untuk menjadi calon istrinya, semenjak itulah Ben menganggap Fhia sebagai wanitanya.
Mereka makan siang bersama, sampai tak menyadari jika diluar mulai turun hujan.
Saat hendak keluar mereka dibuat terkejut, hujan cukup deras jatuh ke bumi.
"Bagaimana ini?" tanya Fhia, bukan hanya mereka berdua, pengunjung lain yang juga ingin melanjutkan perjalanannya merasakan kebingungan yang sama seperti mereka.
"Tunggulah disini, di bagasi sepertinya ada payung."
Sebelum Ben berlari menuju mobil Fhia dengan cepat menahan tubuh sang kekasih.
"Tidak perlu, kita langsung saja lari bersama," putus Fhia.
Fhia mengangguk.
Keduanya tersenyum, lalu dengan bergandengan tangan Ben dan Fhia berlari di tengah hujan. Buru-buru masuk ke dalam mobil dan menutupnya dengan cepat.
Brak!
Mereka tertawa dengan nafasnya yang terengah. Lalu saling tatap dengan tatapan yang dalam.
Belum hilang nafas terengahnya, Ben dengan segera menarik tengkuk Fhia dan menjatuhkan sebuah ciuman di bibir basah itu.
Ini adalah ciuman pertama mereka.
Fhia tidak berontak, dia menutup mata dan membuka mulutnya, lalu bergerak sesuai naluri.
Tidak peduli jika tubuh mereka basah, Ben dan Fhia saling memeluk erat. Mencari kehangatan dari dingin yang mereka rasa.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Jam 3 sore Ben dan Fhia sampai di Jakarta. Mereka langsung menuju rumah Azam.
Karena selama di Jakarta Fhia akan menginap di rumah Bella.
Baju basah keduanya sudah kering di badan. Tapi mereka tidak merasa kedinginan sedikitpun.
Dan kali ini adalah pertemuan pertama Fhia dan Bella setelah lama tidak bertemu.
Bella langsung mengantar Fhia ke dalam kamarnya, meninggalkan Ben dan Azam di ruang tengah, bersama ayah David pula.
"Alhamdulilah, jadi kamu hamil kembar 3? wah hebat!" ucap Fhia, dia sungguh terkejut. Sama terkejutnya seperti seluruh keluarga Bella dan Azam kala itu.
Kembar 3 seperti sebuah anugrah terbesar yang pernah keluarga ini terima.
"Iya, aku juga tidak menyangka," balas Bella dengan antusiasnya.
"Berapa lama di Jakarta?"
"2 hari, besok pagi ke rumah ayah Adam dan papa Agra. Besoknya pulang."
"Kalian tidak dipingit? kenapa malah bertemu?" tanya Bella lagi, keluarga Fhia yang dia tahu adalah orang jawa semua, pasti kental tantang adat-adatnya.
"Sebenarnya di pingit, tapi aku ingin memberikan undangan ini secara langsung. Papa Agra, mama Sarah, ayah Adam dan ibu Haura sudah banyak membantuku."
Bella tersenyum, lalu memeluk Fhia yang sudah seperti keluarganya sendiri.
"Aku senang sekali, akhirnya kamu menikah. Tapi anehnya kenapa bisa jadi dengan Ben ya?" ucap Bella.
Dia melerai pelukannya dan membuat mereka berdua terkekeh bersamaan.
"Aku juga tidak tahu," jawab Fhia, dengan sisa-sisa senyum di bibirnya.
Mereka berdua terus berbincang, tentang rencana Fhia setelah menikah nanti. Dia akan ikut Ben untuk tinggal di Jakarta. Dan Bella tidak sabar menunggu waktu itu tiba.
Membayangkan dia, Zura dan Fhia kumpul bersama dengan status yang berbeda.
Sudah menikah dan menjadi seorang istri.
Seolah naik kelas dalam kehidupan ini.