Bringing Back, My Wife

Bringing Back, My Wife
BBMW BAB 44 - Tamu Tidak Diundang



Drt drt drt ...


Drt drt drt ...


Ponsel Bella di atas nakas terus bergetar, sementara si pemiliknya sedang sibuk bersama sang suami untuk menggunakan testpack yang kemarin mereka beli.


Azam tidak mau menunggu di luar, jadilah dia ikut ke dalam sini. Bahkan melihat saat sang istri memposisikan pipisnya dalam sebuah mangkuk keramik kecil.


"Abang ih, aku kan malu," keluh Bella setelah ia membenahi celana pendeknya. Lalu bersama-sama menuju meja tempat biasa mereka menggosok gigi bersama-sama.


Memasukkan ujung testpack itu ke dalam  cairan di dalam mangkuk, lalu membiarkannya hingga 5 menit. Mereka sama-sama melihat detik demi detik garis itu menunjukkan warnanya.


2 garis merah.


"Aa!!" pekik Bella, ia bahkan langsung memeluk sang suami erat, berjingkrak jingkrak kegirangan. Sementara Azam yang  sebenarnya tidak tahu apa arti 2 garis merah itu sedikit bingung, namun saat melihat sang istri yang bersorak bahagia dan langsung memeluknya Azam sangat yakin jika Bella sekarang hamil.


Azam pun membalas pelukan sang istri, lalu mengangkat tubuh Bella dan menggendongnya seperti bayi Koala, membawa Bella kembali ke atas ranjang mereka.


"Kamu hamil?" tanya Azam dan Bella langsung menganggukkan kepalanya dengan wajah yang berseri dan kedua netra yang berbinar.


"Alhamdulilah," ucap keduanya bersamaan, lalu saling mengikis jarak dan menyesap bibir satu sama lain. Masih terus menggendong istrinya, Azam melumaati bibir Bella, ciuman panas tanda syukur mereka.


Ciuman itu berakhir saat mendengar suara bell apartemen mereka bunyi. Perlahan Azam dan Bella melepas pagutannya dan saling pandang. Siapa orang yang datang pagi-pagi buta begini.


Azam dan Bella kompak melihat jam di dinding, jam enam pagi.


"Tunggu disini, aku akan melihatnya," ucap Azam, ia mendudukkan Bella di sisi ranjang. Lalu segera keluar dari dalam kamar dan membuka pintu apartemen mereka.


Azam sedikit heran, saat melihat seorang pria paruh baya berdiri disana, menggunakan setelan jas lengkap dengan raut wajah yang begitu bersedih.


Padahal Azam kira yang menekan bell apartemennya adalah cleaning service ataupun orang dari pihak apartemen, tapi ternyata bukan.


Lalu siapa orang ini?


"Maaf, anda siapa?" tanya Azam, dia berdiri diambang pintu dan bertanya pada pria paruh baya ini.


Belum sempat orang itu menjawab, Azam makin dibuat terkejut saat tiba-tiba ada seorang pemuda yang juga datang ke apartemennya, pemuda yang sangat ia kenal, Edward. Berlari dan menghampiri pria paruh baya itu.


"Om, jangan seperti ini," ucap Edward seraya memegang salah satu lengan pria paruh baya yang dia panggil Om.


Azam pun mendadak bingung melihat situasi ini dan makin bingung lagi saat pria paruh baya ini akhirnya buka suara.


"Dimana Dinda?" tanya pria itu kepada Azam dan Edward pun menghembuskan nafasnya pelan.


"Maafkan aku Zam, bisakah kamu mengizinkan kami masuk?" pinta Edward akhirnya dan Azam pun dengan segera menganggukkan kepala.


Membuka pintu apartemennya lebar-lebar dan mempersilahkan keduanya untuk masuk.


"Aku tidak hanya datang berdua, kedua orang tuaku juga datang," ucap Edward yang merasa tidak enak hati apalagi mereka datang ke apartemen Azam saat pagi-pagi buta begini.


"Maafkan kami Zam, kami mengganggumu sepagi ini," ucap pak Andrew, ayah Edward. Ibu Namira pun menunjukkan raut wajah rasa bersalahnya.


"Tidak apa-apa Om, silahkan duduk," jawab Azam, mempersilahkan semua tamunya untuk duduk di ruang tamu. Azam pun merasa tak enak hati, karena dia pun belum mandi dan hanya menggunakan celana pendek.


"Maaf, jika saya tidak sopan," ucap Azam tidak enak hati, seraya menatap penampilannya sendiri yang seperti ini. 


"Tidak apa-apa Nak, duduklah bersama kami," pinta ibu Namira dan Azam pun menurut.


Saat itu ibu Namira lah yang mengambil alih kendali keadaan. Mengatakan apa tujuan mereka datang pagi-pagi seperti ini ke apartemen Azam. Bahkan mereka baru saja turun dari penerbangan Singapura-Indonesia dan langsung datang kesini. 


Tak lain adalah untuk bertemu dengan Bella dan menceritakan semua yang telah terjadi di masa lalu. 


Dulu, tante Diana dan om David memiliki seorang anak perempuan bernama Dinda. Suatu hari mereka berkunjung ke Indonesia untuk menghadiri sebuah acara. Pada saat acara berlangsung Dinda tiba-tiba hilang bersamaan dengan hilangnya babysitter Dinda. 


Diana dan David terus mencari anak semata wayang mereka hingga kini namun tidak juga ditemukan. Babysitter mereka ditemukan tewas gantung diri setelah membawa Dinda pergi entah kemana. 


Babysitter itu hanya meninggalkan sebuah surat sebagai peninggalannya, mengatakan bahwa Dinda akan hidup bahagia bersama orang tua barunya, bukan orang tua seperti mereka yang selalu sibuk dengan pekerjaan,  bahkan hingga sampai mengabaikan anak semata wayang mereka.


Diana dan David benar-benar terpukul saat itu, bahkan rasa bersalah dan takut anaknya tidak hidup dengan baik menghantui mereka hingga kini. 


Sampai akhirnya satu tahun lalu Diana meninggal karena sakit yang dideritanya. 


Dan kemudian datanglah Bella ke keluarga Edward. Diam-diam Edward mengambil rambut Bella dan melakukan tes DNA dengan om David, dan ternyata mereka memiliki kecocokan DNA 99,99 % yang artinya bahwa Bella adalah benar anak om David dan tante Diana. 


Azam terperangah, sangat terkejut hingga membuatnya tidak bisa berkata apa-apa. Belum sempat ia bertemu dengan paman Mark namun kini ia mendapatkan fakta yang sangat mengejutkan.


"Apa kamu suami Dinda?" tanya om David lirih, bahkan kedua matanya sudah mulai berkaca-kaca. Om David seusia dengan ayah Adam, namun om David tampak lebih tua daripada umurnya. Penderitaan hidupnya lah yang membuatnya terlihat renta seperti ini. 


"Iya Om, saya suami Bella," jawab Azam, entah siapa nama Bella dulu, namun bagi Azam istrinya adalah Arabella.


"Bolehkah saya bertemu dengan Dinda?" tanya om David lagi dengan penuh permohonan.


Azam menelan ludahnya dengan kasar dan menganggukkan kepalanya kecil. 


Namun belum sempat bangkit ia mendengar suara sang istri yang mendekat.


Berteriak kepada Azam bertanya siapa yang datang, karena suaminya itu lama sekali kembali ke dalam kamar. 


Sudah menggunakan celana training, Bella pun memutuskan untuk pergi ke ruang tamu pula dan melihat langsung siapa yang datang.


Dan betapa terkejutnya Bella saat melihat sudah banyak orang disana. Tiga orang lainnya Bella mengenal mereka semua, Edward, tante Namira dan  Om Andrew.


Tapi siapa pria paruh baya itu?


Deg! 


Seketika jantung Bella terasa berhenti saat tatapan mereka bertemu. Hatinya berdesir tiba-tiba merasa pedih.