Bringing Back, My Wife

Bringing Back, My Wife
BBMW BAB 38 - Menuju Pernikahan



Pagi ini Bella jadi orang yang paling sibuk. Menikmati peran barunya sebagai seorang istri, Bella menyiapkan sarapan untuk suaminya.


Hari ini Azam mulai bekerja di perusahaan keluarga Malik, perusahaan Malik Kingdom sebagai manajer produksi.


Selesai membuat sarapan, Bella membangunkan sang suami. Mengajak Azam mandi bersama agar suaminya ini semangat untuk bangun.


"Benar mandi sama-sama?"


"Iya Abaaang," jawab Bella pasrah, tubuhnya juga sudah terasa begitu gerah, meski kini baru jam 5 subuh.


"Mandi plus plus nggak?" tanya Azam lagi, kini ia sudah bangun dari tidurnya dan duduk di sisi ranjang.


"Abang mau ada plus plusnya?" tanya Bella menggoda, membuat Azam terkekeh dan menarik istrinya untuk mendekat, lalu menggendong Bella seperti pengantin baru dan menuju kamar mandi.


Mandi plus plus seperti keinginan Azam.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Hari pertama kembali ke perusahaan ini tentu bukan hal yang mudah untuk Azam.


Sejak awal sang ayah sudah mengatakan jika Azam akan diperlakukan sama seperti karyawan yang lain, tidak seistimewa saat ia duduk di kursi pemimpin.


Bisik-bisik tentang masa lalunya pun masih sering diperbincangkan, nama Raya masih terus menghantui dirinya.


Namun Azam tetap optimis, ia semakin bekerja dengan baik untuk menunjukkan bahwa kini ia benar-benar sudah berubah.


Hingga waktu pun berlalu, kini sudah tiga minggu Azam bekerja di MK.


Azam mulai mendapatkan teman satu devisinya, bahkan tak ada lagi yang membicarakan Azam di belakang.


Perubahan Azam benar-benar terlihat nyata, ia fokus dalam bekerja dan menunjukkan baktinya pada perusahaan MK.


Pernikahan Julian dan Azura pun sudah di tentukan jadwalnya. Tepatnya satu minggu lagi pernikahan itu akan di gelar.


Azam dan Bella juga mengundang Edward untuk datang ke Indonesia.


Edward pun menyanggupi, meski dalam hatinya merasa sedikit ragu untuk datang. Di Singapura Edward terus menyelidiki tentang Bella dan tante Diana. Dan semakin lama ia menyelidiki, tabir masa lalu itu makin terkuak nyata.


Menjelang hari bahagia Azura pun Bella dan Azam memutuskan untuk tinggal di mansion ayah Adam. Bella yang kini hanya di rumah jadi banyak membantu untuk persiapan pernikahan sang adik ipar.


Seminggu sebelum pernikahan pun Azura dan Julian dilarang bertemu, kalau kata ibu Haura mereka berdua harus di pingit.


Tanpa sepengetahuan semua orang jika tiap malam Azura dan Julian selalu terhubung oleh panggilan video call. Bahkan kadang panggilan itu tetap terhubung meski mereka berdua sudah tertidur.


Acara pernikahan Azura nanti akan diadakan di mansion ini. Halaman luas di belakang mansion akan di sulap jadi tempat pernikahan yang mewah, bertema outdoor.


Seperti pernikahan impian Azura.


Dan malam ini sama seperti kemarin, Azura dan Julian terhubung dalam sambungan video call.


"Abaaang," panggil Azura dengan suaranya yang mendayu-dayu. Julian tergelak saat mendengar itu, merasa lucu dan aneh sekaligus.


"Malah tertawa," ucap Azura, ia melihat sekilas ke arah layar ponsel dan kembali menatap tabletnya .


"Ini bagus tidak?" tanya Azura, ia menunjukkam gambar di tablet itu pada sang kekasih.


Sebuah foto pernikahan yang terlihat sangat indah, kedua pengantin dengan banyak bunga mawar putih di sekitar mereka.


"Bagus, tapi aku tidak ingin kita berfoto seperti itu, aku ingin saat sesi foto nanti aku mencium bibirmu," jawab Julian, memang itulah yang ia inginkan, membuat foto pernikahan yang begitu intim.


"Iss, mana boleh begitu! aku malu sama ibu dan ayah, belum lagi ada Agatha, Alesha dan juga Ali," keluh Azura, sekaligus menyebut nama-nama adiknya.


"Kalau begitu kita foto di kamar, kamar kita nanti disulap dulu jadi studio foto."


Azura mencebik, antara setuju dan tidak.


"Mau tidak?"


"Mau," jawab Azura singkat.


"Mau apa? mau dicium?" ledek Julian.


"Hih!" kesal sendiri, Azura langsung saja memutus sambungan telepon itu secara sepihak.


Sementara Julian di ujung sana langsung tergelak. Tidak sabar menunggu hari pernikahannya dengan Azura tiba. Memiliki seutuhnya wanita yang begitu dicintainya.


Sebelum bisa menikahi Azura, jujur saja Julian masih merasa takut. Takut jika dia bukanlah pria jodoh sang pujaan hati. Masih tetap takut jika abang Labih mengambil Azura darinya.


Julian tahu bagaimana cintanya Azura pada abang Labih dulu. Bahkan Julian sempat membantu Azura untuk menyampaikan perasaannya kepada abang Labih. Namum belum sempat berucap, abang labih sudah lebih dulu memberikan undangan pernikahan.


Melihat Azura yang patah hati membuat Julian merasa bahagia, seperti menari diatas penderitaan orang lain. Julian memeluk Azura erat memberikan ketenangan.


Hubungan mereka memang semakin dekat saat itu, namun kembali berjarak saat istri abang Labih meninggal dan hadirlah Sora.


Azura mengatakan jika ia bersedia menjadi ibu sambung bayi mungil itu, namun abang Labih menolak. Dengan mengelus pucuk kepala Azura, abang Labih mengatakan jika Azura layak mendapatkan seseorang yang lebih daripada dia.


Lebih pantas bersanding dengan Azura, Lebih mapan dan lebih mencintai Azura.


Lagi-lagi Azura patah hati dan Julian terus memeluknya erat.


Sampai akhirnya hubungan mereka bisa sejauh ini.


"Ya Allah, lancarkanlah pernikahan hamba dan Azura," gumam Julian.


Setelahnya ia menghembuskan nafas pelan dan kembali berkutat dengan pekerjaan.