Bringing Back, My Wife

Bringing Back, My Wife
BBMW BAB 83 - Bukan Hal Sulit Bagiku



Happy reading


...💕...


Satu jam sudah seluruh keluarga Malik berada di dalam perjalanan menuju Tangerang.


Azzam berulang kali melihat kearah Bella yang duduk disampingnya, memastikan bahwa istrinya itu dalam keadaan baik dan tidak merasa kelelahan.


"Kamu ingin minum?" tawar Azam, dia bahkan langsung menyerahkan 1 botol air mineral kepada sang istri.


"Aku tidak haus Bang aku malah kebelet pipis," jawab Bella seraya meringis, menahan sesuatu yang nyaris keluar dari dalam inti tubuhnya.


"Kenapa tidak bilang dari tadi. Pak berhentikam mobilnya."


"Baik Tuan, saya informasikan dulu pada sopir yang lain."


Tak berselang lama kemudian iring-iringan mobil keluarga Malik itu berhenti di salah satu pom bensin.


Bella segera turun di ikuti oleh Azzam, tapi bukan Azam yang menemani Bella, melainkan Azura.


Kedua wanita yang kini sudah berstatus istri ini langsung menuju kamar mandi yang tersedia disana. Bella masuk lebih dulu lalu gantian Azura.


"Sebenarnya aku tadi tidak kebelet pipis, tapi sampai sini jadi mau pipis juga," ucap Azura setelah dia keluar dari dalam kamar mandi.


Bella hanya mendengus, lalu memelul lengan sang adik ipar sekaligus sahabatnya itu dan kembali mendatangi rombongan.


"Maaf Ma, Bu, aku kebelet pipis," ucap Bella pada mama Sarah dan ibu Haura.


"Tidak apa-apa sayang,lagi pula kita tidak terburu-buru." Malah ayah Adam yang menjawab.


"Agatha, Alesha, Ali, kalian tidak ke kamar mandi?"


Ketiga remaja yang nyaris dewasa itu menggelengkan kepalanya.


"Jadi bagaiman? mau istirahat atau lanjut? Bella, bagaimana kandunganmu? apa merasa tidak nyaman?" tanya papa Agra bertubi. Pada semua orang dan anaknya sendiri.


"Aku baik-baik saja Pa, ayo kita lanjutkan saja perjalanannya," balas Bella dan semua orang setuju.


Namun semua orang selalu mengingatkan Bella untuk selalu mengatakan apa yang dia rasa, jika sedikit saja Bella mengeluh maka mereka semua akan menghentikan perjalanan.


Setelah sepakat kembali melaju, semua orang kembali masuk ke dalam mobilnya sendiri-sendiri.


Azura langsung menyandarkan kepalanya di bahu sang suami saat mereka sudah menutup pintu mobil.


Julian merangkul bahu sang istri dan mendekapnya erat.


"Untuk bisa segera hamil harus sering-sering buat," bisiknya.


Dan Azura langsung memukul dadanya pelan. Beberapa saat lalu saat Azura memeriksakan dirinya menggunakan testpack, hasilnya menunjukkan negatif.


Hingga kini belum ada janin yang tumbuh di rahim Azura.


Azura sedikit kecewa namun Julian selalu menguatkan. Apalagi mereka adalah pengantin yang masih sangat-sangat baru. Di masa seperti ini mereka harus lebih saling mencintai satu sama lain daripada memikirkan yang bukan-bukan. Dan Azura sangat bersyukur memiliki suami seperti Julian. Seseorang yang mencintai dan menyayangi dia seperti ayah Adam.


Setelah memukul dada suaminya, Azura langsung memeluk tubuh suaminya erat. Menghirup dalam-alam aroma tubuh sang suami.


Perjalanan panjang ini terasa begitu menyenangkan.


Bahkan terasa lebih cepat dari seharusnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di mobil ayah Adam.


"Sayang, tidur di bahuku jika kamu lelah," ucap ayah Adam. Dia melihat ibu Haura yang asik memandang ke luar jendela. Melihat daerah yang mereka lewati.


Dan mendengar ucapan sang suami ibu Haura pun menoleh, kini dia menatap ke arah ayah Adam dengan bibir yang tersenyum.


"Aku ingat nenek Zahra," ucap ibu Haura.


Lalu dia menceritakan bahwa nenek Zahra sering mengajaknya dan Aida untuk menjual sembako dengan harga murah di kampung-kampung.


Berada di perjalanan seperti ini membuat ibu Haura kembali teringat akan nenek Zahra.


"Baiklah, setelah pernikahan Ben dan Fhia, kita akan mendtangi beberapa kampung dan menjual sembako dengan harga murah."


"Tapi kan kita tidak membawa sembako nya Mas," sanggah ibu Haura.


"Itu bukan hal yang sulit bagiku," balas ayah Adam, dia lalu menarik sang istri untuk di dekapnya erat.


...💕...


Jangan lupa like dan komen ya 😈