
Happy reading
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Jam 3 sore, rombongan keluarga Malik akhirnya sampai di hotel tempat mereka menginap di Tamggerang.
Ayah Adam dan papa Agra sudah memesan 1 lantai hotel penuh untuk mereka gunakan, bukan hanya untuk keluarga utama Malik saja, namun juga untuk para pengawal dan supir.
Tidak ada perbedaan kamar yang mereka tempati disini.
Semuanya kelas presidential suite. Layanan untuk tamu VVIP.
Agatha dan Alesha masih tidur bersama kedua orang tuanya. Lain dengan Ali yang memutuskan untuk tidur sendiri. Berkilah jika dia sudah dewasa, seperti abang Arnold dan abang Edward.
Siang menjelang sore saat itu mereka semua istirahat di dalam kamar. Menikmati pelayanan hidangan selamat datang di dalam kamar pula.
Mereka semua sepakat untuk bertemu lagi saat makan malam, jam 7 malam.
Di kamar Azam dan Bella.
Azam dengan segera meminta istrinya untuk berbaring diatas ranjang. Sedari tadi mereka sudah terlalu lama duduk.
Meskipun sering juga berhenti untuk beristirahat tapi tetap saja Azam masih merasa cemas untuk kandungan sang istri.
"Aku akan menyiapkan air hangat untuk kakimu berendam, setelah itu akan aku pijati," ucap Azam setelah membaringkan sang istri.
Bella tersenyum, merasa jadi ratu. Bahkan terasa istimewa karena yang melayaninya adalah suaminya sendiri.
Tapi tetap saja Bella merasa tidak enak hati, merasa jadi istri durhaka jika sampai Azam menyentuh kakinya.
"Lebih baik Abang panggilkan saja pihak spa dari hotel Biar mereka yang memijat kakiku."
"No, tidak perlu, aku sendiri yang akan melakukannya. Dulu aku sering memijat kaki ibu Haura, jadi jangan remehkan aku," jawab Azzam penuh percaya diri, dia bahkan mengedipkan sebelah matanya genit ke arah sang istri, membuat Bella terkekeh hingga tak sanggup berkata apa-apa lagi.
Dan seperti kata Azzam tadi, 5 menit kemudian air hangat itu sudah tersedia di sisi ranjang. Bella menurunkan kakinya dan masukkan kedalam sana, terasa hangat dan begitu menenangkan. Lalu Azam langsung bersimpuh, membasuh kakinya dan memijatnya pelan.
Bella mengulum senyum, seperti melihat pemandangan lucu tepat di depan matanya.
"Abang itu terlalu pelan," ucap Bella, Azam terlalu menyayangi kakinya hingga yang terasa bukan pijatan tapi sebuah elusan.
Azzam pun tersenyum, seraya menambah kekuatan nya dalam memijat.
Hingga beberapa menit berlalu dan Bella mengatakan untuk menyudahi pijat-pijat ini.
Bela kembali berbaring di atas ranjang sementara Azam membereskan semua perlengkapan memijat tadi.
"Abang juga tidur dong," pinta Bella saat Azam sudah kembali menghampiri dirinya. Azam tidak langsung berbaring di atas ranjang, melainkan memilih duduk di sisi sang istri.
"Kamu tidak ingin makan sesuatu?" tanya Azam dengan penuh perhatian, dia bahkan mengelus lembut kepala sang istri. membuat Bella lagi lagi mengulum senyumnya.
Ini terasa seperti baby moon mereka.
"Tidak Bang, kalau aku mau apa aku akan langsung mengatakannya kepada Abang dan sekarang aku ingin Abang berbaring disebelahku." pinta Bella dengan sungguh-sungguh, dia bahkan menatap penuh harap kepada sang suami.
"Hanya berbaring tidak ingin yang lain?" mendadak raut wajah Azzam berubah jadi mesum, membuat Bela langsung bersungut kesal.
Dan Azam malah tergelak ketika melihat wajah sang istri yang berubah jadi masam seperti itu. tanpa menunggu lama lagi Azzam langsung berbaring disebelah Bella dan memeluk istrinya erat. Bella pun membalas pelukan itu bahkan menyembunyikan wajahnya di dada bidang sama suami.
Cukup lama mereka tidur sambil saling memeluk sampai akhirnya adzan Ashar terdengar dan mereka kembali bangun.
Mandi bersama dan melaksanakan salat Ashar berjamaah.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Edward langsung mandi ketika sampai di kamarnya. Mengganti baju dan mengambil ponselnya di atas ranjang ketika sudah rapi.
Edward menghubungi Agatha lalu berjalan menuju balkon kamar ini. Selisih dua kamar di sana adalah kamar ayah Adam dan ibu Haura, yang artinya Agatha pun di sana.
Edward ingin menelpon sang kekasih seraya saling menatap dari atas balkon itu.
Namun lama terdengar bunyi tut tut tut tapi panggilannya tetap juga tidak mendapatkan jawaban dari sang kekasih.
Tapi Edward tidak pantang menyerah, dia kembali menghubungi Agatha di panggilan kedua.
Dan bibir Edward tersenyum ketika akhirnya panggilan itu dijawab.
"Halo," jawab ayah Adam membuat Edward mendelik.
"A-ayah Adam," balas Edward dengan tergagap, mendadak gugup seperti ketahuan ingin pacaran.
"Agatha masih makan, sepertinya dia lupa kalau ponselnya ada tas ibu Haura. Ayah akan memberikan ponselnya pada Agatha, kamu tunggu ya," ucap ayah Adam. dia mengulum senyumnya saat mendengar suara takut-takut dari Edward.
Ayah Adam sudah menyelidiki seluk-beluk Edward selama ini, pengusaha muda yang tidak pernah terlibat skandal. Terakhir memiliki teman dekat adalah sang menantu, Bella.
Edward juga dikenal sebagai pengusaha yang berwibawa, tegas, pekerja keras dan juga bertanggung jawab.
Hanya saja sikapnya yang tegas itu mendadak hilang ketika sudah bertemu dengan anaknya.
Edward jadi pemuda biasa yang malu malu dan gugup ketika menemui keluarga dari sang kekasih dan itu terlihat lucu di mata Adam.
Tak berselang lama Edward menunggu akhirnya ponsel itu kembali kepada sang pemilik, dia mendengar suara Agatha yang memanggil dirinya.
"Abang.." Panggil Agatha dengan suaranya yang begitu lembut, bahkan hanya dengan mendengar suara itu sudah mampu membuat Edward mengukir senyumnya, hatinya pun seketika jadi damai.
"Kamu sedang makan?"
"Iya, tapi udah selesai kok, ini aku lagi cuci tangan," jawab Agatha apa adanya, bahkan Edward pun mendengar suara gemericik air dari sambungan teleponnya.
"Kamu sudah mandi?"
"Belum," jawab Agatha dengan cengir kuda, Edward memang tidak dapat melihat senyum itu, tapi dia tahu jika saat ini sang kekasih pasti tengah tersenyum lebar. Nampak jelas dari suara Agatha yang riang.
"Aku sedang berdiri di balkon, keluarlah agar aku bisa melihat wajahmu."
Agatha tidak lagi menjawab i, setelah mengelap tangannya hingga kering dia langsung berlari menuju balkon kamarnya. Saat itu Ayah Adam dan ibu Haura ada di dalam kamar, hingga dia bebas melakukan apapun tanpa merasa malu kepada ayah dan ibu.
Agatha langsung tersenyum saat dia melihat ke sisi kiri ternyata benar abang Edward sudah di sana menunggu dirinya.
senyum Agatha semakin melebar saat melihat kekasihnya pun tersenyum kearah dirinya.
"Abang sudah mandi?" tanya Agatha dengan pipinya yang merona, dilihat dari jarak jauh seperti ini saja abang Edward terlihat begitu tampan di kedua matanya. Apalagi dengan kaos putih yang sedang dikenalkan oleh sang kekasih, sederhana namun lebih menggoda.
"Sudah."
Pembicaraan keduanya berlanjut sampai tak sadar jika waktu sudah berjalan cukup lama.
Sampai Ibu Haura mendatangi Agatha barulah panggilan itu terputus.
Edward mendadak gugup dan takut, dia berulang kali mengucapkan kata maaf kepada Ibu Haura.
Sementara Ibu Haura hanya mengulum senyum, ternyata benar kata suaminya melihat Edward benar-benar lucu.
...💕💕...
Jangan lupa like dan komen ya, vote 💕