Bringing Back, My Wife

Bringing Back, My Wife
BBMW BAB 39 - Pernikahan Azura dan Julian Bagian Satu



Malik Kingdom.


Hari sudah sore dan Azam bersiap untuk pulang. Ia dan Ben berpisah, tidak lagi bekerja di devisi yang sama. Azam di bagian produksi sementara Ben di bagian SDM (Sumber Daya Manusia).


Azam mematikan komputer dan merapikan beberapa buku, perhatiannya teralihkan saat mendengar suara ponselnya bergetar.


Ponsel yang berada di atas meja kerjanya, dengan segera ia mengambil ponsel itu dan melihat siapa yang menelpon.


Azam kira ini adalah telepon dari sang istri tapi ternyata bukan. Ini adalah panggilan dari paman Mark.


Melihat nama itu, Azam pun kembali mengingat janjinya dengan paman Mark satu bulan lalu, bahwa paman Mark akan menyampaikan hasil penyelidikannya tentang Bella dan tante Diana di tanggal-tangga ini.


Sadar akan hal itu Azam dengan menggeser tanda hijau, menjawab panggilan paman Mark. Setelah saling bertukar sapa, paman Mark mengatakan jika ia ingin menemui Azam untuk menyampaikan hasil penyelidikannya.


Namun Azam malah menunda, meminta kabar itu di sampaikan setelah pernikahan Azura di gelar.


Dan paman Mark pun menyetujuinya, tanpa menyampaikan sedikitpun hasil penyelidikannya paman Mark memutus sambungan telepon itu.


Setelah panggilannya mati, Azam membuang nafasnya pelan, mendadak gugup. Ia sengaja tidak bertanya lebih karena belum siap juga mendengar hasilnya. Azam tidak bisa bohong kepada Bella, apapun hasilnya pasti Azam akan langsung memberi tahu sang istri.


Tidak ingin membuat Bella kecewa ataupun marah, lebih baik Azam pun tidak tahu.


Menunggu hingga waktunya tepat untuk mengetahui kebenarannya.


Setelah semuanya beres, Azam segera bergegas pulang. Biasanya Azam akan pulang bersama Azura, namun kini tidak lagi karena adiknya itu sudah mengambil cuti.


Cuti sebelum dan sesudah menikah, begitulah enaknya jika jadi putri pemilik perusahaan. Saat ini Azura sedang sangat di manjakan oleh ibu Haura dan ayah Adam.


Keluar dari gedung MK, Azam baru sadar jika sore ini gerimis turun.


20 menit perjalanan dan akhirnya Azam sampai di mansion utama keluarga Malik. Sang istri langsung menyambutnya dengan sebuah pelukan hangat.


"Ayo mandi sama-sama," desis Bella menggoda.


Dan Azam langsung saja menjitak manja kepala sang istri yang berada di dalam dekapannya ini. Setiap hari Bella selalu saja bisa membuatnya tersenyum, penatnya bekerja seharian langsung hilang saat melihat sikap manja Bella.


Dan sikap nakalnya itu makin membuat Azam gemas.


Padahal Azam tahu betul, Bella paling kesal jika mereka mandi bersama. Karena Azam pasti akan meminta hak nya.


Dengan saling memeluk pinggang, keduanya masuk ke dalam kamar mereka.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Hari berlalu dan hari dimana pernikahan Azura dan Julian dilaksakan pun akhirnya tiba.


Halaman belakang mansion keluarga Malik sudah di sulap jadi tempat perayaan pernikahan itu.



Seperti keinginan Azura, garden wedding yang selama ini ia mimpi-mimpikan.


Kini Julian sudah duduk di kursi ijab kabul, melihat Azura yang berjalan menghampirinya untuk duduk di sampingnya.


Azura terlihat sangat cantik dengan gaun panjang berwarna putih itu. Bahkan senyumnya terlihat lebih menawan dari biasanya.


Sama hal nya dengan Julian, Azura pun menatap kagum pada ketampanan sang calon suami. Suami yang tidak pernah Azura kira jika orang itu adalah Julian. Sejak kecil ia sudah mengira bahwa suaminya nanti adalah abang Labih. Tapi ternyata semua diluar kendali Azura.


Kini ia justru sangat mencintai Julian bahkan begitu bersyukur bahwa Julian lah yang menjadi suaminya.


Pria yang selalu memeluknya disaat ia senang ataupun sedih.


Tatapan keduanya putus saat Azura sampai di meja ijab kabul, ia lalu segera duduk di samping Julian.


Saya terima nikah dan kawinnya Azura Malik binti Haura Almayra dengan mas kawin tersebut dibayar Tunai!


Kata-kata indah itu diucapkan Julian dengan begitu lancar. Azura dan semua orang bahkan langsung mengucapkan kata syukur.


Termasuk Labih yang juga hadir di acara pernikahan itu. Ia tersenyum, menatap gadis kecil yang dicintainya kini telah hidup bahagia.


Menikah dengan seseorang yang tepat. Labih tahu, cinta Julian kepada Azura lebih besar dibanding cintanya kepada gadis itu.


Labih masih berkutat dengan ketakutannya sendiri, dengan ketidakpantasannya untuk bersanding dengan seorang putri dari keluarga Malik.


Selamat Azura, abang akan selalu mendoakan yang terbaik untukmu. Batin Labih.


Labih memeluk Sora erat yang kini duduk di atas pangkuannya.


Kadang hidup memang seperti ini, kita mencintai seseorang yang tidak bisa kita miliki. Atau saling mencintai namun jodoh berkata lain.