
Kedua mata Alesha membola, merasakan bibirnya kembali disesapi oleh Abang Arnold. Ciuman keduanya yang diambil oleh orang yang sama.
Abang Arnold melumaati bibirnya lembut, seolah menggoda dia untuk membalas ciuman itu. Namun Alesha yang masih gamang hanya diam. Hingga akhirnya tersadar saat abang Arnold hendak melepas pagutan mereka.
Namun Alesha tak tinggal diam, kedua tangan Alesha bergerak cepat untuk menahan kerah baju abang Arnold, menahan bibir ini agar tetap menyatu.
Tidak ingin cepat berlalu, Alesha pun menutup matanya dan memulai membalas ciuman itu dengan kaku.
Dan Arnold langsung mengukir senyum tipis lalu menahan tengkuk Alesha dan memperdalam ciuman mereka.
Dari sini mereka sama-sama tahu, jika mulai kini hubungan diantara mereka benar-benar ada, sepasang kekasih yang saling mencintai.
Cukup lama berpaut hingga menghasilkan suara decapan, akhirnya mereka melepaskan pagutan itu. Bibir Alesha pun rasanya sudah kebas disesapi oleh sang kekasih. Deru nafas mereka sama-sama memburu, dengan dada yang naik turun.
"Abang," rintih Alesha, setelah ciumannya berakhir, kini ia merasa bersalah, karena mendadak takut dengan dosa dan amarah papa Agra dan mama Sarah. Karena dia tidak bisa menjaga dirinya sendiri.
Dan Arnold yang memahami itu langsung memeluk gadisnya erat.
"Jangan menangis, ini terakhir aku mencium mu," bohong Arnold namum mencoba serius.
"Janji?"
"Iya."
Dan sekuat tenaga, Arnold menahan kekehannya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hari berlalu, hingga akhirnya Alesha dan Agatha sudah kembali ke rumahnya masing-masing dan akhir pekan pun sudah tiba.
Seperti yang dikatakan Agatha kemarin, sabtu kali ini Edward akan berkunjung ke Indonesia.
Edward menginap di rumah Azzam namun tujuannya adalah rumah ayah Adam, untuk menemui sang gadis pujaan yang ada di mansion itu.
Saat Edward datang Azzam dan Bella pun sudah bersiap untuk pergi ke Singapura. Edward ke sini seolah menjadi penjaga rumah ini.
Untung dia tidak datang sendiri, ada saya asisten pribadi Jo yang juga ikut bersamanya.
"Temui Agatha di rumah Ayah Adam saja, jangan membawa Agatha ke rumah ini. Jaga adikku baik-baik jangan di macam-macamin," ucap Azam pada sang calon adik ipar.
Edward hanya mendengarkan dengan senyumnya yang mengembang. Dia tidak begitu peduli dengan ucapan Azam, karena kini dia sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Agatha.
Setelah mengantar Azzam dan semuanya ke bandara Edward nanti akan langsung menuju Mansion Ayah Adam.
Dan disinilah kini Azam dan keluarga kecilnya berada setelah beberapa jam berada di penerbangan jakarta-singapura.
Berdiri di sebuah rumah sederhana milik Ayah David. Azam dan Bella tidak menyangka jika ayah David tinggal di rumah ini.
Sebagai salah satu dari keluarga Saverun Ayah David bisa tinggal di rumah yang lebih besar dari ini atau bahkan memiliki mansion seperti milik Ayah Adam.
Tapi ayah David? Azam dan Bella tidak bisa berkata-kata, mereka hanya mengikuti langkah Ayah David yang mengajak keduanya untuk masuk ke dalam rumah.
Ayah David berbalik dan menatap sang anak, membuat langkah mereka terhenti di ruang tengah ini.
Dilihatnya Bella yang mulai menangis dan David tahu betul apa alasannya pasti anaknya merasa tidak tega melihat dia yang tinggal di rumah seperti ini. sementara pribadi sana jangan nyaman dan bergelimang harta.
tapi bukan tanpa sebab kenapa David memutuskan untuk tinggal di rumah ini.
Setelah menghilangnya Bella, David dan istrinya merasa tidak lagi bersemangat untuk hidup. Semua harta yang sudah mereka kumpulkan seolah tidak ada lagi harganya.
Membayangkan Bella makan apa, tidur di mana, adakah yang mendekapnya dan memberikan sentuhan orang tua, atau malah hidup di jalanan dan hanya berselimut Angin Malam.
Hanya membayangkan itu sudah membuat David dan istrinya merasa hancur, sedikit pun mereka tidak ingin menikmati hidupnya. Berbahagia di atas penderitaan sang anak.
Karena itulah David memutuskan untuk tinggal di rumah ini, hidup dengan sederhana tanpa ada lagi harta yang bisa mereka hambur-hamburkan. Semua uang yang mereka kumpulkan selama ini masih tersimpan rapi, sengaja mereka simpan untuk anaknya jika suatu saat nanti bertemu.
"Kenapa Ayah tinggal di rumah seperti ini?" tanya Bella lirih, Azam hanya mampu terpaku, melihat ayah dan anak yang saling menatap dengan tatapan pilu. Bella bahkan sudah menangis, terdengar jelas isaknya.
"Maafkan ayah Bella, maafkan ayah," hanya kata maaf lah yang mampu David ucapkan. Semoga itu bisa menebus semua kesalahannya di masa lalu.
Bella langsung memeluk tubuh ayahnya erat, tubuh yang sudah nampak begitu renta.
Setelah meletakkan barang-barang mereka di rumah itu Ayah David segera mengajak Bella dan Azzam menuju pemakaman sang istri.
Saat itu tepat jam 4 sore dan mereka sudah bersimpuh di makan ibu Diana.
Lagi-lagi Bella menangis tidak menyangka pertemuan pertamanya dengan sang ibu akan ada di tempat ini.
"Sayang, ini anak kita, dia cantik sekali, seperti dirimu," ucap ayah David lirih, ada air mata yang mengalir di kedua sudut matanya, berbicara dengan suaranya yang tercekat di tenggorokan.
Beban hidup yang selama ini ia tanggung perlahan sudah menghilang, meskipun di dalam hatinya masih ada rasa yang mengganjal. menyayangkan kenapa sang istri lebih cepat meninggal sebelum dia sempat bertemu dengan sang anak.
Namun inilah takdir yang harus mereka jalani, apapun yang akan mereka lakukan tidak ada yang bisa mengubah masa lalu.
Bella bersimpuh tangannya terulur membelai pusara sang ibu, dengan sesak di dada yang ia rasa. Bella memang tidak punya sedikitpun kenangan bersama dengan sang ibu, bahkan ingat wajahnya pun tidak. Namun hatinya begitu teriris ketika melihat makam ini.
Ada sesak yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata, seolah baru kemarin ibunya meninggal.
"Bella, bisakah kamu memanggilnya ibu?" pinta Ayah David, lalu dengan cepat ia menutup kedua matanya dengan satu tangan, menahan agar air mata itu tidak tumpah semakin banyak.
Sementara tangis Bella semakin deras mengalir.
Dengan lidahnya yang terasa kelu, dia mencoba mengucapkan satu kata itu.
"Ibu," lirih Bela hingga tanpa suara.
"Ibu," ulangnya lagi dengan sedikit keras, susah payah berucap karena ada sesak di dada yang mengganjal.
"Ibu," ucap Bella, dengan begitu jelas.
Azam pun meneteskan air matanya, namun dengan cepat ia menghapus. Azam berdiri dibelakang ayah dan anak ini. Mencoba tegar diantara dua hati yang kini tengah rapuh.