
Agatha turun ke lantai 1 bersamaan dengan Ali. tatapan keduanya langsung tertuju kearah kursi sofa di ruang tengah. pasalnya di sana Mereka melihat ayah Adam tidak duduk sendiri, melainkan kan bersama seorang pria yang nampak tidak asing dan orang itu adalah Abang Edward.
Deg!
Seketika jantung Agatha terasa berhenti sepersekian detik. Tiba-tiba merasa takut dan gugup sekaligus. Takut jika abang Edward mengatakan hal yang tidak-tidak kepada sang ayah.
Agatha sangat takut kepada ayahnya itu, diam-diam menghanyutkan.
"Ali bagaimana ini?" tanya Agatha dengan berbisik. Kedua kakinya mulai melambat menuruni anak tangga.
"Mana aku tau, lebih baik tanyakan langsung pada ayah Adam."
Glek! Agatha langsung menelan ludahnya dengan kasar. Ketakutannya makin menguasai diri. Sampai akhirnya mereka sampai diujung anak tangga, lalu berjalan dengan langkah beriringan menghampiri Agatha dan Edward.
Deg! kini giliran Edward yang terkejut saat melihat kedatangan Agatha. Namun ada sedikit rasa kecewa karena mereka belum bisa bersama.
Dan ayah Adam yang melihat kedatangan sang anak pun meminta Agatha untuk duduk bersama mereka, pun Ali yang juga ikut-ikut.
"Ada apa Ayah?" cicit Agatha, ia bahkan tidak berani untuk sekedar melirik ke arah abang Edward.
"Tidak ada ada apa-apa sayang yang Abang Edward datang kesini hanya untuk berpamitan, dia akan segera kembali ke Singapura," jawab ayah Adam, sebuah jawaban yang berhasil membuat hati Edward hancur lebur.
"Ada sesuatu juga yang ingin abang Edward katakan padamu, kalian bicaralah berdua."
Setelah mengatakan itu Ayah Adam bangkit dari duduknya dan mengajak Ali untuk pergi ke meja makan meninggalkan Agatha dan Edward berdua saja di ruang tengah itu.
Seketika senyum tipis Edward pun muncul, ia sangat bersyukur atas kemurahan hati om Adam untuk membiarkannya memiliki waktu berdua dengan Agatha.
Seolah memberinya kesempatan untuk membicarakan hubungan mereka berdua dan membuat kesepakatan bersama.
Dan mendengar ucapan sang ayah itu, lagi-lagi Agatha menelan ludahnya dengan kasar. dengan perlahan ia memutar setengah tubuhnya dan menatap abang Edward di hadapannya.
Kini, mereka benar-benar hanya tinggal berdua di ruangan ini.
"Abang Ed," panggil Agatha lirih, masih bingung mau bicara apa. Sampai akhirnya Edward bangkit dari duduknya lalu mengambil sesuatu di dalam saku jas dan memberikan sebuah kotak kecil berwarna merah kepada Agatha.
"Pakai ini sampai aku bisa memasangkannya langsung di jari manismu," ucap Edward.
Agatha yang merasa gamang pun hanya bisa menerima itu tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Lalu membukanya dengan perlahan dan melihat Apa isinya, sebuah kalung dengan bandul cincin berlian. Bentuknya sangat sederhana namun begitu indah, hanya melihatnya saja sudah membuat Agatha sangat menyukainya.
Hatinya kembali berdebar tidak bisa dia kendalikan. ini adalah pemberian termanis yang pernah ia terima, sesuatu yang sangat romantis yang pernah ia alami di dalam hidup.
Agatha tidak bisa berkata-kata hanya diam dengan bibir yang mengukir senyum.
Dan melihat itu sudah membuat Edward sangat bahaya, tangannya bahkan terulur untuk mengelus pucuk kepala Agatha dengan sayang.
"Kamu tahu apa maksudnya pemberianku ini?" tanya Edward ingin memastikan.
"Apa?" tanya Agatha polos, membuat kepala Edward kembali berdenyut nyeri.
"Aku akan melamarmu setelah kamu lulus kuliah, jadi selama itu jangan dekat dengan pria manapun. Dan akupun akan seperti itu, hanya menunggu kamu, menunggu kita bisa bersama," jelas Edward, gamblang.
Dan Agatha mengaga, mendengar dengan tidak percaya.
Dan Edward benar-benar tidak menyangka, kata-kata itulah yang akan diucapkan Agatha sebagai jawaban atas kesungguhan hatinya.
"Aku menyukaimu, apa kamu mengerti?" tanya Edward dan akhirnya Agatha bisa mengerti dengan mudah. Akhirnya ia mulai paham apa yang diucapkan oleh abang Edward.
Tanpa banyak bertanya kenapa abang Edward bisa menyukainya, Agatha langsung saja bisa menerima pernyataan itu.
Setelah Agatha mengerti tentang konsep suka dan cinta yang sesungguhnya, akhirnya Edward bisa pulang ke Singapura dengan tenang.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Jam setengah 8 pagi, Azam dan Bella mengantar keluarga Saverun untuk pulang ke Singapura. Sementara ayah David tetap tinggal bersama dengan Bella dan Azam di Indonesia.
Minggu depan baru mereka akan bersama-sama ke Singapura.
Kini Bella, Azam dan ayah David melambai kepada tante Namira dan paman Andrew, sementara Edward hanya tersenyum kecil lalu segera masuk ke gate keberangkatan.
Setelah tidak lagi nampak, Azam dan semuanya memutuskan untuk pulang. Dari bandara itu Azam langsung menuju Malik Kingdom untuk bekerja, sementara Bella dan ayah David pulang ke rumah.
Sepanjang perjalanan, Azam mengemudikan mobilnya dengan kecepatan cukup tinggi. Pasalnya ia sudah terlambat dan tidak ingin makin telat lagi.
Rencananya pun nanti malam ia akan lembur, untuk mengganti waktunya yang sudah hilang beberapa hari ini.
Sampai di MK, jam sudah menunjukkan jam setengah 9 pagi. Dengan langkahnya yang tergesa Azam segera menuju ruangannya.
Ben yang tanpa sengaja melihat sang tuan pun segera menghampiri, sekedar saling bertukar kabar.
"Azam!" panggil Ben, meski di dalam hatinya Ben masih mengganggap Azam sebagai tuan muda nya, namun Ben tetap memperlakukan Azam sebagai temannya. Karena memang inilah yang Azam inginkan.
"Ben, kamu disini? mememui siapa?" tanya Azam bertubi. Lantai ini adalah lantai untuk para manajer, sementara Ben adalah staff SDM.
"Antar sekretaris baru untuk pak Ridwan."
"Oh, aku harus segera masuk. Siang nanti kita makan siang bersama ya?" pinta Azam dan Ben menjawab dengan gerakan tanganya, yang artinya Oke.
Mereka kembali berpisah dan sibuk dengan urusannya masing-masing.
Hingga akhirnya jam istirahat pun tiba, sebelum kembali bertemu baik Azam ataupun Ben sama-sama menghubungi sang kekasih hati dulu. Azam menghubungi Bella dan Ben menghubungi Fhia.
Fhia kini menetap tinggal di Tanggerang. Membantu kedua orang tuanya untuk mengurus toko kue milik keluarga mereka. Fhia sudah tidak boleh pergi bekerja keluar Tanggerang, sebelum ia menikah.
Kedua orang tuanya sangat mencemaskan anak gadisnya itu, takut terjadi apa-apa jika di usia matang Fhia anak gadisnya itu tinggal sendiri di kota metropolitan, Jakarta.
Dan kini Fhia dan Ben masih dalam masa pendekatan, dan benar-benar membuat hubungan keduanya semakin dekat. Ben mengenal Fhia dengan baik dan begitupun sebaliknya.
Ben juga sudah menemui kedua orang tua Fhia mengatkan jika kini ia dan anak gadis mereka tengah menjalin kasih, namun tidak ingin terburu-buru melangkah ke pelaminan.
Dan kedua orang tua Fhia menyambut baik Ben, tahu sang anak gadis sudah memiliki kekasih saja mereka sudah sangat bahagia.
Selesai memberi kabar istri dan kekasihnya, Azam dan Ben pun akhirnya bertemu untuk makan siang bersama di restoran yang juga ada di MK.