
Sore hari setelah shalat Ashar di rumah papa Agra, Azam dan Bella memutuskan untuk pulang. Sebelumnya Bella sudah memberi kabar pada ayah David dan mama Namira tentang kepulangannya yang terlambat.
Dan saat jam 5 sore Azam dan Bella akhirnya sampai di rumah. Memutuskan untuk langsung mandi setelah menyapa semua orang.
Setelah makan malam nanti barulah Azam dan Bella akan menyampaikan kabar bahagia ini pada keluarga Saverun.
Sebelum mandi mereka merebahkan tubuhnya sejenak di atas ranjang, mengistirahatkan tubuh keduanya yang lelah.
Sejenak mereka hanya menatap kearah langit-langit kamar, sampai akhirnya Azam merubah tidurnya yang terlentang menjadi tengkurap. Lalu menatap wajah sang istri yang kini juga menatap kearahnya.
"Ayo mandi, ibu hamil tidak boleh mandi terlalu malam!" ucap Azam dengan nada memerintah.
Azam segera turun dari atas ranjang dan Bella terkekeh keras. Belum apa-apa suami dan keluarganya sudah seposesif ini.
Bella hanya pasrah saat Azam menggendong tubuhnya dan membawanya masuk ke dalam kamar mandi.
Mandi bersama dan benar-benar hanya mandi. Bahkan tidak lama seperti biasanya, kini mereka mandi bersama dengan sangat cepat.
Azam tidak ingin sang istri sampai merasa kedinginan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sesuai rencana, setelah makan malam usai Azzam dan Bella menyampaikan kabar bahagia ini ini kepada seluruh keluarga tentang kehamilannya.
Sama seperti mama Sarah tadi, kini ayah David pun sampai meneteskan air mata mendengar kabar bahagia ini. Bagaimana tidak, baru kemarin dia menemukan sang anak dan kini ia akan mendapatkan seorang cucu.
Air matanya mengalir tanpa permisi, tanpa ia rencanakan.
"Ya Allah, ayah tidak tahu harus berkata apa lagi, Ayah sangat bahagia atas kehamilan mu," lirih ayah David.
Tante namira dan Paman Andrew pun turut bahagia pula. lain halnya dengan Edward yang memilih tidak peduli. Setelah mendengar kabar kehamilan Bella, Edward memutuskan untuk pamit masuk ke dalam kamarnya.
Rasanya sungguh tidak nyaman untuk ikut berbagi kebahagiaan tentang rumah tangga Azzam dan Bella.
Tidak ingin sang anak mengulangi kesalahan yang pernah ia lakukan, Ayah David pun menceritakan kembali tentang masa lalunya yang kelam.
Tentang pernikahannya dengan ibu Bella, ibu Diana. Saat itu mereka memang saling mencintai, saling percaya hingga membebaskan satu sama lain untuk tetap bekerja sesuai keinginannya masing-masing. Ayah David sebagai seorang CEO muda dan ibu Diana sebagai seorang model bernama kala itu.
Sama seperti Azam dan Bella saat ini.
Setelah melahirkan Diana bahkan Langsung kembali bekerja, juga ayah David yang tetap sibuk dengan urusannya sendiri, menyerahkan semua urusan anak mereka kepada sang baby sitter.
saat malam hari mereka akan pulang, melihat keadaan anaknya sebentar lalu segera masuk ke dalam kamar untuk beristirahat. Besok paginya mereka akan kembali sibuk bekerja. Terus seperti itu sampai akhirnya nya Mereka pergi ke Indonesia dan sang anak menghilang.
"Maafkan Ayah Bella, semua itu memang kesalahan ayah dan ibu," ucap Ayah David setelah menyelesaikan ceritanya.
Dan Bella langsung memeluk ayahnya erat. Masa lalu itu memang bisa menjadi pelajaran untuknya. Namun dia tidak ingin menyesali akan Masa lalu itu terlebih saat ini ia pun sudah bertemu dengan ayah David.
Dalam kesempatan itu juga paman Andrew mengatakan bahwa besok mereka akan kembali ke Singapura. Mendengar itu Bella langsung meminta kepada ayah David untuk tetap tinggal.
Lalu minggu depan saat Azzam libur bekerja, mereka semua bisa ke Singapura untuk mengunjungi makam ibu Diana.
Dan semua orang setuju dengan ide Bella itu. Meski Azam sedikit tidak merasa nyaman. Merasa jika dia jadi penghalang Bella untuk segera mengunjungi makam ibunya.
Bella yang mengerti kegundahan hati Sang suami pun langsung menggenggam tangan Azzam erat.
Bahkan berulang kali meremaatnya pelan, mengirimkan pesan bahwa ia baik-baik saja. Tidak sedikitpun menjadikan Azam sebagai penghalang.
Pembicaraan di ruang tengah itu terus berlangsung hingga Jam 9 malam, setelahnya mereka semua berpisah untuk segera beristirahat.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Ia pikir malam ini pikirannya akan kalut memikirkan rumah tangga Azzam dan Bella yang berakhir bahagia. Namun ternyata dia salah, masuk ke dalam kamar ini dan ditemani sepi, dia malah teringat akan Agatha.
Gadis lugu yang berhasil mencuri perhatiannya, berhasil mengalihkan pikirannya tentang Bella.
"Bagaimana ini? apa benar hatiku semudah itu berubah?" gumam Edward, satu tangannya menyentuh dada, merasakan hatinya yang berdebar ketika mengingat Agatha.
Ingat pertemuan manis mereka di dalam mobil sore tadi. Bahkan Edward masih mengingat dengan jelas tiap tingkah yang Agatha tunjukkan.
"Harusnya aku memantapkan hati, jangan sampai menyakiti gadis lugu itu," ucap Edward.
Bagaimana pun Edward tidak ingin seperti Azam yang suka mempermainkan wanita. Terlebih kini Edward masih ragu dengan perasaannya sendiri.
Selain tidak ingin menyakiti Agatha, Edward juga tidak boleh main-main dengan Agatha, bagaimanapun dia adalah putri dari keluarga Malik, keluarga penguasa di negeri ini.
Bukan hal sulit bagi keluarga Malik untuk menghancurkannya jika ia sampai menyakiti Agatha.
Ayah dan ibunya juga pasti akan murka jika sampai itu terjadi. Karena kini bagi mereka Malik adalah bagian dari keluarga Saverun.
Edward pun mengambil ponselnya di dalam saku celana. Membuka kontak ponsel dan menggulir layar itu, mencari sebuah nama, Agatha Malik.
Dengan perasaannya yang meragu, Edward menekan tanda panggil di ponselnya. Mendengar bunyi tut tut tut yang teratur hingga beberapa kali.
Sampai akhirnya panggilan itu terjawab.
"Halo, Assalamualaikum," jawab Agatha dengan suaranya yang begitu renyah, hanya mendengarnya saja sudah mampu membuat Edward tersenyum.
Agatha bagaikan fatamorgana bagi hati Edward yang tandus.
"Kamu belum tidur?"
"Belum, masih bersama dengan Ali membuat makalah," jawab Agatha apa adanya, bahkan kini Ali sedang menguping pembicaraan mereka. Mendekatkan telinganya ke telinga sang sepupu.
"Besok aku akan kembali ke Singapura," ucap Edward.
Sebuah ucapan yang membuat Agatha bingung harus menjawab apa. Gadis cantik dan lugu ini akhirnya hanya diam, memberikan ruang untuk sepi menyelip diantara mereka.
Pun Edward yang bingung harus mengatakan apa lagi.
"Jam 8 pagi penerbangan ku," ucap Edward lagi.
Ali yang ikut mendengar suara sendu itupun mulai memahami keadaan. Abang Edward ingin Agatha menemuinya sebelum abang Ed pulang ke Singapura.
Namun Agatha tidak memahami itu.
Ali pun memukul pelan pundak sang sahabat, lalu bicara tanpa suara.
"Abang Edward ingin kamu menemuinya sebelum dia pulang," ucap Ali tanpa suara.
Dan Agatha tetap merasa bingung meskipun ia tahu apa maksud ucapan Ali yang tanpa suara itu.
Maksudnya, kenapa mereka harus bertemu? pikir Agatha.
Oh, mungkin untuk mengembalikan jas, batin Agatha.
Tapi kan jas nya masih kotor. Batinnya lagi.
"Abang ingin aku mengembalikan jas itu ya?" tanya Agatha akhirnya.
Dan di ujung sana Edward mengeram frustasi. Bukan jas yang Edward inginkan, tapi kamu!