
Makan malam.
Makam malam kali ini, Azam dan Bella memutuskan untuk makan malam di luar. Makan malam romantis yang belum pernah mereka lakukan selama ini.
Bella menggunakan gaun malam yang lebih tertutup seperti keinginan Azam. Yang semakin membuatnya terlihat cantik, mempesona dan berharga.
Berjalan beriringan mereka berdua memasuki Les Amis Restauran. Les Amis merupakan salah satu restoran Michelin bintang dua yang menyajikan aneka hidangan klasik ala Prancis dan disajikan dengan sentuhan Asia.
Mereka duduk berdua di salah satu meja, bersama para pengunjung lainnya.
Tak berapa lama setelah menunggu, pesanan mereka datang. Keduanya makan malam dengan sesekali saling pandang, bahkan Azam sesekali menyentuh tangan sang istri yang berada di atas meja. Terulur saling menggenggam.
"Malam ini temani aku lembur ya?" pinta Azam, ia ingin semua pekerjaannya cepat usai, sehingga ia dan Bella bisa segera kembali ke Indonesia. Lebih dekat dengan semua keluarga dan sahabatnya.
"Yakin aku temani? nanti Abang malah nggak kerja," jawab Bella, ia mendengus kesal, lalu tersenyum dengan senyum yang ditahan.
Sementara Azam hanya mengedipkan sebelah matanya, genit.
Bella yang kesal lantas mencubit tangan sang suami di atas meja. Azam gaduh kesakitan, namun ia terkekeh pelan.
Keduanya tidak menyadari, jika restoran ini pula ada Edward. Edward makan malam disini bersama dua rekan bisnisnya. Memperhatikan Bella dan Azam dari tempatnya duduk.
Edward menyadari satu hal ketika melihat keduanya, senyum Bella yang selama ini tidak pernah ia lihat, ternyata senyum itu memang hanya untuk Azam.
"Permisi Tuan, saya harus pergi lebih dulu," pamit Edward pada kedua rekan kerjanya. Setelah mendapatkan izin, Edward pun pergi dari sana. Tapi bukan untuk pulang namun menghampiri meja Bella dan Azam.
"Bell," panggil Edward.
Bukan hanya Bella yang menoleh, namun Azam pun melakukan hal yang sama.
Dan kini, ketiga orang ini duduk di meja yang sama.
"Sayang, kenalkan ini Edward," ucap Bella pada sang suami, kini ia duduk di sebelah Azam, tidak berhadapan seperti tadi. Di bawah meja Bella juga terus menyentuh pangkuan sang suami, tidak ingin Azam sampai emosi, jujur saja Bella takut ada keributan. Takut jika Azam kembali menariknya kasar untuk menjauh dari Edward.
Membuat makan malam mereka jadi hancur.
"Azam."
"Edward," jawab Edward, mereka hanya saling menyebut nama tanpa ada jabat tangan.
"Kapan kalian kembali ke Indonesia?" tanya Edward, ia lebih dulu memulai pembicaraan. Di pertemuannya terakhir dengan Bella, Bella mengatakan jika ia dan Azam akan segera kembali ke Indonesia. Setelah Bella dan Azam sama-sama menyelesaikan pekerjaannya, mereka berdua akan kembali menetap di Indonesia. Bisa jadi tidak akan ke Singapura lagi jika tidak ada urusan bisnis.
"Mungkin 1 minggu lagi, jika kamu ke Indonesia, berkunjunglah ke rumah kami," Azam yang menjawab.
"Baiklah, kalau begitu sebelum pulang nanti, berkunjunglah dulu ke rumahku. Aku akan mengundang kalian untuk makan malam."
"Jangan makan malam, bagaimana jika makan siang?"
"Baiklah, tidak masalah."
Terus Azam dan Edward saling berbincang, membicarakan banyak hal yang tiba-tiba mengalir begitu saja. Kecanggungan yang awalnya tadi terasa kini sudah perlahan menghilang.
Meski tidak bisa memiliki Bella, namun Edward tetap ingin menjalin hubungan yang baik dengan wanita itu, yang artinya ia juga harus memiliki hubungan yang baik dengan Azam.
Jam 9 malam mereka bertiga pulang. Sampai di basement apartemen Bella langsung memeluk suaminya erat. Bella sangat bahagia, mengetahui Azam benar-benar sudah berubah.
Tidak ada lagi sikap kasar dan sombong yang selama ini ia lihat.
"Kenapa? jangan memancingku, malam ini aku mau lembur," ucap Azam, namun ia membalas pelukan sang istri tak kalah eratnya. Lalu menutup kaca mobil yang tadi sempat di buka oleh Bella.
"Tidak ada apa-apa, aku hanya merasa sangat bahagia," jujur Bella, ia menarik diri dan membuat jarak, menatap wajah sang suami dengan jarak yang sangat dekat.
Dengan bibirnya yang tersenyum itu, Bella melabuhkan sebuah ciuman dalam di bibir sang suami, melumaatnya lembut menunjukkan semua rasa cinta.
"Kamu memancingku?" tanya Azam lagi setelah Bella melepaskan pagutannya.
"Abang terpancing tidak?" jawab Bella, ia mengigit bibir bawahnya menggoda.
Dan tanpa menjawab, Azam langsung memundurkan kursinya lalu menarik sang istri untuk duduk di atas pangkuannya. Mulai menciumi Bella dan menanggalkan gaun malam sang istri. Menikmati tubuh polos Bella dengan begitu lembut.
Permainan yang membuat Bella melayang, lidah itu terus memainkan kedua buahnya secara bergantian. Sementara yang bawah sana sudah menyatu dengan begitu dalam.
Dari layar cctv basement apartemen, nampak jelas jika mobil hitam itu bergerak naik turun.
Sementara Azam dan Bella tidak menyadari itu, yang mereka tahu hanyalah menikmati penyatuan ini hingga sampai ke puncak.
Membenci hanya akan membuat hati merasa lelah, karena itulah kini Azam mencoba melepaskan semua kebencian, kemarahan dan perasaan mengganjal.
Kini ia hanya akan terus bersyukur, mencintai Bella dengan baik dan terus berusaha membahagiakan sang istri.
"Huh, aku haus," ucap Bella, setelah keluar dari dalam mobil. Azam pun ikut turun dengan bibir yang tersenyum lebar.
"Ayo cepat naik dan minum yang banyak," ucap Azam, ia menghapus peluh sang istri yang tersisa di dahi.
Lalu keduanya berjalan beriringan dengan saling memeluk pinggang.