Bringing Back, My Wife

Bringing Back, My Wife
BBMW BAB 98 - Kesepakatan Orang Tua



Tak hanya keluarga Malik yang sangat berantusias pada kelahiran tiga bayi kembar itu. Pun dengan Edward yang kini memboyong keluarganya untuk datang ke Indonesia. Untuk menjenguk Bella, sekaligus bertemu dengan kekasih hatinya, Agatha.


Edward beserta kedua orang tuanya, yaitu Namira dan Andrew serta sang adik Safira, tiba di Bandara pada pukul 10 pagi. Mereka langsung dijemput oleh 2 mobil dari keluarga Malik, mereka semua menuju rumah Bella dan Azzam.


Karena selama di Indonesia, mereka semua akan menginap di sana. Edward memasukkan barang-barang mereka ke dalam bagasi, setelah semua orang masuk ke dalam salah satu mobil tersebut.


Awalnya Edward ingin datang lebih awal, saat dia mendengar untuk pertama kalinya, berita kehamilan Bella. Namun, Papa Agra menyarankan pada Edward agar membawa keluarganya setelah wanita hamil itu melahirkan.


2 mobil mulai melaju ke jalan raya. Membawa mereka semua menikmati padatnya ibu kota di siang hari. Edward yang duduk di samping sang supir, membuka jas yang melekat di tubuhnya.


"Ed, apa kamu sudah tahu nama anak Azzam dan Bella?" tanya Namira, membuka obrolan dengan sang putra.


"Sudah, Ma. Agatha memberitahuku kemarin. Ketiga bayi mungil itu bernama..." ucapan Edward menggantung, karena dia sendiri lupa, "sebentar, sepertinya aku lupa." Edward terkekeh lalu merogoh ponselnya yang ada di dalam saku celana.


Lantas dia membuka pesan dari Agatha yang memberitahu nama ketiga ponakannya. Dengan lantang Edward memberitahu sang ibu, jika nama anak Azzam dan Bella adalah Adena, Adelia dan Abraham.


"Wah namanya bagus sekali," puji Safira dengan tersenyum sumringah.


Dan langsung mendapat anggukan dari Andrew dan Namira. Nama-nama yang bersinar, apalagi untuk keluarga besar seperti keluarga Malik.


Tak berapa lama kemudian, mereka semua sampai di rumah Bella dan Azzam. Mereka langsung masuk ke dalam dan beristirahat di kamar yang telah disediakan.


Edward membanting tubuhnya ke atas ranjang. Dia menghela nafas mencari kelegaan. Lalu kembali menggapai ponselnya untuk menghubungi Agatha kalau dia sudah sampai di Indonesia.


"Aku sudah sampai." Tulisnya dalam sebuah pesan, dibubuhi beberapa tanda hati.


Namun, terlihat hanya ceklis dua. Mungkin Agatha sedang sibuk melakukan kegiatan lain, makanya gadis itu tidak memegang ponselnya. Hingga akhirnya, lama menunggu nyaris tanpa jawaban. Membuat rasa kantuk tiba-tiba menyerang, tanpa sadar mata Edward terpejam.


Setelah beristirahat sejenak, keempat orang berbeda generasi itu akan mengunjungi Bella dan ketiga anak kembarnya. Namun, tidak lagi di rumah sakit. Melainkan di rumah Papa Agra dan Mama Sarah. Karena Bella sudah pulang, dan bayi-bayi mungil itu sudah memiliki umur sebanyak 3 hari.


Dengan kembali menaiki mobil yang sudah disediakan oleh keluarga Malik, mereka semua sampai di sebuah rumah besar milik salah satu keluarga Malik itu. Edward langsung sumringah dan begitu bersemangat karena sebentar lagi dia pun akan bertemu dengan sang kekasih pujaan.


"Anakmu terlihat semangat sekali," bisik Andrew, berbicara pada Namira. Membuat wanita paruh baya itu terkekeh.


"Biasalah, Pa. Anak muda sedang jatuh cinta," jawab Namira. Edward yang tak mendengar itu, hanya mengambil beberapa barang bawaan berupa oleh-oleh untuk dibawa masuk ke dalam.


Di dalam sana, Ibu Haura dan Acil Aida ikut menginap di rumah Papa Agra untuk 40 hari ke depan. Pokoknya semenjak kelahiran si kembar, rumah itu jadi tampak sangat ramai.


Kedua wanita paruh baya itu pun rela membantu Bella untuk mengurus ketiga bayi kembarnya, mereka malah terlihat sangat senang karena bisa bermain dengan tubuh mungil yang memiliki bau surga itu.


"Aku buatkan minum dulu ya," ucap Acil Aida pada keempat orang itu.


"Tidak perlu repot-repot, Nyonya," balas Namira dengan mengulum senyum.


Acil Aida menggeleng. "Ini sama sekali tidak repot. Masa iya, tamu dari negeri seberang nggak dikasih minum."


Namira dan putri bungsunya hanya mampu terkekeh mendengar candaan itu. Lain bagi Edward yang tak menginginkan segelas minuman, dia justru bertanya letak toilet.


Karena Acil Aida sudah melipir ke dapur. Edward pun bertanya pada ibu Haura. Sang calon ibu mertua. "Bu, letak toiletnya di mana ya?" tanya Edward.


Mendengar seseorang bertanya padanya, sontak ibu Haura mengangkat kepalanya. Kemudian menjawab dengan memberitahu letak salah satu toilet di rumah papa Agra.


Dengan cepat Edward meninggalkan semua orang. Dia melangkah menjauh pura-pura mencari letak toilet, padahal dia ingin mencari keberadaan Agatha. Namun, hingga beberapa saat mencari, dia tak kunjung menemui kekasihnya tersebut.


Dia tak menyadari bahwa ada seseorang di belakang sana yang mengawasinya. Edward dibuat terkejut saat dia mendengar suara deheman di susul suara berat yang begitu dia kenal. "Ehem... Kalo kamu cari Agatha, dia ada mansion, bukan di sini." ucap ayah Adam.


Membuat Edward mati kutu. Seperti maling yang tertangkap basah. Edward hanya tersenyum kikuk lalu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sama sekali.


Sumpah demi apapun dia sangat malu. Akhirnya dia mengangguk dan pamit pada ayah Adam. Lelaki tua itu terkekeh, sambil geleng-geleng kepala melihat tingkah anak muda itu.


Menyambut kedatangan keluarga Edward, mereka semua makan siang bersama di kediaman Papa Agra. Mereka benar-benar terlihat seperti keluarga besar, saat berkumpul dalam satu meja makan.


Dan setelah itu, para lelaki khususnya orang tua seperti papa Agra, Ayah Adam, amang Yuda dan Andrew, mengobrol sambil bermain catur. Entah awalnya bagaimana, tiba-tiba mereka membicarakan hubungan Edward dengan Agatha.


"Tuan Adam, Maafkan saya jika sikap Edward terlalu berlebihan kepada Agatha. Saya juga tidak tahu kenapa sekarang dia jadi seperti itu, seperti menggilai anak anda," ucap Andrew dengan nada bercanda.


Ketiga orang yang mendengar itu pun terkekeh, membenarkan ucapan Andrew.


"Seperti orang yang baru jatuh cinta untuk pertama kali." Yuda yang menjawab.


"Kalau sudah sering jatuh cinta tidak akan seperti itu ya Yud?" ledek Adam pada sang adik ipar, dulu saat muda Yuda termasuk memiliki banyak pacar, sampai akhirnya luluh juga oleh gadis dari keluarga Malik yaitu Aida.


"Jangan bilang seperti itu Mas, apalagi di depan Aida." Pinta Yuda hingga membuat semua orang kembali terkekeh.


Sesekali mereka menyeduh kopi yang sudah tersaji di atas meja.


Sampai akhirnya Adam dan Andrew membuat sebuah kesepakatan. Jika kelak, kedua anak mereka akan menikah, mereka berdua tidak akan ada yang menghalang-halangi malah akan mendukung dengan sepenuh hati.