
1 jam berlalu sedangkan Alesa dan Agatha masih sibuk dengan foto-foto Abang Arnold dan teman-temannya, mereka benar-benar lupa dengan rencana awal yang ingin membuat makalah.
Saking asyiknya terus Menatap layar komputer mereka sampai tidak sadar jika pintu ruangan itu sudah dibuka oleh sang pemilik.
Dan Arnold terperangah menatap tidak percaya pada kelakuan dua gadis itu, keduanya tergelak sambil menunjuk-nunjuk layar komputer yang menyala.
"Agatha! Alesha!" geram Arnold hingga membuat kedua gadis itu berjangkit kaget.
Bahkan Alesha dan Agatha sampai memegangi dadanya yang merasa berdegup, gugup dan mendadak takut.
"Astaghfirullahaladzim," gumam Agatha dan Alesha, lalu buru-buru bangkit dan bergerak menjauh dari kursi abang Arnold.
Melipir ke pinggiran dan berdiri sejajar.
"Apa yang kalian lakukan?" tanya Arnold, dia pun langsung memeriksa komputernya sendiri, melihat ternyata yang tertera di sana bukanlah makalah melainkan foto-foto dirinya.
"Agatha! Aleshaa!!" gerammya pada kedua pembuat onar ini.
Agatha dan Alesha langsung memasang wajah memelas, seraya mengucapkan kata maaf tak henti-henti. Sampai Arnold pusing sendiri mendengar kata maaf itu dan meminta kepada mereka untuk diam lalu duduk di kursi masing-masing.
Akhirnya mereka benar-benar membuat makalah dengan Arnold yang mengawasi.
Selama membuat makalah itu Arnold menatap Alesha dengan aneh, merasa ada yang berubah dari gadis kecil ini.
Alesha tidak lagi berdebat dengannya juga selalu memalingkan wajah ketika tatapan mereka tidak sengaja bertemu.
Dan Arnold bukankah pria yang tidak peka, dia yakin betul ada sesuatu yang tidak beres.
Tapi karena apa? tanya Arnold dalam hati.
Suasana yang baginya aneh itu terus berlangsung sampai jam istirahat tiba.
Agatha izin sebentar untuk pergi dari sana karena ada panggilan masuk dari Edward. Tapi Arnold langsung menahannya. meminta Agatha untuk menerima panggilan itu di ruangan ini saja, sementara dia dan Alesha akan turun lebih dulu ke lantai 2 untuk makan siang bersama.
Arnold juga meminta kepada Agatha untuk nanti menyusul setelah panggilan itu terputus. Agatha setuju namun kini malah Alesha yang menolak.
"Aku tunggu Agatha sajalah, Abang turun duluan saja," tolak Alesha.
"kamu mau menguping pembicaraan Agatha dan Edward?"
"Aku memang sudah biasa mengupingnya kok," jawab Alesha percaya diri karena memang begitulah adanya. Tiap ada salah satu diantara mereka yang menerima panggilan telepon, pasti yang lainnya akan menguping. Agatha, alesha dan Ali mereka bertiga sama saja.
Dan Arnold yang mendengar jawaban itu benar-benar merasa geram dan dipermainkan, mana ada orang yang menguping pembicaraan orang lain dengan terang-terangan.
Karena tidak ingin berdebat panjang kali lebar dengan Alesha, Arnold pun dengan segera menarik tangan gadis ini untuk keluar ikut bersamanya.
Sementara Agatha yang melihat perdebatan itu usai pun langsung menghembuskan nafasnya lega, lalu dengan tenang dia menjawab panggilan telepon sang calon suami.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Abang, ih kok tarik-tarik sih," gerutu Alesha, kakinya berjalan otomatis mengikuti langkah Arnold yang menariknya dengan tergesa.
Keluar dari ruangan dan segera berjalan menyusuri anak tangga turun ke lantai 2.
"Sudah jangan cerewet, diajak makan saja berisik," jawab arnold, tak kalah menggerutu.
Awalnya Arnold menggenggam pergelangan tangan alesha namun saat menuruni anak tangga dia merubah genggaman itu jadi menautkan jemari mereka berdua tanpa sadar.
Dan Alesha yangsudah kesal sedari tadi pun hanya diam, sama seperti Arnold dia pun tidak sadar jika kini jari mereka saling bertautan.
Deg! jantung alesha berdebar pun Arnold yang merasa tubuhnya berdesir seperti tersengat listrik.
Dengan canggung mereka saling melepaskan diri lalu duduk di kursinya masing-masing dengan kikuk.
Arnold bahkan sampai harus membuang nafasnya kasar agar tubuhnya kembali normal, tidak merasa tersengat seperti tadi.
"Pesankan juga makanan untuk Agatha," ucap Arnold, coba mencairkan suasana yang yang tegang ini.
Dan alesha yang hatinya masih berdebar pun hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. Dia sedikit menunduk menutupi wajahnya yang kini mulai panas panas. Alesha yakin jika saat ini kedua pipinya sudah merah merona.
Sangat memalukan, batin Alesha.
Hingga pesanan mereka datang Agatha masih juga belum turun. Alesha berniat untuk naik kembali ke lantai 2 dan memanggil sang sepupu, namun Arnold melarangnya.
Mengatakan bahwa sebaiknya kini mereka makan saja lebih dulu. Tidak sopan makanan ditinggal-tinggal.
Alesha mengangguk, karena kini dia pun sudah merasa lapar.
"Apa kamu marah kepadaku?" tanya Arnold saat mereka mulai makan dan Agatha bingung yang ditanyakan ini tentang apa.
"Marah kenapa?" tanya Alesha, menatap lekat kedua netra Arnold untuk tahu apa yang sedang dibicarakan oleh pria dihadapannya ini.
"Entahlah, tapi sepertinya kamu menghindariku," jawab Arnold.
Mendengar itu Alesha sedikit mencabik, lalu kembali fokus pada makanannya sendiri. Dia memang sedang menghindar, melindungi dirinya sendiri agar tidak sampai suka kepada seorang pria yang menyukai kakaknya.
"Aku tidak menghindar, itu hanya perasaan Abang saja," jawab Alesha, menjawab tanpa menatap Arnold dan hanya sibuk dengan makanannya.
"Benarkah? kalau begitu tatap aku saat sedang bicara."
Alesha terdiam, kegugupannya kembali menyerang ketika mendengar ucapan itu.
"Kenapa? kamu tidak ingin menatapku? apa ada sesuatu yang salah?" tanya Arnold bertubi, karena dilihatnya Alesha yanh hanya diam dengan pandangan yang terus menatap ke bawah.
"Tidak!" jawab Alesha dengan suaranya yang sedikit tinggi, lalu mulai mengangkat wajah dan memberanikan diri untuk menatap Arnold.
Sesaat mereka saling pandang dengan tatapan yang begitu dalam, entah apa yang ingin Arnold coba sampaikan dari tatapan itu kepada alesha, dan begitupun sebaliknya.
Seolah ada rasa yang tidak bisa untuk disampaikan.
Dan saat tak sanggup lagi untuk menatap mata Arnold, Alesha dengan segera kembali menurunkan tatapannya.
"Apa kamu menyukaiku?" tanya Arnold, dia sudah banyak mengenal gadis dan dia tahu betul bagaimana ciri-ciri seorang wanita ketika mulai menyukai pria.
Sorot mata itu mengungkapkan dengan jelas jika ada rasa suka, bahkan mungkin cinta.
Dan Alesha kembali terdiam, merasa Abang Arnold terus menyudutkannya dengan berbagai macam pertanyaan.
Dia Benci dengan keadaan seperti ini, Alesha merasa perasaannya tidak dihargai dan hanya dipermainkan. Terlebih Alesa Tahu betul jika Arnold adalah pemain wanita. Menyukai kakaknya, lalu dekat pula dengan wanita lain.
Sebagai seorang pria dewasa dan bekerja di bar pula membuat Arnold memiliki banyak teman, termasuk para wanita dan itulah yang disalahpahami oleh alesha.
"Aku sudah selesai, aku akan memanggil Agatha," ucap Alesha ketus. Dia bahkan langsung bangkit dari duduknya dan berlari menuju lantai 2.
Arnold berdecak, lalu segera berlari menyusul Alesha. Hingga sampai di pertengahan tangga tangan Alesha kembali ia cekal.
"Bagaimana jika aku menyukaimu?" tanya Arnold langsung dengan deru nafasnya yang memburu. Dia mengangkat kepalanya menatap Alesha yang kini lebih tinggi dibanding dirinya.