
Ayah Adam, ibu Haura, acil Aida dan amang Yuda yang mendengar kabar tentang orang tua Bella pun langsung mendatangi kediaman papa Agra.
Disana mereka bertemu dengan keluarga Saverun dan saling memeluk sebagai tanda persaudaraan.
Saling berkenalan satu sama lain dan membicarakan banyak hal. David pun mendengar semua cerita tentang bagaimana Bella kecil dulu.
Perasaannya campur aduk, namun sedih yang paling mendominasi. Karena semua waktu itu tidak bisa diulang, dan dia kehilangan banyak waktu bersama sang anak semata wayang.
Papa Agra pun mengatakan, jika mereka semua sangat menyayangi Bella, karena itulah dia menginginkan yang terbaik untuk sang anak. Bersama David pun Agra tidak ingin ada perdebatan tentang Bella anak mereka.
Bella bebas untuk menemui kedua belah keluarga, keluarga Malik dan keluarga Saverun adalah keluarga Bella. Dan karena Bella kedua keluarga besar itu kini jadi saudara.
Keingin Agra itu disambut baik oleh David, terlebih kini Bella sudah menikah pula dengan Azam, maka selamanya mereka adalah saudara.
Berulang kali mendengar kata jika mereka bersaudara entah kenapa Edward tidak suka mendengarnya. Rasanya lebih memilih mereka untuk menjadi orang asing.
Ingin mengalihkan wajah dari para orang tua, Edward malah tanpa sengaja bertatapan dengan seorang gadis.
Deg!
Entah kenapa, mendadak jantung Edward berdebar. Menatap kedua netra bulat yang seperti mata anak kucing itu, kedua mata Agatha Malik.
Agatha yang terkejut pun sontak menunduk. Keduanya jadi teringat tentang Jas yang masih belum kembali pada si pemilik.
Melihat tingkah Agatha, tanpa sadar Edward tersenyum kecil. Hilang sudah keluh kesah yang sedari tadi ia rasakan.
Siang itu mereka semua makan bersama di rumah papa Agra.
Papa Agra pun mengatakan kepada Azam dan Bella jika kini mereka pindah saja ke salah satu rumah milik keluarga Malik, agar ayah David bisa ikut tinggal bersama mereka.
Kedua anak itu pun menurut, dengan antusias menerima saran papa Agra. Bella bahkan memeluk lengan ayah David erat, menunjukkan semua rasa rindunya yang selama ini terpendam.
Selesai makan siang bersama, Edward menarik tangan Agatha untuk menjauh dari semua orang. Lebih tepatnya lagi menjauh dari para orang tua.
Nyaris saja Agatha menjerit sebelum akhirnya Edward menutup mulut gadis itu menggunakan satu tangannya. Bersembunyi di balik dinding pembatas antara ruangan makan dan ruang tengah.
Agatha bersandar didinding itu dan Edward mendekap mulutnya. Keduanya saling tatap dengan jarak yang sangat dekat.
Edward pun mendadak blank, ia bahkan lupa apa tujuannya menarik gadis ini dari semua orang. Pun Agatha yang sibuk sendiri dengan debar dihatinya.
Menelan ludahnya dengan kasar, Edward perlahan melepaskan tanganya yang mendekap mulut Agatha.
"Maaf," desis Edward, nyaris berbisik. Padahal bicara biasa pun orang-orang di tengah sana tidak akan mendengar pembicaraan mereka. Selain jaraknya yang jauh, mereka juga sudah asik dengan obrolannya sendiri, mengenal satu sama lain tentang keluarga Saverun dan keluarga Malik.
Mendengar kata maaf Edward, Agatha hanya mampu menggigit bibir bawahnya, bingung apa yang mau diucapkan.
"Kenapa tidak bilang jika mansion itu rumahmu?" tanya Edward.
"Aku mau bilang begitu, tapi Abang sudah lebih dulu memotong ucapanku, memberikan jas itu," balas Agatha cepat, buru-buru takut omongannya kembali di potong.
Edward pun mengambil pena yang selalu ia bawa di saku jas nya, lalu mengambil tangan kanan Agatha dan menuliskan nomor ponselnya. Lengkap dengan namanya pula.
"Simpan nomorku dan jangan lupa di hubungi, aku menunggumu mengembalikan jas itu," ucap Edward setelah selesai mencatat.
Lalu segera berlalu dari sana dan meninggalkan Agatha yang sudah mematung. Jantungnya nyaris meledak karena debar.
Edward adalah satu-satunya pria yang ia tatap dengan jarak terdekat.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hari ini sangat sibuk, selesai pertemuan kedua keluarga di rumah papa Agra, siang menjelang sore kala itu mereka semua berbondong-bondong ke rumah Azam dan Bella yang baru.
Bukan perkara sulit untuk keluarga Malik pindah rumah, mereka bahkan sampai tak mengingat berapa rumah yang mereka punya.
Setelah mengantar semua keluarga Saverun ke rumah Azam dan Bella yang baru, keluarga Malik pun pamit untuk undur diri. Beberapa hari ini, Edward, tante Namira dan om Andrew beserta ayah David akan tinggal di Indonesia, tinggal di rumah Azam dan Bella yang baru ini.
Semua keperluan keluarga Saverun pun sudah dipenuhi oleh keluarga Malik, mulai dari baju dan dan lain-lainnya.
Rumah ini sudah seperti rumah sendiri bagi mereka.
Dan setelah makan malam, kini Bella, Azam, ayah David dan Edward duduk di teras balkon lantai 2, menikmati kebersamaan dan malam yang indah ini.
Sementara tante Namira dan om Andrew lebih dulu masuk ke dalam kamar untuk beristirahat.
"Ayah bahagia sekali, sangat bahagia, kamu memiliki keluarga yang sangat menyayangimu," ucap Ayah David, seraya mengelus kepala sang anak dengan sayang.
Bella pun langsung memeluk ayahnya erat.
"Aku juga sangat bahagia akhirnya kita bertemu. Ayah melengkapi hidupku," balas Bella.
Azam dan Edward yang melihat itu pun tersenyum kecil, seraya menikmati kopi panas milik mereka.
"Sebaiknya sekarang ayah istirahat, aku akan mengantar ayah ke kamar," putus Bella, tidak ingin ditolak, ia bahkan bangun lebih dulu dan membantu ayah David untuk bangkit.
Lalu ayah dan anal itu pun pergi dari sana meninggalkan dua pria dewasa yang terlihat akur namun masih memendam kesal di hati keduanya.
"Jadi kamu 3 bersaudara?" tanya Edward, memulai pembicaraan dengan Azam.
"Iya, azura itu kembaranku dan satu lagi adikku bernama Agatha," jawab Azam apa adanya. Tidak menaruh sedikitpun curiga pada Edward yang sedang berusaha mengulik tentang gadis kecil itu.
"Agatha masih kuliah? apa dia seumuran dengan Safira?" tanya Edward lagi, Safira adalah adik Edward yang masih kelas 3 SMA.
"Sepertinya tua Agatha, Agatha sudah kuliah," balas Azam seraya menerka-nerka antara Agatha dan Safira.
Dan Edward yang mendengar jawaban Azam itu pun mengulum senyumnya tipis. Seolah ada harapan yang entah tiba-tiba terbesit di dalam hatinya.