
Malam harinya Edward benar-benar kembali datang ke rumah Papa Agra.
Seperti yang diucapkannya kepada Agatha tadi sore, kali ini dia datang kemari dengan membawa buah tangan.
Agatha dan Alesha turun bersamaan menemui Edward di ruang tengah di sana juga sudah ada Papa Agra dan mama Sarah.
Dilihat oleh kedua gadis ini jika mereka semua sedang berbincang, sambil saling bertukar canda dan tawa.
Papa Agra mengaku salut kepada Edward yang berani menemui Adam dan Haura saat hendak mendekati Agatha. Papa Agra pun berharap pria yang akan mendekati Alesha pun memiliki keberanian seperti Edward.
Alesha yang sayup-sayup mendengar ucapan ayahnya itupun mencebikkan bibirnya ,teringat abang Arlrnold yang belum menemui Papa Agra dan mama Sarah. Untuk mengatakan kepada kedua orang tuanya itu tentang hubungan mereka saat ini.
Sampai di sana Agatha dan alesha pun duduk berdampingan disalah satu kursi. Membuat Edward dan Agatha saling lirik bahkan Edward dengan genitnya mengedipkan sebelah matanya.
Agatha langsung bergidik merasa takut akan ketahuan oleh Papa Agra dan mama Sarah, tentang kemesuman mereka berdua.
Hingga akhirnya saat Jam 9.30 malam Edward pamit untuk pulang, hanya Agatha saja yang mengantar Edward sampai di depan teras rumah sementara Papa Agra dan mama Sarah tetap berada di ruang tengah itu, sedangkan Alesha sudah naik ke lantai dua dan masuk ke dalam kamarnya.
"Besok Abang masih di Indonesia kan? belum mau pulang ke Singapura kan?" tanya Agatha bertubi dan Edward pun menganggukkan kepalanya, lalu menjawab dengan berbisik.
"Iya," jawab Edward setelahnya dia mengecup sekilas pipi Agatha.
Membuat Agatha langsung menyentuh pipinya yang terasa panas, tiba-tiba darahnya seperti mendidih. Tubuhnya bergetar jadi ingin pipis lagi.
"Abang, kenapa ya setiap Abang menciumku aku rasanya ingin pipis terus?" tanya Agatha polos, dan berhasil membuat kedua Netral Edward langsung membola.
Dia bahkan langsung mengusap puncak kepala Agatha dengan kasar, merasa gemas dan kesal sekaligus.
Tiap kali mendengar Agatha mengucapkan kata kebelet pipis dia langsung menegang seketika.
"Karena itulah jangan membiarkan orang lain menciummu, hanya aku yang boleh menciummu. Agar kamu tidak malu pipis di depan orang lain," jawab Edward dengan wajah serius dan Agatha pun mengangguk setuju.
Sebelum Edward benar-benar pergi mereka berdua membuat kesepakatan dulu, bahwa besok minggu mereka akan kembali bertemu. Edward akan menjemput Agatha di rumah ini lalu mengantarnya pulang ke mansion ayah Adam. Tapi sebelum mengantar pulang Edward akan mengajak Agatha untuk berkeliling terlebih dahulu.
Anggaplah itu sebagai kencan pertama mereka.
Agatha berjingkrak kegirangan, diajak jalan-jalan tentu saja dia senang. Agatha bahkan mengatakan akan mengajak Alesha pula, namun Edward segera menolak, mengatakan jika kencan ini hanya untuk mereka berdua.
Akhirnya dengan bibir mencebik. Agatha mengangguk.
Dan sekuat tenaga Edward menahan diri agar tidak menggigit bibir yang sedang mencebik itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di dalam kamar Alesha, gadis ini melihat ponselnya berharap ada pesan masuk dari sang kekasih, tapi sayang harapan hanyalah tinggal harapan karena nyatanya tidak ada satupun pesan masuk dari Arnold juga tidak ada panggilan tidak terjawab disana.
Alesha mendesah kesal, Dia melempar ponselnya asal di atas ranjang.
Alesha tidak tahu jika saat malam seperti ini, Arnold masih sibuk di Bar nya. Apalagi beberapa saat lalu di Bar terjadi masalah kecil, karena itulah kini dia lebih ekstra hati-hati mengawasi Bar nya saat buka di malam hari.
Saat Agatha masuk ke dalam kamar itu, dia langsung melihat wajah Alesha sayang nampak kesal.
Agatha pun langsung ikut berbaring di atas ranjang tepatnya di sebelah kiri Alesha.
"Kamu kenapa?" tanya Agatha pada sang sepupu.
"Bener kata papa Agra dan mama Sarah, juga kata ayah Adam dan ibu Haura, saat sedang menempuh pendidikan seperti ini sebaiknya jangan main cinta-cintaan dulu karena itu akan membuat mood kita jadi buruk," balas Alesha sengit.
Karena biasanya saat mereka baik-baik saja Alesha pun akan tetap ceria, seperti dia saat ini.
"Ada apa dengan Abang Arnold?" tanya Agatha langsung ke sumber masalah.
Sedangkan Alesha hanya diam dengan bibirnya yang semakin mengerucut, kesal.
"Apa abang Arnold tidak menghubungimu? kalau malam begini kan abang Arnold sibuk di bar," timpal Agatha lagi, karena Alesha hanya terus diam, karena itulah dia yang terus buka suara.
"Sama seperti saat kita sedang sibuk kuliah, kita juga tidak menghubungi kekasih-kekasih kita, iya kan?" tanya Agatha lagi yang terdengar masuk akal di telinga Alesha. Diantara diamnya Alesha itu dia membenarkan ucapan Agatha.
Mendadak merasa egois karena selalu ingin dimengerti tanpa ingin mengerti pasangan.
"Tumben bener," ucap Alesha yang sudah mulai kembali ceria.
Keduanya tertawa, merasa lucu sendiri dengan kehidupan yang mereka jalani saat ini, sama-sama memiliki kekasih di waktu yang bersamaan.
Padahal mereka tidak pernah merencanakan ini semua, mereka kira mereka akan mengenal cinta saat usia sudah semakin dewasa.
Namun siapa sangka jika ternyata Cinta itu datang lebih cepat.
Agatha tertidur sementara Alesha masih terjaga, dia menunggu ponselnya yang saat ini mati jadi menyala. Dia menunggu hingga jam berapa kekasihnya akan menghubungi, karena di jam itu Alesha akan tahu jam istirahat sang kekasih.
Ting!
Ponselnya berbunyi sebuah notifikasi pesan.
Dengan bibir tersenyum Alesha menjangkau ponselnya di atas nakas. Melihat pesan itu yang ternyata benar dari abang Arnold.
Jam 11.30 malam, Arnold baru memberi kabar.
Kamu sudah tidur?
Tulis Arnold dalam pesannya. belum sempat alesha membalas ada satu lagi pesan masuk dari orang yang sama.
Keluarlah ke balkon kamarmu, aku dibawah.
Kedua mata Alesha membola, namun dengan segera dia turun dari atas ranjang dan berlari membuka pintu balkon kamarnya. keluar dan melihat ke arah seberang jalan di ujung sana, ada sebuah mobil putih yang terparkir dengan sempurna dan Alesha Tahu betul itu milik siapa.
Ponselnya yang masih ia pegang di tangan berdering, dilihatnya abang Arnold menelpon. Tanpa menunggu lama Alesha langsung menjawab panggilan itu.
"Abang," Panggil Alesha lirih dengan bibirnya yang mulai mengukir senyum lebar.
"Apa kamu sedang tersenyum? aku tidak bisa melihatnya dengan jelas," ucap Arnold, membuat Alesha terkekeh hingga Arnold benar-benar yakin jika kekasihnya sedang tersenyum.
"Apa kamu menungguku?"
"Pikir saja sendiri," jawab Alesha sedikit ketus, padahal hatinya berbunga-bunga melihat mobil Arnold di depan.
"Aku ingin menciumu," rengek Arnold membuat Alesha mendengus.
"Pulang sana!" Ketus Alesha, kini dia benar-benar kesal.
Katanya yang kemarin adalah terakhir, tapi tiap menelepon selalu itu saja yang dibahas.
Hih!