
Saat malam datang, Azam pun bersiap untuk pergi ke acara sang istri.
Mengambil kacamata di atas meja dan mulai memakainya. Ia hanya menggunakan baju sederhana namun terkesan mewah saja saat ia yang memakai. Tidak ada jas apalagi dasi yang ia pakai.
Bersama dengan Ben, Azam pun akhirnya pergi. Kini kemana-mana mereka menggunakan taksi. Tidak seperti dulu yang selalu ada mobil pribadi ke negara manapun mereka pergi.
Tapi menjadi tidak punya apa-apa seperti ini bukan hal yang sulit bagi Azam, ia pun tak merasa malu sedikitpun.
Sejatinya sejak kecil Azam sudah terbiasa hidup sederhana. Bahkan setelah ibunya sukses lalu bertemu dengan ayah Adam, tetap tidak membuatnya jadi orang yang berpoya-poya.
30 menit perjalanan dan akhirnya Azam sampai, masuk ke dalam sana setelah memberikan kartu undangan yang ia peroleh dari amang Edgar.
Untuk masuk ke acara ini memang bukan orang sembarangan, bahkan harus menyerahkan kartu undangan sebagai akses masuk.
Edgar dan Luna yang diundang namun yang datang Azam dan Ben.
Setelah masuk Azam dan Ben pun langsung duduk di meja khusus yang sudah disediakan. Berada di tengah-tengah para tamu undangan yang lainnya. Di ujung kanan, Azam pun melihat Edward hadir di acara ini.
Acara itu pun dibuka oleh pemandu, lalu sambutan dari pemilik brand perhiasan dan terakhir peluncuran produknya yang akan dipamerkan oleh para model.
Satu per satu model pilihan ini mulai keluar. Ada yang menggunakan gelang cantik di tangannya, kalung elegan dan cincin yang bersinar.
Sampai akhirnya kini giliran Bella untuk keluar, sebagai model ternama dan sebagai andalan Bella menggunakan satu set lengkap perhiasan di tubuhnya.
Bella nampak sangat cantik, auranya terpancar tak ada yang bisa menandingi. Bahkan riuh tepuk tangan para tamu undangan langsung memenuhi ruang pameran ini.
Sementara Bella tersenyum, melihat tiap sisi untuk memberikan penghormatan pada para tamu undangan. Sampai akhirnya gerak mata Bella berhenti di salah satu tamu yang berdiri dari duduknya sambil terus bertepuk tangan.
Azam disana dan membuat senyum Bella perlahan menghilang. Bahkan seolah membuat jantung Bella berhenti sekejap.
Bella memutar tubuhnya dan berjalan kembali di belakang podium dengan hati yang entah.
Bagaimana pria brengsek itu ada disini?
Untuk apalagi dia datang!
Gerutu Bella di dalam hatinya, bahkan wajah kesalnya itu langsung disadari oleh Fhia yang sudah menunggu kedatangannya.
"Kamu kenapa?" tanya Fhia.
Bella duduk di kursi riasnya dan para perias mulai melepaskan satu per satu perhiasan dari tubuh Bella.
"Dia disini Fhia, pria itu ada disini," jelas Bella dengan suaranya yang kesal. Andai ini bukan ditempat umum ingin sekali ia mengumpati Azam.
Bella tak habis pikir jika Azam akan mengikutinya hingga sampai di tempat ia bekerja.
Siang tadi papa Agra mengatakan tentang hasil sidang pertama perceraiannya hari ini. Azam tetap bersikukuh untuk mempertahankan rumah tangganya dan tidak akan menceraikan Bella.
Padahal Bella sudah berniat untuk membuat hubungannya dan Azam membaik. Perceraian yang baik-baik seperti yang diucapkan oleh papa Agra dan mama Sarah beberapa hari lalu.
Mengingat nenek Zahra yang sudah tidak ada, kedua orang tua Bella mengatakan jika sebaiknya ia dan Azam berpisah dengan baik-baik. Membuat hubungan keluarga Malik jadi utuh kembali.
Bella mencoba setuju, mengesampingkan sakit hatinya agar masalah ini cepat selesai.
Tapi apa yang dilakukan oleh Azam? dia tetap saja egois. Disaat Bella ingin lepas ia menahannya, dan disaat Bella ingin bertahan Azam malah melepasnya.
Brengseek! umpat Bella di dalam hati.
Saat pameran usai kini para tamu undangan dan semua yang terlibat dalam acara ini menikmati makan malam. Bella duduk di meja yang sama dengan Edward, sementara Azam tetap duduk di kursinya seraya terus memperhatikan.
Membuat Bella diujung sana merasa tak nyaman dengan tatapan Azam itu. Edward yang merasa aneh dengan gelagat Bella pun mengikuti arah pandang Bella hingga akhirnya ia melihat Azam di ujung sana.
"Bagaimana bisa dia ada di acara ini?" tanya Edward, merasa saingannya muncul Edward langsung menggeser kursinya agar lebih dekat dengan Bella.
"Entahlah, yang jelas dia punya undangan masuk," jawab Bella asal.
Sesekali tatapan Azam dan Bella bertemu meski dengan jarak yang cukup jauh.
Sampai akhirnya acara itu usai dan semua orang memutuskan untuk pulang. Tapi tidak dengan Azam yang terus mengekori kemanapun Bella pergi bahkan hingga sampai di Pan Pacific Apartemen Azam pun mengikutinya hingga sampai di lantai 30.
Geram? tentu saja, Bella sungguh marah akan sikap Azam itu.
Tentang sidang cerainya yang tak lancar dan kini Azam malah selalu mengikutinya.
"Stop! berhenti mengikuti aku Zam!" pekik Bella saat ia sudah berdiri persis di unit apartemen miliknya. Sementara Azam ada disana, 10 langkah di depan Bella.
"Berhentilah bersikap menjijikkan!" ucap Bella lagi dengan suaranya yang masih tinggi.
Mendengar makian itu Azam tersenyum kecil. Bahkan ucapkan kasar Bella itu ternyata juga ia rindukan.
"Aku tidak mengikutimu," balas Azam, bicara pelan bahkan kakinya tak bergerak sedikitpun.
Tapi jawaban itu benar-benar membuat Bella jengah. Jawaban konyol, lalu apa namanya jika tidak mengikuti sementara kini Azam berdiri persis di hadapannya, di apartemennya.
Sebelum kembali menjawab Bella menarik dan menghembuskan napasnya pelan, mencoba tenang dan tidak terhasut oleh amarah.
"Zam, ayo kita selesaikan ini baik-baik. Ayo kita cerai," ucap Bella.
Namun mendengar itu Azam menyeringai, lalu mulai melangkahkan kakinya mendekati sang istri.
"Aku tidak mau, apa kamu sudah dengar hasil sidang hari ini?" tanya Azam. Kini ia berdiri persis dihadapan Bella, hanya berjarak 2 langkah.
Deg!
Mendengar pertanyaan itu membuat Bella tersentak.
"Karena kamu tidak hadir di sidang mediasi hari ini, maka hakim memutuskan untuk kita mediasi sendiri di rumah," jawab Azam dengan senyum smirknya.
Membuat Bella mengepalkan tangannya kuat. Putusan itu juga sudah ia dengar langsung dari papa Agra siang tadi.
Namun Bella sungguh tak menyangka jika Azam akan datang dan kembali mengingatkannya.
"Aku tahu kamu sibuk dan tidak bisa kembali pulang, karena itulah aku yang datang," ucap Azam lagi.
Membuat Bella dan Fhia menelan salivanya dengan susah payah. Apalagi saat melihat Ben yang seperti mulai bergerak.
"Apa maumu?!" tanya Bella dengan membentak, mencoba tidak terintimidasi dengan semua ucapan Azam itu.
Dan mendengar pertanyaan Bella, senyum smirk Azam berubah jadi senyum lebar.
"Ini mauku," jawab Azam, ia menarik lengan Bella untuk mengikuti langkahnya.
Sementara Ben menahan Fhia agar tidak mengganggu tuannya.
Azam, lalu menarik Bella dan membawanya masuk ke dalam unit apartemennya sendiri. Mengunci pintu itu dan melepaskan Bella.
"AZAM!" pekik Bella dengan kemarahan yang membuncah.