Bringing Back, My Wife

Bringing Back, My Wife
BBMW BAB 48 - Bermain Dengan Perasaan



"Kenapa dari tadi bertanya tentang Agatha terus?" tanya Azam akhirnya setelah mulai curiga. Rasanya sangat tidak wajar jika Edward terus menanyai adik kecilnya itu.


Agatha memang sangat cantik, wajar saja jika banyak orang yang menaruh perhatian pada adiknya itu. Bahkan kulit putih mulusnya terlihat seperti bayi. Bukan tanya sebab kenapa Agatha terlihat seperti itu, sebab sejak kecil ia selalu berada di dalam perlindungan sang ayah. Semua yang terbaik dilakukan oleh ayah Adam untuk anak bungsunya itu, meski terkadang-kadang untuk memanjakan Agatha harus di belakang ibu Haura.


"Bu-bukan apa-apa, aku cuma bertanya," jawab Edward yang mendadak gugup dan gagap, si genius Azam pun semakin menyipitkan matanya dan menatap curiga.


Dilihatnya Edward yang meminum kopi dengan tidak nyaman.


"Apa kamu menyukai adikku?" tanya Azam dan membuat Edward menelan kopinya dengan susah payah.


Edward pun tidak tahu dia menyukai Agatha atau tidak, karena yang dia tahu dia masih mencintai Bella hingga detik ini. Perihal Agatha ia hanya merasa senang saat menggoda gadis kecil itu, melihat Agatha gugup dan malu benar-benar lucu.


Membuatnya berdebar hingga tanpa sadar mengukir senyum.


"Jangan permainkan adikku, jangan jadikan dia pelampiasanmu karena tidak mendapatkan Bella," ancam Azam, ia bicara sungguh-sungguh, tidak peduli meski Edward kini adalah saudara istrinya.


Dan mendapat ancaman itu Edward pun merasa tidak terima, dia bukanlah pria brengsek seperti Azam yang suka mempermainkan wanita.


"Jangan samakan aku sepertimu, aku  bukanla orang yang suka mempermainkan wanita," balas Edward tak kalah sengit.


Kini Azam dan Edward malah saling tatap dengan tatapan yang tajam. Sepertinya memang sulit untuk membuat keduanya jadi dekat.


"Kalian kenapa sih?" tanya Bella yang tiba-tiba datang dan memutuskan tatapan tajam kedua pria dewasa itu.


"Edward yang mulai sayang," adu Azam pada sang istri, nada bicaranya berubah manja tidak seperti tadi yang terdengar keras dan penuh ancaman, membuat Edward yang mendengarnya langsung jijik dan ingin muntah.


Dasar pria bermuka dua! umpat Edward didalam hati, ditujukan untuk Azam.


"Kenapa lagi?" tanya Bella pada keduanya.


"Edward bertanya terus tentang Agatha, aku jadi curiga," jujur Azam dan makin tersentak lah Edward, tidak menyangka jika Azam seember ini. Edward tidak tahu, jika diantara Azam dan Bella kini memang tidak ada yang ditutup-tutupi.


Mendengar mama Agatha dan Edward, Bella jadi ingat cerita sang adik ipar tentang jas itu. Lantas Bella pun menceritakannya pula pada Azam.


Edward yang dibicarakan seperti mati kutu, sedikit malu dan kesal pada sepasang pengantin ini.


"Hih! sudahlah aku mau masuk saja!" kesal Edward dan tanpa menunggu izin dari keduanya Edward segera berlalu dari sana.


Azam dan Bella saling pandang lalu terkekeh bersamaan. Melihat Edward persis seperti remaja yang sedang malu-malu digoda.


"Jadi begitu ceritanya, jadi jas Edward sekarang ada di Agatha?" tanya Azam pada sang istri setelah Bella selesai bercerita.


"Iya Mas, Agatha malu mau balikinnya, tau deh kapan jas itu balik ke Edward lagi," jawab Bella, dan mereka lagi-lagi terkekeh. merasa lucu pada keduanya, Agatha dan Edward.


Selesai membicarakan mereka berdua, Bella memeluk suaminya erat. Mengatakan lewat pelukan itu jika hari ini dia bahagia sekali, sangat sangat bahagia.


Memiliki dua keluarga yang sangat menyayangi dirinya.


Azam pun membalas pelukan itu, mengangkat dagu Bella dan mengecupnya sekilas. Lalu kembali memeluk agar tetap merasa hangat meski angin malam menerpa tubuh keduanya.


"Abang, tentang kehamilanku kita periksa kandungan dulu baru kasih tau ke semua keluarga ya?" pinta Bella, ia menyembunyikan wajahnya di ceruk leher sang suami dan menghirup dalam-dalam aroma tubuh suaminya.


"Iya sayang, begitu lebih bagus," jawab Azam.


Azam lantas menggendong sang istri dan membawanya masuk ke dalam kamar mereka.


Malam ini mereka tidur dengan membawa kebahagiaan yang mereka rasa.


Lain halnya dengan kamar di sebelah yang belum tidur dan menunggu-nunggu sebuah pesan atau panggilan masuk ke dalam ponselnya.


Edward masih terjaga dan menunggu Agatha menghubungi, namun hingga jam setengah 10 saat ini Agatha tak kunjung menghubunginya.


kecewa dan kesal langsung Edward rasa, andaikan Jo ada disini pasti ia sudah memerintahkan asistennya itu untuk mencari informasi pribadi tentang Agatha. Tapi sayang, dia buru-buru datang ke Indonesia sampai tidak sempat mengabari sang asisten.


Kini Jo sedang mengurus beberapa pekerjaannya yang terbengkalai di Singapura.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di mansion keluarga Malik.


Agatha tanpa sadar sudah menghapus nomor ponsel yang dicatat oleh Edward di telapak tangannya. Bukan dihapus menggunakan air, namun hilang sendiri gara-gara keringat dingin yang muncul tiba-tiba karena gugup yang ia rasa.


"Alesha, bagaimana ini, nomornya hilang," adu Alesha pada sang sepupu, kini Alesha dan Agatha terhubung sambungan telepon. Hubungan mereka sama seperti Azura dan Bella, yang bersahabat dan berbagi apapun satu sama lainnya.


Di ujung sana Alesha tergelak, menertawakan kelakuan sang sepupu, bisa-bisanya catatan itu hilang gara-gara keringat dingin.


"Ini sudah malam, besok aku akan meminta nomor abang itu pada mbak Bella, kamu tenanglah," jawab Alesha setelah tawanya mereda.


Dan Agatha yang mendengar itu menghembuskan nafasnya lega.


Malam ini Agatha bisa tidur nyenyak tanpa ada rasa bersalah. Karena ia pikir semuanya masih bisa dilakukan besok, menghubungi abang baik itu dan mengembalikan jasnya.


Agatha tidak tahu jika pria bernama Edward itu terus mengutuknya habis-habisan.


Karena hingga tengah malam pun Agatha tidak juga menghubunginya.


"Gadis kecil yang nakal," umpat Edward, lalu dengan kasar ia menjatuhkan tubuhnya diatas ranjang. Lalu segera memejamkan matanya dan berharap segera terlelap. 


Meski bayang-bayang wajah Agatha terus muncul di dalam matanya yang terpejam


"Dasar licik," ucap Edward lagi. Lagi-lagi dia mengumpat Agatha meski matanya sudah terpejam 


Baginya Agatha sungguh licik, karena gadis itu berhasil membuatnya tidak bisa tidur seperti ini. 


"Kalau sampai besok kamu tidak menghubungiku, lihatlah apa yang  bisa ku lakukan," gumamnya lagi, ida berniat kembali menarik Agatha dan membuat gadis itu kembali gugup. 


"Tunggu, kenapa aku bersemangat sekali tentang anak kecil itu, apa benar aku menyukainya? bukanya aku menyukai Bella?" tanya Edward pada dirinya sendiri. Ia bahkan menyentuh dadanya seolah menyentuh hati. Dan melihat sebenarnya siapa yang dia suka.


"Apa aku pria brengsek seperti Azam? yang mudah sekali menyukai wanita?" gumam Edward lagi lalu bergidik jijik. Tidak sudi dia disama-samakan dengan Azam. 


"Tidak, aku masih mencintai Bella, hanya ingin mengganggu anak kecil itu saja," yakin Edward. 


Bermain-main dengan perasaan, entah siapa nanti yang malah dipermainkan, Agatha? atau dia sendiri?