
Agatha menghembuskan nafasnya pasrah saat mendengar Abang Arnold mengatakan bahwa hari ini dia akan memberikan soal ujian.
Seperti ujian dadakan dia pun merasa deg-degan. Takut salah tidak mendapatkan nilai yang jelek.
Lain halnya dengan Alesha yang langsung menatap tajam dan curiga pada abang Arnold, perasaannya mengatakan lain, seolah ini bukankah ujian biasa melainkan sebuah taktik si buaya darat untuk memperdaya dirinya. Membuat ia dan Agatha berada di ruangan terpisah.
Lalu ... ah! Alesha sampai tidak sanggup untuk membayangkannya.
1 jam pertama Arnold masih memberikan kesempatan pada kedua gadis ini untuk kembali membaca materi yang pernah ia beri.
Dan di menit berikutnya, Arnold mengajak Agatha untuk pindah di ruangan yang lain, sementara Alesha tetap berada di ruangannya.
Kini Agatha ada di ruangan Manager. Hari ini manager cafe tidak datang, jadi ruangannya bisa digunakan oleh Agatha untuk membuat contoh proposal pengajuan izin pembangunan Cafe.
"Buat proposal nya yang benar, nanti aku akan kembali dan memeriksanya," ucap Arnold.
Agatha menganggukkan kepalanya tanda mengerti, seraya menatap komputer dihadapannya yang mulai menyala.
Setelah mengantar Agatha keruangan itu, Arnold pun kembali ke ruangannya sendiri untuk menemui Alesha.
Dilihatnya Alesha yang masih belum beranjak dari kursinya sendiri.
"Kenapa masih duduk di situ? pindah ke kursi ku dan hidupkan komputernya," ucap Arnold. dia masuk ke dalam ruangannya dan menghampiri Alesha.
Sementara Alesha nampak ragu antara bangkit dari duduknya atau tetap berada di sini.
"Kenapa diam?" tanya Arnold lagi dengan wajahnya yang nampak serius.
Alesha mulai berfikir bahwa dugaannya tadi salah, mengira bahwa Abang Arnold memisahkan dirinya dengan Agatha hanya untuk main-main. Tapi sepertinya tujuan Abang Arnold memang benar, memisahkan mereka berdua agar lebih memahami materi yang sudah diberi.
Dengan hati yang masih meragu itu akhirnya Alesha bangkit lalu pindah duduk ke kursi milik abang Arnold.
Duduk di sana dan mulai menyalakan komputer.
Sementara Arnold langsung memposisikan dirinya berdiri di belakang Alesha, sedikit menunduk hingga seperti memeluk dan memegang mouse komputer itu.
"Buatlah proposal nya dengan sungguh-sungguh, aku akan mengawasi pekerjaanmu," ucap Arnold, tanpa peduli jika jantung Alesha rasanya mau copot.
Jarak ini terlalu dekat, Alesha bahkan sangat yakin jika ia menoleh ke kanan maka dia akan langsung mencium pipi Abang Arnold.
Namun Alesha mencoba tenang, dengan tangannya yang mulai dipenuhi keringat dingin dia memposisikan kedua tangannya di atas keyboard.
Dan Arnold tersenyum tipis namun tidak beranjak dari posisinya yang seperti ini.
Benar-benar membimbing Alesha untuk membuat proposal namun dengan jarak yang begitu dekat.
Hingga akhirnya 15 menit waktu berlalu.
"Aku akan memeriksa Agatha," ucap Arnold, ia menoleh ke kiri hingga deru nafasnya mampu Alesha dengar dengan jelas, bahkan nafas hangat itu menyapu lembut wajah-nya yang dingin.
"Iya, tapi bicaranya jangan dekat-dekat," keluh Alesha yang mulai tak nyaman, bukan apa-apa Jika seperti ini terus bisa-bisa jantungnya akan meledak.
"Kenapa? bahkan kemarin kita sampai tidak memiliki jarak, bibir kita menyatu," goda Arnold dan membuat wajah Alesha berubah merah seperti kepiting rebus.
"Aku akan kembali 15 menit lagi," ucap Arnold lembut, setelah berhasil membuat Alesha mati kutu dia segera meninggalkan Gadis itu, setelah sebelumnya Arnold mengusap puncak kepala Alesha dengan gemas.
Arnold tidak tahu jika sikapnya yang seperti itu membuat hati Alesha berdebar tak karuan. Rasanya diusap kepala lebih membuatnya berdebar ketimbang dicium bibir kemarin.
Dan saat makan siang tiba, Alesha dan Agatha berhasil menyelesaikan proposal mereka dengan baik. Arnold pun berbangga hati pada keduanya, mereka berdua bukan hanya memiliki hati yang polos namun juga otak yang pintar.
"Setelah istirahat ini nanti abang akan pergi, kalian bisa membuat makalah di ruangan Abang, sekalian menunggu sore sebelum abang Azam menjemput," ucap Arnold.
semalam di Bar nya ada masalah, ada beberapa orang yang melakukan perkelahian hingga mengakibatkan polisi terlibat. Siang ini dia harus datang ke kantor Polisi untuk menjadi saksi.
Agatha yang mendengar itu pun menganggukkan kepalanya, tidak ada abang Arnol di sini dia malah senang karena merasa tidak diawasi.
Harusnya Alesha pun merasa seperti itu, merasa bahagia saat abang Arnold tidak mengawasi mereka. Namun entah kenapa kini malah berbeda, abang Arnold belum pergi namun Alesha sudah merasa kehilangan Abang Arnold.
Seolah ada ruang kosong yang tiba-tiba mengambil tempat di hatinya. Apalagi hari ini adalah magang terakhirnya di sini namun dia malah merasa sepi. Alesha ingin Abang Arnold tetap ada disini.
Ah! kenapa aku jadi merasa seperti ini. Gerutu alesha di dalam hati.
Dan Arnold yang melihat wajah Alesha berubah murung saat dia mengatakan ingin pergi pun mengukirkan senyumnya tipis. Merasa jika kini, hati Alesha sudah berhasil dia dapatkan.
Wanita seperti Alesha, akan lemah dengan perlakuan perlakuan manis, juga kata-kata indah yang menyentuh hatinya.
"Ya sudah sana turunlah, makan siang dulu," titah Arnold pula pada kedua gadis ini.
Agatha mengangguk antusias sementara Alesha tidak menunjukkan ekspresi apa-apa. Dia malah berharap Abang Arnold akan menahan mu untuk tidak. pergi.
Namun Alesha hanya bisa pasrah, dia akhirnya bangkit dan mengikuti langkah Agatha untuk keluar dari ruangan ini.
"Alesha!" panggil Arnold, ketika kedua gadis itu sudah membuka pintu.
Alesha yang namanya dipanggil pun langsung tersenyum. Ia dan Agatha lantas kembali menoleh kepada Arnold.
"Proposal mu ada yang salah sedikit, sini abang beri tahu yang salah!"
Agatha mendengus kesal takut juga punya dia pun akhirnya berakhir salah seperti Alesha.
"Punyaku bagaimana Bang?" tanya Agatha mulai pasrah.
"Punya mu sudah benar, keluarlah lebih dulu, pesan ice cream juga ya?" jawab Arnold, sebuah jawaban yang membuat Agatha berjingkrak senang.
Lantas memberi semangat pada Alesha untuk revisi dan dia segera pergi meninggalkan ruangan itu. Menutupnya rapat dan meninggalkan Alesha dan Abang Arnold berdua.
Kini Alesha kembali menghampiri Abang Arnold dengan hatinya yang masih tak menentu, sepertinya memang benar jika tugasnya ada yang salah. Bukan tentang mereka yang ingin menghabiskan waktu bersama.
"Duduk disini," ucap Arnold, Dia bangkit dari kursinya dan meminta Alesha untuk duduk di sana, seperti tadi saat mengerjakan proposal.
Dan Alesha menurut, melihat raut wajah Arnold yang nampak serius dia yakin jika tugasnya benar-benar salah.
Sepertinya ucapan Abang Arnold kemarin tentang mereka yang sudah menjadi sepasang kekasih memang tidak sungguh-sungguh.
Alesa menghembuskan nafasnya kecewa, lalu kembali menatap layar komputer yang sudah menyala, terpampang jelas proposal nya di sana.
"Yang salah mana?" tanya Alesha dengan tidak bersemangat.
Namun bukannya menjawab, Arnold malah memutar kursi Alesha agar menatap kearahnya.
"Buka sedikit mulutmu," ucap Arnold dan tanpa sadar Alesha menurut.
Hingga akhirnya bibir keduanya kembali berpaut.