Bringing Back, My Wife

Bringing Back, My Wife
BBMW BAB 40 - Pernikahan Azura Dan Julian Bagian Dua



Pesta pernikahan Azura dan Julian masih terus berlangsung setelah acara sakral ijab kabul.


Haruka dan Ryu pun datang dalam pernikahan ini. Semakin melengkapi kebahagiaan Azura dan Julian. Semua kelurga dan sahabat berkumpul di hari spesial mereka.


Seperti sebuah kewajiban, mereka semua mengambil foto bersama dengan berbagai pose. Hanya saat pernikahan Ryu dan Haruka dulu personil kurang lengkap. Karena saat itu Azam dan Bella masih berada di penginapan.


"Ganti gaya!" titah sang potografer dan pengantin serta semua sahabat langsung merubah formasi. Keceriaan mereka semua menular hingga sampai pada para tamu undangan dan seluruh keluarga.


"Tinggal Arnold yang belum menikah," ucap ibu Haura pada sang suami, ayah Adam.


Kedua orang tua ini ingat betul bagaimana persahabatan ke tujuh orang dewasa itu. Persahabatan yang sudah dimulai sejak mereka kecil, Azam, Azura, Bella, Haruka, Ryu, Julian dan Arnold.


"Iya sayang, sebenarnya Arnold menyukai Agatha atau Alesha?" tanya ayah Adam pada sang istri dan ibu Haura hanya mengedikkan bahu sebagai jawaban.


Ayah Adam yang gemas pun mencubit sekilas hidung mancung istrinya ini, lalu menarik pinggang ibu Haura agar lebih dekat kepadanya.


Lalu bersama-sama kembali menatap sang anak di depan sana yang masih asik mengambil foto bersama.


Di sisi lain Edward baru saja sampai di acara pernikahan ini. Tadi Ben yang menjemputnya di Bandara. Ia tetap berdiri di sini di tempat yang sama setelah Ben pergi. Edward memperhatikan Bella dan teman-temannya di sana.


Melihat Bella yang tertawa lepas di pelukan Azam. Ada desiran dihatinya ketika melihat pemandangan itu, indah namun terlihat menyakitkan.


Brug!


Edward terhuyung setelah seseorang menabrak tubuhnya. Namun dengan segera ia menangkap seorang gadis yang nyaris jatuh.


Untunglah pergerakan cepat Edward membuat gadis cantik itu selamat, namun gelas yang gadis cantik ini bawa terjatuh setelah isinya menumpahi gaunnya.


"Kamu tidak apa-apa?" tanya Edward cemas, bagaimana jika air yang dibawa itu panas.


"Aku baik-baik saja Bang, terima kasih dan maaf," jawab Agatha sekaligus. Bicara dengan buru-buru ingin segera meminta maaf.


Keduanya lalu saling melepas dekapan dan berdiri sempurna.


"Gaun mu basah," ucap Edward penuh perhatian, malang sekali gadis kecil ini pikirnya. Di acara yang bulai usai dan gaunnya basah.


"Tidak apa-apa Bang, aku bisa menggant_"


"Pakai ini," potong Edward sebelum Agatha selesai bicara. Edward sudah lebih dulu melepas jas dan memberikannya kepada Agatha. Padahal Agatha ingin bilang jika dia bisa mengganti baju yang basah ini. Ini adalah rumahnya. Namun belum selesai dia bicara, abang baik ini sudah lebih dulu mengulurkan jas miliknya.


Agatha tersenyum, merasakan hatinya yang tiba-tiba menghangat.


"Terima kasih Bang," jawab Agatha, ia mendadak malu. Sedikit menunduk untuk menutupi wajahnya yang merona dan menyelipkan anak rambut yang ikut jatuh.


Edward yang melihat itu tersenyum kecil. Pemandangan termanis yang pernah ia lihat.


Gadis kecil yang malu-malu.


Malam hari.


Acara itu belum juga usai. Namun kini tidak ada lagi para orang tua, di taman belakang mansion milik keluarga Malik itu kini dipenuhi oleh banyak pemuda.


Teman-teman Azura dan Julian semasa SD, SMP, SMA, Kuliah dan kerja semuanya datang.


Berkumpul dan menikmati kebersamaan ini dengan santai. Bahkan kedua pengantin pun sudah tidak lagi memaki gaun pernikahan dan jas lengkap. Azura dan Julian kini serasi dengan pakaian santai yang senada. Berwarna merah muda seperti kesukaan Azura, sementara teman-temennya yang lain menggunakan baju santai berwarna putih.


Ada pula panggung kecil untuk pertunjukkan musik akustik.


"Aa! aku bahagia sekali! terima kasih semuanyaa!" teriak Azura di panggung depan.


Semua temannya bersorak dan Julian langsung memeluk istrinya erat.


Arnold yang kebelet pipis berlari menuju mansion, memilih kamar mandi dapur yang paling dekat.


Ia nyaris teriak, namun urung saat melihat sosok itu berbalik, ternyata itu bukan setan, melainkan Alesha yang menggunakan baju tidurnya berwarna putih.


"Ya ampun Alesha, aku kira kamu hantu," ucap Arnold yang mendadak lupa jika dia tadi kebelet pipis.


Di bilang mirip hantu Alesha mencebik, merasa penampilannya seburuk itu.


Arnold yang menyadari perubahan raut wajah gadis ini pun baru sadar jika ucapannya salah.


"Ternyata bukan, yang ku lihat malah bidadari," timpal Arnold lagi, menggoda Alesha agar senyum gadis cantik ini kembali.


Tapi bukannya tersenyum, Alesha malah makin mencebik. Jadi kesal karena Arnold nampak sekali berbohong nya.


"Abang mau apa kesini?" tanya Alesha, ingin mengalihkan pembicaraan.


"Ya ampun! abang lupa kalau tadi mau pipis," sahut Arnold cepat, lalu segera berlari menuju kamar mandi. Tapi belum masuk ke dalam sana dia kembali memanggil Alesha.


"Alesha!" teriak Arnold dan Alesha menoleh.


"Kamu memang seperti bidadari, cantik. Berhasil mengalihkan duniaku yang kebelet pipis," goda Arnold. Ia buru-buru menutup pintu kamar mandi saat melihat Alesha ingin melemparnya dengan buah apel. Apel yang tadi di ambil Alesha di lemari pendingin.


Sambil pipis Arnold tergelak merasa lucu. Sementara Alesha pun mengukir senyumnya sambil mengigit buah apel itu.


Jam 10 malam, acara pernikahan itu usai, semua teman-teman mereka pulang. Kecuali Arnold dan Edward yang menginap di mansion.


Awalnya yang mau menginap hanya Edward, namun merasa canggung Edward pun mengajak Arnold juga.


Edward dan semua teman Azam dan Bella sudah saling berkenalan. Dalam waktu dekat mereka semua bisa akrab.


Dan di sinilah kini Edward dan Arnold duduk. Malam memang semakin larut, namun kedua pemuda ini masih belum juga terlelap. Mereka duduk di balkon kamar ruang tamu. Kamar yang isinya ada 3 ranjang.


"Harusnya kita tadi ajak Ben," ucap Arnold.


Edward mengangguk, tapi percuma saja pasti Ben tidak mau. Tadi Ben mengantar Fhia untuk pulang.


Hubungan Fhia dan Ben belum ada satupun orang yang tua, Fhia dan Ben masih main kucing-kucingan.


"Ku rasa kita memiliki nasib yang sama," ucap Arnold lagi seraya menyeduh kopi panasnya.


"Maksudmu?"


"Kita pernah sama-sama menyukai Bella tapi tetap tidak bisa menggantikan posisi pria brengsek itu," jawab Arnold.


Edward tergelak, setelahnya Arnold pun ikut tertawa keras. Membicarakan Azam sang sahabat brengseknya itu.


"Apa kita harus jadi pria brengsek juga agar mendapatkan kekasih?" tanya Arnold, dia lebih banyak bicara dibanding Edward.


"Tidak lah, cukup Azam yang brengsek."


Lagi, keduanya tergelak dengan kompak. Mereka seperti saudara yang sudah lama tidak bertemu. Sama-sama cocok saat mengumpat Azam.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Sayang, telingaku sakit," adu Azam pada sang istri.


Telinganya berdengung dengan sangat nyaring.


"Sini peluk, nanti sakitnya hilang," jawab Bella, ia menarik kepala sang suami untuk dibenamkannya dikedua gundukan sintal itu.


Dan benar kata Bella, sakitnya benar-benar hilang, seperti sebuah sulap kini sakit itu berganti jadi nikmat.