
Happy reading
...💕...
Jam 2 siang lebih 15 menit , Alesha sudah sampai di Cafe sang kekasih.
Dia masuk dengan riang kedalam Cafe itu juga tersenyum ramah kepada beberapa pelayan yang menyambut kedatangannya. Lalu tanpa canggung segera naik ke lantai 3 dan menuju ruangan sang kekasih.
Alesha mengetuk pintu itu sebanyak 3 kali selalu mendengar suara kekasihnya memintanya untuk segera masuk.
maka tanpa menunggu lama alesha Langsung memutar kenop pintu membukanya dan masuk ke dalam.
Disambut dengan sebuah senyuman hangat dari sang kekasih.
"Abang masih sibuk juga? memangnya Ada apa sih?" tanya Alesha, dia hendak duduk di hadapan Arnold tapi dengan cepat Arnold memerintahkan kepadanya untuk duduk di atas pangkuan.
Alesha pun menurut tanpa banyak berdebat, dia duduk di atas pangkuan Arnold dan melihat layar komputer yang menyala penuh dengan angka-angka.
Arnold lantas mendekap kekasihnya, melingkarkan kedua tangannya di perut sang kekasih. juga menyandarkan kepalanya di lengan Alesha, terasa begitu nyaman dan menenangkan.
Rasanya saat ini Arnold ingin waktu berhenti, ingin selamanya dia dan Alesha terus seperti ini, menghabiskan waktu bersama dengan saling memeluk erat. Menciumi aroma tubuh satu sama lain.
"Ini apasih bang, kok angka-angka semua."
"Baca laporan akhir tahun sayang, bedakan dari tahun kemarin, lalu dibuat kesimpulan, ada kenaikan keuntungan atau tidak. Semakin cepat selesai, segera bisa dibuat rencana program untuk tahun ini apa, biar cafenya laris manis, nggak kalah saing sama cafe cafe yang lain."
"Pasang aja foto abang di depan, pasti banyak cewek-cewek pada dateng."
"Rencananya sih gitu, tapi cewek yang satu ini cemburu atau tidak?"
Alesha mengulum senyumnya, tentu saja akan merasa cemburu apalagi calon tunangannya akan jadi konsumsi publik.
"Cemburu lah!" sahut Alesha dengan suaranya yang meninggi.
Arnold terkekeh, lalu memutar tubuh sang kekasih agar menghadap ke arahnya.
"Bagaimana kuliahmu? apa ada kesulitan?"
Alesha menggeleng.
"Tidak, semuanya lancar. Aku juga akan berusaha sebaik mungkin untuk bisa wisuda lebih cepat, nanti saat ada SP aku akan ikut."
Arnold tersenyum, dia memang ingin Alesha segera wisuda, tapi rasanya juga tak tega jika sampai gadisnya bekerja keras.
"Santai saja, nikmati waktumu semasa kuliah. Dulu saat aku kuliah juga aku santai-santai saja," balas Arnold, dia semakin mendekap erat tubuh sang kekasih.
"Kemarin aku menggebu ingin menikahimu karena aku takut kamu akan berpaling, sekarang aku yakin kamu tidak akan begitu. Aku percaya bahwa kamu juga akan menjaga hubungan kita," timpal Arnold lagi, dia lalu menjatuhkan kepalanya diatas dada Alesha, bersandar disana hingga mendengar detak jantung Alesha yang tak biasa, terdengar berdegup kencang.
Menyadari itu itu karena lantas tersenyum lebar.
Senyum yang juga diukir kan oleh Alesha setelah mendengar ucapan sang kekasih. Dia pikir hanya dia sendiri yang mencemaskan hubungan ini, dia pikir malah abang Arnold lah yang akan berpaling darinya.
Tapi ternyata dugaannya tak sepenuhnya benar, karena ternyata Arnold pon takut jika dia berpaling juga.
Masih dengan bibir yang tersenyum itu alesha lalu mengelus kepala sang kekasih dengan sayang, bahkan mencium pucuk kepala abang Arnold dengan malu-malu.
"Jangan hanya cium di kepala, bibir juga," pinta Arnold dengan mendongak.
Alesha mengulum bibirnya sejenak, lalu menjangkau bibir sang kekasih yang sudah sedikit terbuka.
Ciuman dalam itu berlangsung cukup lama. Seperti biasa, tangan Arnold tak pernah tinggal diam. Menjamah secara perlahan namun pasti. Hingga sampai di kedua dada yang masih berpenutup.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Abang kenapa? sepertinya dari tadi murung terus," tanya Agatha, kini dia dan abang Edward sudah sampai di mansion ayah Adam.
Tapi mereka belum turun, masih berada di dalam mobil. Rasanya berat sekali bagi Agatha untuk berpisah jika melihat raut wajah kekasihnya yang murung seperti itu.
Dia memang tidak peka dalam banyak hal namun sungguh Agatha adalah wanita yang penuh dengan perhatian.
"Tidak apa-apa, aku hanya benci karena setelah ini aku akan kembali ke Singapura. Aku benci perpisahan kita."
"Tapi kan nanti bisa ke sini lagi, setiap hari juga kita selalu bertukar kabar, kalau malam kita video call-an."
"Tapi aku tidak bisa memelukmu, melihat wajahmu secara langsung seperti ini." balas Edward seraya menatap pada sang kekasih, tatapan dalam penuh damba.
Dia ingin sekali kembali mencium bibir ranum itu sebagai tanda perpisahan, namun tak tahu lagi harus menggunakan alasan apa.
Dan Agatha yang mendengar kata-kata manis itu pun merasa tersanjung.
"Sama, aku juga tidak suka saat Abang kembali ke Singapura," cicit Agatha, Seraya memilin-milin jemarinya sendiri.
"Kamu tidak ingin menciumku sebelum aku pergi?" tanya Edward, dia ingin ciuman yang sesungguhnya, bukan ciuman tipu-tipu seperti yang selama ini dia lakukan.
Dan Agatha sungguh malu ditanya seperti itu. Rasanya lebih baik Abang Edward langsung menciumnya daripada harus bertanya terlebih dahulu.
namun belum sempat ciuman itu terlaksana kaca mobil mereka diketuk oleh seseorang dari luar.
Salah satu penjaga keamanan di keluarga Malik mengetuk kaca mobil itu takut terjadi sesuatu di dalam sana, karena sudah lama terparkir namun penghuninya tak juga keluar.
Dan Agatha pun menurunkan kaca jendelanya.
"Maaf Nona, apa ada sesuatu yang terjadi?" tanya penjaga keamanan itu setelah dia menundukkan kepalanya tanda hormat.
"Tidak Pak, aku hanya sedang berbicara dengan Abang Edward."
"Baik Nona, maafkan saya karena sudah mengganggu," jawab penjaga keamanan itu, setelah Agatha kembali menutup kaca jendelanya penjaga itu pun segera berlalu dari sana. Sedangkan Edward langsung membuang nafasnya pelan.
Sepertinya memang tidak akan ada ciuman perpisahan di antara mereka.
Tidak akan ada yang meleburkan rasa kecewanya setelah pagi tadi berbicara dengan Arnold melalui sambungan telepon.
Edward hanya mampu mengelus pucuk kepala sang kekasih, lalu mengatakan kepada Agatha untuk masuk ke dalam Mansion.
Dan diperlakukan seperti ini Agatha malah merasa ada yang kurang. Rasanya tidak lengkap jika tidak ada kecupan diantara mereka.
"Sebelum aku turun Abang tidak ingin mencium ku dulu?" tanya Agatha dengan raut wajahnya yang masam, cemberut.
"Kenapa tidak kamu saja yang menciumku," tampang Edward pula.
"Memang apa bedanya siapa yang mencium duluan? kan nanti bibirnya sama-sama ketemu," balas Agatha dan Edward kehabisan kata-katanya.
Agatha memang selalu bisa menjawab semua ucapannya. Bahkan terkadang mematahkan apa yang dia yakini. Sebuah Jawaban konyol yang membuatnya tak mampu menjawab lagi.
Lantas tanpa banyak berdebat lagi, Edward segera menarik tengkuk Agatha dan membenamkan sebuah ciuman dalam diatas bibir cerewet ini. melumaatnya hingga Agatha pun ikut membalas.
...💕...
Jangan lupa like dan komen ya 💕