
“Sayang, bangun!” ucap Haruka, satu tangannya memegangi selimut untuk menutupi tubuhnya yang polos, sementara tangan satunya yang lain menggoyang bahu sang suami.
Haruka lebih dulu bangun dan duduk, lalu membangunkan suaminya yang masih terlelap.
“Sayang! Bangun!!” ucap Haruka sekali lagi dengan menggoyangkan bahu Ryu lebih keras.
Dilihat olehnya Ryu yang mulai menggeliat, namun bukannya membuka mata, Ryu malah memeluk pinggangnya erat, menciumi pinggangnya yang polos dan kembali terlelap.
“Sayang, ini sudah jam 6 sore, bukannya kita sudah sepakat kepada semuanya untuk bertemu jam 4?” tanya Haruka, kini bukan hanya satu tangan ia memegangi selimut itu. Namun kedua tangannya sama-sama memegang di depan dada.
Ryu mendengar ucapan Haruka itu, namun ia terus terpejam dan mengukir senyum tipis. Malah kembali memeluk tubuh istrinya erat dan masuk ke dalam selimut.
Bersarang di bagian inti dan memainkan bibirnya di sana.
“Sayang!” pekik Haruka. Akhirnya ia menyerah, mengambil ponsel di atas nakas dan mengirim pesan singkat pada Azura.
Kami tidak bisa menyusul. Ucap Haruka dalam pesan singkat itu.
Ketika pesan sudah terkirim, tubuhnya pun kembali ambruk di atas ranjang.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Ting!
Sebuah pesan masuk ke ponsel Azura. Mereka kini semua sedang berada di sebuah cafe. Memesan ruang private yang cukup luas. Ponsel Azura yang berada di atas meja itu pun kemudian dilihat oleh Julian.
Membuka pola ponsel yang sudah begitu di hafal olehnya dan melihat ada pesan dari siapa.
“Haruka, katanya dia tidak bisa datang,” ucap Julian, matanya masih menatap layar ponsel itu dan memberi tahu pada semua temannya.
“Balas lah, katakan tidak apa-apa,” Azura yang menjawab dan Julian pun langsung membalas pesan itu persis seperti perintah sang kekasih.
“Pulang dari sini kalian mau kemana? Ke Singapura atau Indonesia?” tanya Arnold pada Azam dan Bella, suami istri yang diam-diam saling menggenggam di bawah meja ini lantas saling menoleh, seolah bertanya bagaimana baiknya, karena mereka pun belum menyepakati tentang ini.
“Kembali ke Indonesia,” jawab Azam, mewakili sang istri. Bella pun menganggukkan kepalanya setuju.
“Selain menemui semua keluarga, aku juga ingin ke makam almarhumah nenek Zahra. Aku ingin datang kesana bersama kalian semua,” jelas Azam lagi, yang seketika berhasil membuat suasana mendadak jadi haru.
Bukan apa-apa, namun selama ini Azam memang selalu datang seorang diri tiap kali mengunjungi makan sang nenek.
Dalam hatinya Azam terus berdoa agar suatu saat nanti mereka bisa datang kesana bersama keluarganya yang lain. Keluarga utuhnya, keluarga Malik dan para sahabat.
“Baiklah, setelah pulang dari sini kita berama-sama mengunjungi nenek,” putus Julian dan semua orang pun mengangguk.
Sementara Bella semakin menggenggam erat tangan sang suami di bawah meja. Sebuah genggaman yang membuat hati Azam menghangat.
“Setelahnya kalian kembali ke Singapura?” tanya Azura lagi, masih begitu penasaran dengan rencana kedua orang ini. Kedua orang yang baru saja berbaikan.
“Aku maunya kalian tetap tinggal di Indonesia,” timpal Azura sebelum Azam dan Bella menjawab.
“Aku masih ada beberapa pekerjaan di Singapura, sebelum kembali ke Indonesia aku harus menyelesaikan pekerjaanku itu dulu, apa sayang tidak keberatan?” jawab Bella sekaligus bertanya pada sang suami. Bella pun menoleh dan menatap kedua netra Azam yang juga menatapnya lekat.
Azam pun menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
“Aku akan menemanimu di Singapura, selesai urusan kita di sana, kita kembali ke Indonesia, ya?” balas Azam pula dan Bella menganggukkan kepalanya dengan antusias.
Semua teman-teman yang melihat itupun langsung tersenyum dan bernafas lega. Mereka sungguh takut jika Azam dan Bella kembali terlibat perdebatan karena kurangnya komunikasi.
Melihat keduanya yang sudah tak ego membuat mereka pun bisa bernafas dengan lega.
Azura dan Bella terus saling bergandengan dan memimpin jalan, sementara keempat pria itu melindungi dan terus mengikuti dari belakang.
Puas berkeliling akhirnya mereka berhenti di salah satu tenda dan memesan beberapa makanan.
“Kita belum mengambil foto,” ucap Azura, mencuri perhatian semua orang.
“Aku mau foto, tapi kamu di sampingku dan Bella di samping Ben,” jawab Arnold dengan wajahnya yang ketus.
Azura dan Bella langsung kompak mencebik, sementara Julian dan Azam hanya terkekeh saja di buatnya.
Mau tidak mau Azura dan Bella pun menuruti keinginan jomblo akut ini, daripada mereka tidak memiliki foto kenangan di Kyoto.
Sebuah kota yang menciptakan kenangan indah untuk mereka semua.
Beberapa foto sudah terambil, kini giliran Azura dan Bella yang mengambil foto mereka berdua. Sudah banyak mengambil potret tapi tetap tak puas-puas.
Sampai Arnold merebut ponsel mereka barulah kedua wanita ini menghentikan aksinya.
“Ayo makan, kalian tidak lihat ini pesanan sudah di atas meja,” ucap Arnold, mengingatkan. Entah kenapa Arnold dan Ben kini nampak lebih sensitif dibanding biasanya.
“Tanganku capek, apa aku boleh meminta Julian untuk menyuapiku?” tanya Azura, memelas dan manja.
Arnold langsung mendengus kesal, juga Ben yang langsung memberikan sumpit pada adik tuannya ini.
“Sumpit ini tidak berat, tidak akan membuatmu capek,” Ben yang menjawab.
Azura mencebik dan mulai makan sendiri.
Setelah makanan itu habis, Azura dan Bella ingin naik bianglala yang tak jauh dari mereka.
Mainan raksasa yang tingginya hampir bisa mencakar langit, memeluk senja dan bersinar ketika malam seperti ini.
Bianglala di sana cukup besar, bahkan bisa menampung 6 orang dewasa sekaligus. Seperti sebuah tabung yang bergerak perlahan dan membawa mereka terus naik hingga ke puncak.
“Apa kalian menyukainya?” tanya Julian pada Azura dan Bella, kedua wanita yang tengah asik menikmati pemandangan malam dari atas sini.
Gemerlap cahaya di bawah kaki mereka nampak begitu indah. Bahkan di atas kepala mereka pun bintang banyak mulai muncul.
“Sangat suka, andaikan setiap hari kita berlibur seperti ini,” jawab Azura, yang setiap harinya ia habiskan bekerja di MK sebagai manajer keuangan. Hanya berkutat dengan angka-angka, 1 sampai 10 yang membuatnya jenuh.
“Iya, aku juga sangat berharap kita terus seperti ini, selalu bersama,” balas Bella, ia dan Azura pun langsung saling memeluk erat.
“Mohon maaf, aku tidak mau selamanya seperti ini,” ucap Arnold yang tiba-tiba menyela.
“Suatu saat aku akan membawa seorang wanita untuk ku kenalkan pada kalian semua,” timpalnya lagi dengan yakin.
“Dan aku harap wanita itu bukan Agatha ataupun Alesha,” jawab Azam, membuat semua orang terkekeh, sementara Arnold hanya mendengus kesal.
“Kenapa? Sepertinya Agatha menyukaiku?”
Wleck!
Mereka semua kompak berlagak muntah. Makin membuat Arnold kesal. Malam itu Agatha jadi topik pembicaraan mereka.
Gadis yang masih menjalani pendidikan di salah satu universitas ternama di kota Jakarta.